Blogroll

Thursday, 7 May 2015

catatan : Pantaskah Aku?


Pantaskah hati bahagia, jika hobinya buat orang bersedih?
Pantaskah diri dipuji, padahal lisan gemar mencaci?
Pantaskah jiwa menemukan jodoh terbaik, sedang dia enggan perbaiki diri?
Kawan, semua perbuatan orang lain terhadap diri, hakikatnya adalah balasan dari tingkah laku diri pada orang lain.
Balasan tak mesti dari orang yang sama, misal;
Seorang gadis yang lukai hati ibu demi pasangan, biasanya luka itu akan berbalas degnan pasangan yang berhianat.
Karena ibu tak akan tega membalas, dan jika balasannya datang dari ibu, sakitnya tak akan sama.
Intinya, pantaskan saja diri. Jika diri pantas bahagia, dipuji, disetiai, maka perbuatan buruk orang lain tidak berpengaruh apa-apa :)
Teruslah berbuat baik, karena tidak ada perbuatan baik yang sia-sia, sekecil apapun itu.
“Dan barangsiapa berbuat kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)” (Qs. Az- Zalzalah: 8)

Via Sen @SenyumSyukur ^^

Fear


  • Kafka :Bunda, aku males jadinya ke kampus..
  • Bunda :Kok?
  • Kafka :Makin hari rasanya makin banyak aja perempuan yang auratnya kemana mana..
  • Bunda :...
  • Kafka :Risih, Bun.. Susah aku mesti jaga pandangan ke arah mana lagi.. Kiri ada, Kanan lebih dahsyat, di depan apalagi, di belakang luar biasa. Aku mesti liat kemana? Ke langit? Tar malah nabrak mereka.
  • Bunda :Kasian kamu nak..
  • Kafka :Aku pengen nyaman di kampus, Bun..
  • Bunda :Dunia ini gak akan pernah nyaman bagi orang mukmin sayang. It is okay kalo kamu merasa tidak nyaman, tandanya boleh jadi masih ada iman di hati kamu..
  • Kafka :Trus aku mesti apa? Sedih..
  • Bunda :Tiap kali kamu susah menundukkan pandangan dan pikiran, ingat : Fear Allah, and read the Quran, dear.

Wednesday, 6 May 2015

Cara Pembayaran Fidyah Puasa


Para ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah sepakat bahwa fidyah dalam puasa dikenai pada orang yang tidak mampu menunaikan qodho’ puasa. Hal ini berlaku pada orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit dan sakitnya tidak kunjung sembuh. Pensyariatan fidyah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,    
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah: 184).[1]
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,
هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”.[2]
Jenis dan Kadar Fidyah
Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa kadar fidyah adalah 1 mud bagi setiap hari tidak berpuasa. Ini juga yang dipilih oleh Thowus, Sa’id bin Jubair, Ats Tsauri dan Al Auza’i. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho’ kurma, atau 1 sho’ sya’ir (gandum) atau ½ sho’ hinthoh (biji gandum). Ini dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan dan nantinya diberi makan untuk orang miskin.[3]
Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan”.[4]
Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz[5], Syaikh Sholih Al Fauzan[6] dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa Saudi Arabia)[7] mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho’ dari makanan pokok di negeri masing-masing (baik dengan kurma, beras dan lainnya). Mereka mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Ukuran 1 sho’ sama dengan 4 mud. Satu sho’ kira-kira 3 kg. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg.
Yang lebih tepat dalam masalah ini adalah dikembalikan pada ‘urf (kebiasaan yang lazim). Maka kita dianggap telah sah membayar fidyah jika telah memberi makan kepada satu orang miskin untuk satu hari yang kita tinggalkan.[8]
Fidyah Tidak Boleh Diganti Uang
Perlu diketahui bahwa tidak boleh fidyah yang diwajibkan bagi orang yang berat berpuasa diganti dengan uang yang senilai dengan makanan karena dalam ayat dengan tegas dikatakan harus dengan makanan. Allah Ta’ala berfirman,
فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.”
Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah tersebut. Kadarnya adalah setengah sho’ dari makanan pokok yang ada yang dikeluarkan bagi setiap hari yang ditinggalkan. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg. Jadi, tetap harus menyerahkan berupa makanan sebagaimana ukuran yang kami sebut. Sehingga sama sekali tidak boleh dengan uang. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.” Dalam ayat ini sangat jelas memerintah dengan makanan.”[9]
Cara Pembayaran Fidyah
Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara,
  1. Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja (dan tidak sanggup berpuasa)[10].
  2. Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk.[11]
Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari.[12] Al Mawardi mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”[13]
Waktu Pembayaran Fidyah
Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua[14].
Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadhan. Misalnya: Ada orang yang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya, kemudian ketika bulan Sya’ban telah datang, dia sudah lebih dahulu membayar fidyah. Maka yang seperti ini tidak diperbolehkan. Ia harus menunggu sampai bulan Ramadhan benar-benar telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga atau bisa ditumpuk di akhir Ramadhan.[15]
Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Diselesaikan di Panggang-GK, Senin 30 Rajab 1431 H (12/07/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Proses Kehidupan

