Blogroll

Saturday, 11 June 2016

Laa Tahzan… #1



Salah satu cara Allah menghibur Nabi adalah dengan mengisahkan orang-orang terdahulu yang sama-sama pernah diberi ujian.
Bismillaahirrahmanirrahim,
Sedih. Kita pasti pernah bersedih, kan. Gundah gulana, muram durja, hati terasa gelap tak tahu harus berbuat apa.
Bahkan Rasulullah pun pernah bersedih.
Hanya saja kesedihan beliau shalallahu ‘alayhi wasallam berkutat pada urusan dien, agama Allah.

Wednesday, 27 April 2016

(repost) Untuk Keluarga


by : @salimafillah
Selalu ada waktu yang harus terluang untuk keluarga, yang tentang mereka Allah akan mempertanyakan kepemimpinan dan bimbingan kita. Waktu yang bermutu mensyaratkan jumlah tertentu yang harus disediakan demi menyusun rasa-rasa surga di dalam rumah dan keluarga. Betapa penting ini menjadi catatan, sebab telah tertulis amanah berat di dalam firmanNya:
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!” (QS At-Tahriim [66]: 6)
Hikmah dan nasehat, kabar gembira dan teguran, teladan dan pengarahan, serta kebijaksanaan dan ketulusan, pertama-tama menjadi hak mereka sebelum siapapun yang selainnya. Maka dalam tugas dakwah awalnya pun Sang Nabi diberi perintah untuk memberikan peringatan kepada handai taulannya yang terkarib.

Friday, 8 April 2016

Tulisan: Pengharapan Terbaik





Takut? Khawatir? Kecewa? Mungkin itu hal-hal yang sering kita pikirkan dan mungkin pernah terjadi dalam kehidupan kita. Iya, tepatnya ketika kita mengharapkan sesuatu hal yang ingin kita raih dan capai. Ada banyak hal yang mungkin kita perjuangkan, ada banyak cerita yang mungkin dicita-citakan. Ada banyak pula suka dan duka yang mewarnai. Entah berupa senyuman maupun airmata.
Pengharapan kita pada sesuatu hal, lakukanlah dengan semampu kita. Lakukan selama itu adalah untuk niat yang baik, untuk kebaikan. Ikhtiarkan dengan sebaik-baik ikhtiar dalam rangkaian-rangkaian doa dan usaha yang berterusan. Lalu, bertawakallah. Bertawakal dalam makna yang bukan berarti menyerah ataupun berputus asa.

Tuesday, 5 April 2016

"Ayah, Apakah Umar Telah Meninggal? "



Ketika istri membukakan pintu untukku, di waktu zhuhur siang ini, aku melihat dia menutup wajahnya. Aku bertanya: “apa yang terjadi?.”

“Si kecil.” Jawabnya pelan dan lirih.

Aku segera menuju kamar anak-anak. Aku mendapati si kecil menyendiri di atas ranjang. Aku memeluknya dan kembali mengulang pertanyaan kepada istri.

“Apa yang terjadi?”

Istri tidak menjawab. Aku meletakkan tanganku di kening si kecil. Tak ada tanda-tanda dia sakit.

“Apa yang terjadi?.” Aku kembali bertanya kepada istri.

Ternyata istri tak mau menjawab di hadapan si kecil. Aku mengajak istri menuju kamar kami.

Mulailah istri bercerita apa yang terjadi pada si kecil. Dan aku pun mengetahui apa yang terjadi setelah istri bercerita. Ternyata aku telah memahami cerita utuhnya tetapi istri hanya mengetahui sebagiannya saja.

Dan aku pun mengisahkan kepada istri apa yang tidak ia ketahui tentang si kecil.

Suatu ketika, saat itu, aku begitu ingin tidur bersama ketiga anak-anakku: Asma, Aisyah, dan si kecil. Aku sering kabur dari kamarku menuju kamar mereka dan merebahkan badanku yang tinggi di ranjang mereka.

Friday, 25 March 2016

ROMANTIS

“We do not see for those who love one another anything like marriage”
Kakak pernah berbagi cerita tentang pengalaman uniknya berkunjung ke sebuah klinik pengobatan di Bandung beberapa taun lalu. Klinik itu berisi sekumpulan ahli pijat yang terampil meredakan cedera akibat berolahraga atau berkendara. Banyak pesepakbola, yang menjadikan tempat ini sebagai “bengkel” otot dan tulang.
Malam itu, kakak mengantar teman perempuannya untuk mengecek nyeri di bagian bahu sehabis terjatuh keras. Terapis yang sedang kebagian jaga bernama Kang Tatang. Ia generasi kedua dari sang pendiri klinik yang telah malang melintang puluhan taun di dunia pijat memijat. Dengan kepribadiannya yang ramah, laki-laki berkumis lebat itu mencairkan suasana tegang dengan obrolan penuh canda.

