Blogroll

Monday, 27 July 2015

IBARAT




Kalo kamu ketemu cewek muslim, terus kamu nanya “Kenapa belum menutup aurat?” dan dia bilang “Belum siap, akhlaqnya belum bener”

itu IBARAT kamu nanya

“Kenapa ga baca quran?” dan dijawab “Belum siap, belum bisa tilawah indah dan belum hapal 30 juz”

atau IBARAT kamu nanya

“Kenapa ga salat?” dan dijawab “Belum siap, masih belum bisa salat khusyu ampe nangis-nangis”

atau IBARAT kamu nanya

“Kenapa ga sedekah?” dan dijawab “Belum siap, belum punya perusahaan sendiri dan gaji puluhan juta”

atau IBARAT kamu nanya

“kenapa ga puasa?” dan dijawab “Belum siap, belum bisa puasa senin kamis, daud dan puasa lainnya”
——-

Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah, dan berusaha untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Dan untuk mencapainya, perlu proses, dari yang kecil untuk menjadi luar biasa.

Yang puasa sunahnya rajin juga waktu dulunya pernah tidak tamat 30 hari puasa ramadhan.

Yang sedekahnya besar juga waktu dulu sedekahnya dari receh-receh di sakunya.

Yang salatnya khusyu juga waktu dulu pernah ga hapal bacaan salat.

Yang tilawahnya bagus dan hapal 30 juz juga waktu dulunya juga belajar iqro jilid 1

Maka yang akhlaqnya bener juga, bisa dimulai dari mengerjakan sesuatu yang kecil.

Coba, lirik sehelai kain itu, yakinkan hati,  jika sudah yakin, kau gunakan tuk menutup apa yang memang berharga untukmu. Kalau belum yakin, biar kami saja yang pakai, namun sayang, kami laki-laki tak diperintahkan memakai hijab, karena perintah ini spesial, perintah dari tuhan ini hanya untuk kamu, para wanita wanita muslim, yang akan tuhan bukakan pintu syurganya :)


 via choqi-isyraq

Thursday, 23 July 2015

Untukmu, kaum Adam!


Aku cuek?
Ini caraku menjaga hati
Aku sombong?
Itu bukan sombong..hanya tak ingin berlebihan dalam berinteraksi dgn lelaki
Aku gak gaul?
Dirumah aku sudah mendapatkan banyak perhatian, mengapa aku harus berlebih-lebihan didepan umum?
Aku sulit diajak bicara?
Masa sih?
Karena lelaki yang baik menggunakan cara yg anggun untuk berbicara dengan perempuan.
Aku gak mau diajak pacaran?
Itulah aku! Kehormatanku tidak mau kuumbar dan kujual hanya demi lelaki yg belum halal untukku!
Aku ketinggalan jaman?
Aku tidak peduli!
Aku tidak takut jika orang-orang meninggalkanku. Aku takut jika Allah berpaling dariku dan meninggalkanku.
Aku sok alim?
Lho! Karena aku bangga sebagai seorang muslimah! Masalah buat kamu? Hidupku bukan untuk menyenangkan hatimu!
Terserah orang mau berkata apa. Aku seperti ini karena aku tahu bahwa Allah sudah memuliakan perempuan dengan cara yg indah. Karena agamaku punya cara sendiri untuk meninggikan martabat perempuan.
Jika kamu tidak suka cara dan sikapku, silahkan pergi dari aku. Lelaki yang baik pasti akan mengerti maksudku.
Dan aku hanya ingin taat kepada Pemilik Hatiku, Allah.
Jika yakin akan janji Allah, mengapa harus gelisah?
Yang perlu kulakukan hanya taat.
Dan kamu, hai lelaki, aku tak meminta pengertianmu, pun tidak mengemis perhatianmu, aku hanya ingin kau menghormati aku dan kaum hawa yang lain, bahwa kami sedang menjaga diri dan menjaga hati.
Terimakasih.
Dan untuk seseorang disana.. yg namanya sudah tertulis untukku.. jaga diri baik-baik, aku pun disini sedang menjaga, insyaallah.
Minta selalu kepada Allah Sang Pemilik Hati. Sampai bertemu suatu saat nanti, insyaallah. Aku ada, insyaallah.
Nur Anisa
19 Juli 2015