Kekuatan selalu ada saat kita ikhlas. Saat kita dipandang sebelah mata oleh teman dan lingkungan sekitar, saat kita merasa diasingkan, saat kita dikritik habis-habisan, saat kita ditolak oleh perusahaan atau seseorang misalnya, sesungguhnya saat itu kita sedang menjalani cara menjadi diri yang mengerti. Karena belajar itu bukan hanya dari buku-buku tetapi juga bisa dari kehidupan. Belajar sesuatu dari setiap masalah yang dihadapi, sesungguhnya setiap kali selesai disakiti itu adalah ajang terbaik untuk bertambah mengerti.
Proses pematangan diri memang tidak enak. Tetapi bila sudah matang, hidup benar-benar terasa enteng karena kebijaksanaan terbukti sangat memudahkan hidup. Orang yang bijaksana tidak akan pernah sakit hati sebab dia mengerti. Kemampuan dirimu dalam menerima kenyataan adalah satu satu indikator dari pengertianmu.
Terus, bagaimana cara kita memaknai kekecewaan ?
Jujur.. setelah dipikir-pikir, sebetulnya kita tidak pernah kecewa kepada siapa pun. Kita hanya kecewa pada harapan yang kita bangun sendiri terhadap orang itu. Kecewa adalah perasaan ketika kita belum ikhlas, belum tulus dan belum kuat menerima kenyataan yang tidak enak. Kekecewaan pada orang lain adalah ilusi karena tidak mengerti landasan orang lain melakukan hal yang kita anggap mengecewakan itu.
Bagaimana dengan penolakan ?
Saat kita ditolak ingatlah masih banyak sekali orang yang tahu betapa berharganya diri kita. Selalu ingatlah bahwa penolakan itu harus terjadi. Mengapa begitu ? karena kita tidak bisa menyalahkan orang yang menolak kita karena dia hanya dipakai Tuhan untuk menolak kita. Karena kalau tidak lewat dia atau siapapun nantinya juga akan tetap lewat orang lain. Jadi jangan sebel dan kesel ya :)
Yang perlu diperhatikan adalah tujuannya. Tujuan dari adanya penolakan tersebut. Mungkin hal tersebut datang agar kita bisa menjadi pribadi yang matang, karena mungkin juga suatu saat kita akan dipakai Tuhan untuk menolak orang lain dan untuk membentuk orang lain. So kita harus punya mindset atau pemikiran yang benar ya tentang penolakan. Semakin ditolak justru semakin bersyukur. 
Bagaimana dengan kritik ? Sakitkah ?
Sakit hati adalah ilusi dari ketidakmengertian. Sungguh, kesiapan mental untuk menerima kritik menentukan seberapa kuat kita dalam menjalani hidup ini. Tujuannya untuk menyampaikan upaya perbaikan kepada seseorang. Pada akhirnya kritik tidak boleh menyentuh kebahagiaan dan kesuksesan kita secara negatif. Kita harus punya kemampuan untuk membungkus ulang rasa “pedas” dan “sakit” menjadi suatu masukan yang membangun. Ingat, orang besar adalah orang yang sanggup berterima kasih kepada pengkritiknya. 
Bagaimana dengan hinaan ?
tenang, takdirmu Sukses, ini sudah hukum alam (menurutku). Titik kesadaran membuat semua “rasa” menjadi terevaluasi. Dulu saat kita kecewa terhadap seseorang bisa saja hari ini kita justru berterima kasih kepada orang tersebut.
Bahwa kita sedang diproses, sedang diproses atau akan diproses oleh Tuhan adalah sesuatu yang pasti. Kita tidak dapat menolak atau mengelak dari “blueprint” ini. Jangan merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang sengaja dipinjam Tuhan untuk menjadi alat atau faktor pengubah atau pemproses kehidupan kita. Bila kita membenci mereka sama saja seperti membenci proses pembentukan yang kan menyempurnakan kita.
Jadi jangan lari.. mari nikmati proses kehidupan ini :)
Via (Ikrom Islami Ardiawan)