Artikel : Lelaki Shalih Belum Tentu Menjadi Suami Shalih



Seorang wanita pastinya mengharapkan seorang lelaki shalih untuk menjadi suaminya. Hal ini tentu baik. Namun, ketika dia sudah mendapatkan seorang suami, apakah masih pantas dia membayangkan lelaki lain untuk menjadi suaminya, meski dengan alasan lelaki lain itu –menurut pandangan pribadinya – lebih baik dari suaminya? Kita khawatir perasaan seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mengalah pada takdirnya, setelah sebelumnya dia sudah berikhtiar.

Saya ingin menuliskan inti jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut di sini, untuk berbagi dengan yang lain. Semoga bermanfaat :

Nabi Muhammad, dalam hidupnya, juga sering menjadi tukang jodoh. Banyak riwayat yang menjelaskan hal itu, misalnya kisah perjodohan Julaibib dan lainnya. Nah, setelah mengamati apa yang dilakukan Nabi, berikut keterangan-keterangan dalam agama, kita sampai pada satu kesimpulan, ternyata dalam penilaian Nabi, lelaki shalih itu belum tentu menjadi suami shalih. Dengan ujaran lain, tidak semua lelaki baik, dapat menjadi suami yang baik!

Suami shalih, maknanya lebih luas dari pada lelaki shalih. Lelaki shalih adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah baik lahir maupun batin. Misalnya, ia selalu berjama’ah di masjid, perilaku dan tutur katanya islami, meninggalkan hal-hal yang haram. Namun, dalam memberikan penilaian tentang siapa lelaki shalih itu, yang bisa kita lakukan hanya dari sisi lahiriahnya.

Saturday, 12 March 2016

Dear my hijrah;


Dalam jalan hijrah yang aku pilih; selalu ada pilihan tuk bergegas maju atau mundur sejenak. Sebab diantara paradoks ragu dan pasti, kita harus berani memilih memperjuangkan atau merelakan; menerima atau melepaskan.
Dalam jalan hijrah yang aku pilih; kita mencoba menyapa tiap luahan cinta dengan kebaikan atau keburukan. Sebab dalam sebait aku dan kau, ada hadiah terindah dalam rindu dan suka yang bergejolak; doa misalnya.

Dalam jalan hijrah yang aku pilih; kita mendekapkan ukhuwah seperti sepatu yang kita pakai, yang tiap kaki memiliki ukurannya. Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti. Memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan. Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi; berkecukupan.
Dalam jalan hijrah yang aku pilih; setiap manusia tetaplah menjadi dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya. Sebab diantara takaran-takaran yang tak serupa, tugas kita adalah mengukur orang dengan pakaian mereka sendiri, bukan pakaian milik tokoh lain; apalagi kita.
Dalam jalan hijrah yang aku pilih; kita selalu menggelorakan amal shalih dalam kebertakjuban. Mencemburui tiap keshalihan dan berupaya menjadikannya baju milik sendiri. Karena lillah, tidak ada orang yang terlalu jelek untuk memulai berbuat baik. Pun tidak ada orang yang terlalu 'perfect' tuk berhenti dari berkebaikan. Jangan pernah merasa cukup karena telah sampai, tapi selalu merasalah 'sedang menuju kesana'; membentangkan mimpi dan capaian.
Dalam jalan hijrah yang aku pilih; kita tak perlu bercemas akan jodoh dan rizki yang tlah diatur pasti dalam Lauful Mahfuznya. Sebab mau diambil dari jalan halal ataupun haram, dapatnya yang itu juga, dapatnya segitu juga. Yang beda rasa berkah dan bahagianya. Maka berbahagialah orang yang berhasil mengikis haram dari prosesnya, tetapi mampu menampakkan bekas berkahnya berupa akhlaq mulia dan sedekah terbaik pada sesama; menumbuhkan dan memakmurkan.
Dalam jalan hijrah yang aku pilih; kita tak mungkin bisa membuat manusia bumi tunduk dan suka seluruhnya. Selalu ada yang benci tiap islam disemarakkan; Abu Jahal misalnya. Selalu ada yang menentang tiap ketaatan dinasionalkan; Fir'aun contohnya. Maka hidup bukan untuk menuruti apa kata manusia, tapi apa kata Allah; Inilah hijrah yang memukau.
Salam,
Erwin P. Pratama