Wednesday, 8 July 2015

Memperjuangkan Seseorang


Memperjuangkan seseorang itu bukan sekedar memperjuangkan hatinya, tetapi lebih dari itu. 
Memperjuangkan seseorang itu, tentang mengusahakan sesuatu yang lebih dalam. Memperjuangkan seseorang itu, tentang mengusahakan kebersamaan di dunia, serta kehidupan setelahnya agar jadi nyata. 
Ia adalah tentang kesediaan mengambil tanggung jawab, serta kelapangan pada senyum yang hangat dalam mengingatkan yang baik.
Memperjuangkan seseorang itu, adalah upaya. Upaya yang sungguh untuk mendewasa. Tanpa lupa menertawakan hal-hal kecil yang konyol serta bodoh. Sebab tawa adalah perekat. Ia sebagian dari sejuta macam cara untuk saling menemukan hati satu sama lain dalam rasa masing-masing. 
Memperjuangkan seseorang adalah tentang dada yang luas dalam meminta maaf, dalam pernyataan yang jujur atas ketidak mampuan akan sesuatu. Dan memperjuangkan seseorang, adalah juga tentang menerima keadaan satu sama lain. Dengan penuturan yang tulus. Dengan menyeka air mata yang meleleh. Untuk kemudian membesarkan hatinya, bahwa kita akan tumbuh dan melangkah bersama. Dengan menggenggam erat syukur dan sabar. Atas apapun. Hari ini, esok, ataupun nanti.
Achmad Lutfi
Wolfsburg, 07.06.2015

Dengan apa kita saingi mereka?