Sunday, 26 April 2015

Tulisan: Musyawarah


Kita tak akan pernah mengetahui bagaimana takdir kita pada akhirnya di masa depan nanti. Tapi kita bisa mengusahakan segala hal yang kita harapkan, sekalipun pada akhirnya ada dalam suatu masa Tuhan belum menjawab doa serta harapan kita, sekalipun dalam suatu waktu Tuhan belum berkehendak memberikannya, bahkan mungkin sekalipun di suatu hari nanti Tuhan mengalihkan tiap harap kita dengan sesuatu hal yang bukan atas harapan kita. Percayalah, Tuhan punya skenario terindah dalam tiap lantunan langkah kaki kita.
Kita terkadang mungkin mengharapkan banyak hal, kita bahkan terkadang menerka-nerka tiap ketetapanNya. Sungguh, Tuhan Maha Mengetahui, kita tak pernah mengetahui apa pun. Terkadang kita saja yang suka sok tahu.
Musyawarah…
Dalam setiap zona perjalanan, kita akan menemukan musyawarah. Dimana kita akan disudutkan pada suatu keputusan antara keinginan, harapan, takdir Tuhan, pun segala sesuatu yang tanpa ketidaktahuan kita.
Musyawarah adalah sesuatu yang terpenting dalam kehidupan kita, sebab Tuhan telah menciptakan manusia dengan segala indra. Bukan hanya indra pengecap bernama lidah, bukan hanya indra pendengar bernama telinga, bukan hanya indra pencium bernama hidung, dan bukan hanya indra perasa bernama kulit. Namun kita diberikanNya hati dan otak. Sebuah organ yang sangat penting yang berada dalam tubuh kita. Organ yang mengendalikan setiap langkah kaki kita.
Jika nanti kita menemukan kesulitan untuk melangkahkan keputusan kita, maka bermusyawarahlah. Bermusyawarah, bermusyawarah dengan ibu dan ayah kita misalnya. Namun, tidak hanya bermusyawah dengan manusia saja, tetapi juga dengan Tuhan kita. Bukalah hati dan yakinkan bahwa segala ketetapan Tuhan adalah ketetapan yang terbaik bagi kita. Ikuti kemana hati kecil kita berbisik, ikuti dimana keberkahan itu berada, ikuti kemana langkah hati kita merasakan ketenangan…
Dan kita akan menemukan jawaban itu, jawaban keputusan akan kehidupan kita dimasa depan…
Fikratus Sofa Muzakkiya