Oleh : Irsyad Syafar
Betapa beruntungnya orang-orang yang tinggal di sekitar Masjid Nabawi. Setiap waktu shalat, mereka bisa shalat berjamaah di masjid tersebut. Satu kali shalat saja mereka
berjamaah di situ, lebih baik
dari 1000 shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram tentunya. Kita butuh shalat berjamaah tiada putus selama 200 hari atau enam setengah bulan lebih untuk menyamai pahala satu kali shalat mereka tersebut.
Rasulullah saw bersabda:
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺻَﻼَﺓٌ
ﻓِﻰ ﻣَﺴْﺠِﺪِﻯ ﻫَﺬَﺍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺻَﻼَﺓٍ
- ﺃَﻭْ ﻛَﺄَﻟْﻒِ ﺻَﻼَﺓٍ - ﻓِﻴﻤَﺎ ﺳِﻮَﺍﻩُ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺟِﺪِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ .»
ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡَ
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat - atau seperti seribu shalat – di masjid- masjid tempat lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR.
Muslim)
Kemudian mereka datang shalat ke masjid nabawi dengan berjalan kaki. Karena akses mobil tidak ada ke depan pintu masjid. Rata rata mereka berjalan kaki setiap kali shalat tidak kurang dari 500 - 1000 langkah pergi dan 500 - 1000 langkah pulang. Ada yang lebih dari itu, bisa mencapai 2000 langkah. Maka sebanyak langkah kaki mereka itu, salah satunya Allah angkatkan derjat dan yang lainnya Allah hapuskan dosa mereka. Itu baru satu kali shalat. Bila 5 kali shalat tentunya angkanya akan berlipat ganda.Kalikanlah dalam sepekan atau sebulan.
Rasulullah saw bersabda:
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ ‏« ﻣَﻦْ ﺗَﻄَﻬَّﺮَ
ﻓِﻰ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﺛُﻢَّ ﻣَﺸَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻴْﺖٍ ﻣِﻦْ
ﺑُﻴُﻮﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟِﻴَﻘْﻀِﻰَ ﻓَﺮِﻳﻀَﺔً ﻣِﻦْ ﻓَﺮَﺍﺋِﺾِ
ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺧَﻄْﻮَﺗَﺎﻩُ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻤَﺎ ﺗَﺤُﻂُّ
ﺧَﻄِﻴﺌَﺔً ﻭَﺍﻷُﺧْﺮَﻯ .ًﺔَﺟَﺭَﺩ ُﻊَﻓْﺮَﺗ ‏( )ﻣﺴﻠﻢ
ﺭﻭﺍﻩ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang berwudhuk di rumahnya, kemudian ia berjalan ke salah satu rumah Allah untuk menunaikan shalat fardhu, maka langkah kedua kakinya, salah satu menghapuskan dosa dan yang lain menaikkan derjat.” (HR Ibnu hibban di
shahihkan oleh Albany).
Lalu mereka juga sangat sering mendapatkan shalat jenazah setiap kali shalat berjamaah.
Bahkan kadang lebih dari satu jenazah dalam satu kali shalat. Maka mereka mendapatkan pahala sebesar bukit uhud setiap kali menshalatkan jenazah. Bila tiap hari sampai 3 – 5 kali shalat jenazah, tentu pahala dalam sebulan dan setahun juga tidak terhingga.
Rasulullah saw bersabda:
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻰ
ﺟَﻨَﺎﺯَﺓٍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘْﺒَﻌْﻬَﺎ ﻓَﻠَﻪُ ﻗِﻴﺮَﺍﻁٌ ﻓَﺈِﻥْ
ﺗَﺒِﻌَﻬَﺎ ﻓَﻠَﻪُ ﻗِﻴﺮَﺍﻃَﺎﻥِ ‏». ﻗِﻴﻞَ ﻭَﻣَﺎ
ﺍﻟْﻘِﻴﺮَﺍﻃَﺎﻥِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺃَﺻْﻐَﺮُﻫُﻤَﺎ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺣُﺪٍ
‏» . ‏(ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ )
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, bersabda: “Barang siapa yang menshalatkan jenazah dan tidak mengantarkannya (ke kuburan), maka ia mendapat satu qiirath. Jika ia ikut mengantarkan jenazah tersebut, maka ia mendapat 2 qiirath. Ditanyakan kepada Rasulullah: “Apa itu 2 qiirath?”. Rasulullah menjawab: “Qirath yang paling kecil itu seperti bukit uhud”. (HR Muslim)
Kemudian bila mereka shalat di Masjid Nabawi, mereka juga berkesempatan untuk shalat atau berdoa di salah satu taman- taman sorga, yaitu tempat yang bernama raudhah. Tempat antara rumah (kubur) Rasulullah saw dengan mimbar Beliau.
Rasululllah telah bersabda:
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑْﻦِ ﺯَﻳْﺪٍ ﺍﻟْﻤَﺎﺯِﻧِﻲِّ ، ﺭَﺿِﻲَ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺑَﻴْﺘِﻲ
ﻭَﻣِﻨْﺒَﺮِﻱ ﺭَﻭْﺿَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺭِﻳَﺎﺽِ .ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ ‏(ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ )
Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Al Mazinni ra, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman dari taman-taman sorga.” (HR Bukhari dan Muslim).
Imam Nawawi, menyebutkan dalam keterangannya terhadap hadits ini bahwa shalat atau ibadah di tempat tersebut dapat mengantarkan ke sorga. Pernyataan Imam Nawawi ini tentunya dengan makna yang lebih khusus, sebab semua ibadah pastilah mengantarkan ke sorga. Pengkhususan raudhah oleh Rasulullah saw tentunya mengandung makna kemuliaan dan keagungan. Bila setiap hari fasilitas ini dapat dinikmati sekali saja dari lima waktu shalat, tentunya kemulian semakin banyak bila berlangsung rutin sepanjang bulan dan tahun.
Disamping itu mereka bisa juga setiap waktu shalat menziarahi kubur Rasululllah saw dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta juga bisa langsung mengucapkan salam kepada Rasulullah dan kedua manusia
mulia tersebut.
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ
ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﻋَﻠَﻰَّ ﺇِﻻَّ ﺭَﺩَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰَّ ﺭُﻭﺣِﻰ
ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺭُﺩَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡَ ‏(ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ
ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ )
Artinya: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasululllah saw telah bersabda: “Tidak ada seorangpun mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku , sehingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syekh Albany).
Hadits ini berlaku bagi semua yang mengucapkan salam kepada Rasulullah saw di mana saja berada. Namun menyampaikan dan mengucapkan salam langsung di depan kuburan Beliau tentu menjadi suasana dan nuansa lain. 
Disamping keutamaan di atas, masih banyak lagi sampingan-sampingan amal shaleh yang bisa diraih.
Sebelum memasuki pagar Masjid Nabawi, banyak orang yang menjual mushaf Al Quran waqaf. Ada yang harga 20 real dan ada yang 40 real. Silakan beli mushaf tersebut, lalu akan diberi stempel waqaf lillah. Lalu letakkanlah mushaf itu di dalam rak Al Quran di Masjid Nabawi. Sepanjang tahun jutaan orang yang umrah dan haji akan membaca mushaf waqaf tersebut. Maka pahalanya akan mengalir tak pernah henti. Begitu banyaknya kemulian yang Allah berikan bagi orang yang ada disekitar Masjid Nabawi. Tak mudah menyainginya. Apalagi kalau yang berada dekat dengan Masjidil Haram. Shalat di sana lebih baik atau sama dengan 100.000 shalat di tempat lain. Untuk mengimbangi satu kali shalat berjamaah saja butuh 20.000 hari shalat berjamaah di tempat lain atau 54 tahun lebih. Bagaimana untuk menyaingi sepekan shalat mereka? Mereka bisa thawaf tiap hari, berdoa di multazam, shalat di belakang maqam Ibrahim dan di dalam hijir Ismail dan lain sebagainya. Maka tidak ada pilihan bagi kita yang berada jauh dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kita harus melipatgandakan amal shaleh kita. Menjaga shalat berjamaah di masjid, memperbanyak ibadah sunnah, berinfaq, peduli kepada sesama, giat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan memperbanyak taubat serta meminimalisir dosa dan maksiat. Bila tidak, dengan apa akan kita saingi mereka untuk meraih sorga Allah? Wallahu A’laa wa A’lam…

Kritik dan Baik Sangka


(1) Kita tidak bisa membaca hati manusia, apalagi hanya dari dunia maya.
(2) Belum tentu orang yang menuliskan rutinitas amalnya adalah riya’. Bisa jadi ia berniat menyemangati kawannya.
(3) Belum tentu orang yang mengabarkan rizqi yang diterimanya adalah berbangga-bangga dengan harta. Bisa jadi, ia ingin mensyiarkan syukur atas karunia-Nya.
(4) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(5) Mereka yang menuliskan pengalamannya di socialmedia, belum tentu ingin menjadi selebritis dunia maya. Bisa jadi ada inspirasi yang hendak dibagikannya.
(6) Mereka yang mengabarkan sedang mengisi kultum entah di mana, belum tentu ingin dipuji amal dakwahnya. Bisa jadi ia ingin memberi harapan pada rekannya, bahwa di sana dakwah masih menyala.
(7) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(8) Mereka yang menyampaikan secuplik ilmu yang diketahuinya, belum tentu ingin diakui banyak ilmunya. Bisa jadi ia terpanggil untuk menyampaikan sedikit yang ia punya.
(9) Mereka yang gemar mengkritisi kekeliruan yang dilihatnya, belum tentu merasa dirinya paling benar sedunia. Bisa jadi, itu karena ia sungguh mencintai saudaranya.
(10) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(11) Mereka yang gemar menuliskan apapun yang dipikirkannya, belum tentu ingin diakui sebagai perenung berwibawa. Bisa jadi, ia adalah pelupa, dan mudah ingat dengan membagikannya.
(12) Mereka yang selalu merespon apa yang dilihatnya, belum tentu ingin eksis di dunia maya. Bisa jadi ia memang senang berbagi yang dia punya.
(13) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(14) Tapi baik sangka, tak berarti membiarkan kawan-kawan melakukan sesuatu yang nampak keliru di mata kita.
(15) Baik sangka, harus disertai dengan saling mengingatkan agar tidak tergelincir niatnya, agar tidak terhapus pahala amalnya.
(16) Isi hati adalah misteri. Namun apa yang nampak keliru di mata kita, di situlah tugas kia untuk meluruskannya.
(17) Baik sangka itu menentramkan.
Namun, saling mengingatkan juga
merupakan kebutuhan.
(18) Baik sangka itu indah, tapi bukan
berarti membiarkan saudara terlihat
salah.
(19) Baik sangka, dan nasihat-nasihati adalah kewajiban sesama muslim.
(20) Semoga kita bisa senantiasa belajar bersama.
Mari berbaik sangka