Tulisan: Aku Pinjam


Jalan yang saat ini aku tempuh dan tengah aku lalui, sungguh hanya aku pinjam…
Segala hal yang aku dapatkan dan aku miliki pun, sungguh hanya aku pinjam…
Segala rasa yang ada di dalam jiwa, sungguh hanya aku pinjam…
Setiap orang yang singgah dalam kehidupanku, sungguh hanya aku pinjam…
Setiap detik waktu dan setiap denyut nadi ini, sungguh hanya aku pinjam…
Bahkan segala hal yang ada pada diriku, bukan milikku. Sungguh hanya aku pinjam…
Maka wahai Tuhan, ijinkan jalan yang aku pinjam aku lalui dengan kebaikan…
Maka wahai Tuhan, ijinkan segala milik yang aku pinjam aku gunakan dalam kebaikan…
Maka wahai Tuhan, ijinkan segala rasa yang aku pinjam aku jaga dalam kebaikan…
Maka wahai Tuhan, ijinkan setiap kehadiran orang lain yang aku pinjam aku berikan kebaikan…
Maka wahai Tuhan, ijinkan detik dan denyut nadi yang aku pinjam aku manfaatkan dalam kebaikan…
Dan sungguh segala hal ini sungguh-sungguh aku pinjam. Karena itu aku mohon naungi hatiku dengan cahayaMu…
Karena itu, ijinkan aku mengembalikan segala hal ini padaMu sesuai perjanjian dan izinMu dalam keaadaan khusnul khatimah…
Ku harap Engkau Memberkati…

Fikratus Sofa Muzakkiya

Tulisan: Keajaiban Doa Orang Tua untuk Anaknya


“Anakmu pintar sekali ya. Masih kecil tapi rajin ke masjid ikut shalat jamaah. Antum mengajaknya tiap hari?” kata seorang ikhwan kepada temannya sesama kader dakwah.
“Alhamdulillah, dia berangkat sendiri tanpa disuruh.”
“Hebat. Gimana tipsnya?”
“Wallahu a’lam. Ana nggak merasa ada tips khusus. Hanya saja, sejak sebelum menikah aku selalu berdoa: Rabbij’alni muqimash shalati wa min dzurriyati, rabbana wa taqabbal du’a’.”
Masya Allah… Doa yang dimaksud ikhwan tersebut adalah
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dan anak cucu kami orang-orang yang tetap mendirikan sholata. Ya Tuhan kami, perkenankan doa kami.” (Q.S. Ibrahim: 40)
***
“Dulu waktu masih SMA, ia jarang pulang. Ikut genk yang nggak jelas. Shalatnya juga malas,” seorang ibu bercerita tentang anaknya yang kini telah menikah, “Lalu aku berdoa setiap selesai shalat fardhu dan shalat malam. Agar ia jadi anak yang shalih”
Setelah sekian lama mendawamkan doa, keajaiban mulai terlihat.
“Dini hari itu, setelah tahajud dan berdoa aku tertidur,” lanjut ibu itu, “aku bermimpi tubuh anakku dipenuhi ulat. Lalu aku mengambilnya satu per satu.”
Tak lama setelah mimpi itu, sang anak perlahan berubah. Sedikit demi sedikit ia menjaga jarak dengan genk-nya. Jika tak ada perlu ia berada di rumah, belajar. Di bangku kuliah, akhlaknya kian membaik, shalat lima waktu dipenuhinya dan ia meraih 10 besar IPK di fakultasnya.
***
Saudaraku, kadang sebagai orang tua kita melupakan senjata utama; doa. Kita lupa, di saat ada masalah dengan anak kita, di saat mereka jauh dari harapan kita, kita melupakan doa. Bukankah anak-anak kita sesungguhnya adalah milik Allah? Bukankah yang menggenggam hati mereka adalah Allah? Dan bukankah yang kuasa untuk mengubah dan memperbaiki mereka adalah Allah? Lalu mengapa kita tidak berdoa dan berdoa memohon kepada-Nya?
Ud’uunii astajib lakum. Allah sudah berfirman, berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan. Maka jika kita ingin akan kita shalih, anak kita taat, anak kita dekat dengan Allah, jalan utamanya adalah berdoa. Mintalah kepada Allah. Siapapun mukmin yang berdoa kepada Allah, Dia akan mengabulkannya. Apalagi jika yang berdoa adalah orang tua dan yang didoakan adalah anaknya.
Dalam sejumlah hadits, Rasulullah menegaskan bahwa doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang akan dikabulkan. Doa yang tidak akan ditolak oleh Allah Azza wa Jalla.
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud; hasan)
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi; shahih)
Muchlisin BK