pursof 

Quranmu Cermin Hatimu


Kualitas AlQur'an kita, baik kualitas hafalan ataupun frekuensi interaksi kita dengan Al-Qur'an bisa menjadi cermin atas kondisi hati kita.
Sebagaimana yang sahabat Utsman bin Affan R.A katakan, “Jika hati kalian bersih niscaya kalian tidak akan pernah bosan membaca Al-Qur'an.“
Ketika hafalan tak terjaga, bisa jadi demikian juga dengan hati kita yang tak terjaga.
Saat sedikit sekali waktu yang tersempatkan untuk AlQur'an, bisa jadi demikian juga dengan hati kita, barangkali ia juga tak sempat mengingat Allah.
Maka periksa seberapa dekat interaksi kita dengan Al-Qur'an hari ini.
Periksa juga kualitas ayat, surat, juz yang telah dihafal.
Periksa berapa kali hafalan kita tergelincir, salah tempat, serta hitung berapa kali kesalahan dari ayat-ayat yang telah terlupa.
Jika banyak salah dan lupanya, tentu ada yang salah dengan hati kita.

[Renungan] #Syukur


Mari mulai pagi ini dengan bersyukur kepada Tuhan kita dengan lisan kita dan seluruh perasaan kita.
Ada orang merasa miskin ketika tabungannya dibawah 1 Milyar, tapi ada orang yang merasa kaya hanya karena tabungannya melewati angka 10 juta.
Ada orang yang masih merasa susah, padahal gajinya di atas 20 juta, tapi ada yang merasa bahagia hanya karena gajinya naik 45 ribu saja.

Ada orang yang merasa bajunya itu-itu saja, padahal koleksi baju di lemarinya lebih dari 70, sementara ada yg merasa ingin berbagi baju dengan yang lain, padahal koleksinya hanya 8 baju.
Ada orang yang tidak berbagi karena merasa semua kekayaannya adalah jerih payahnya, sementara ada tukang becak yang mem-free-kan ongkos setiap Jum’at.
Ada orang yang tidak pernah merasa cukup dengan satu rumah tinggal dan satu lagi rumah untuk istirahat akhir pekan, sementara ada yang bahagia dan merasa nyaman saat mampu membayar kontrakannya bulan itu.
Ada orang resah ketika nilai harga saham yang dia pegang turun 1%, sementara ada yang bahagia ketika yang didapat hari ini cukup untuk dagang besok.

Ada orang bermobil seharga ratusan juta berqurban kambing seharga 2 juta, ada orang berhonda Supra X berqurban kambing 3,6 juta..
Sebenarnya tidak harus selalu dipertentangkan, karena ada pula orang mampu yang pandai bersyukur dan orang miskin yang kufur nikmat.
#Syukur adalah pekerjaan hati, dilanjutan lisan dan amalan pembuktian. Semua orang bisa bersyukur, bisa pula kufur nikmat, tapi alangkah indahnya jika si kaya pandai bersyukur dan si miskin juga pandai bersyukur dengan caranya masing-masing.

Semua agama pasti mengajarkan semua pemeluknya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan semua agama membenci kekikiran, saya yakin itu.
Kata Gandi, dunia ini cukup untuk semua orang, tapi tak cukup untuk satu orang rakus. Itu semua tentang syukur dan berbagi.

Dalam Islam diajarkan do’a,” Allohumma a-inna ‘ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatika”, dibaca setiap selesai sholat, 5 kali sehari seharusnya. Artinya, “Ya Allah bantulah aku dalam mengingat-Mu, bantulah untuk mampu bersyukur atas semua nikmat-Mu, dan bantu dalam memperbaiki ibadah kami kepada-Mu”
Selamat menjadi hamba yang pandai bersyukur, berbahagialah saat mampu membahagiakan orang lain.

-Pak Banu Muhammad-