Blogroll

Wednesday, 5 March 2014

Soulmate : To Meet is To Be



“Everyone dreams of finding their soulmate. It’s a universal quest.
All over the world millions of people are looking for their true love, their amore thier ame soeur, that one special person with whom they will spend the rest of their life.
And I’m no different.
Except it doesn’t happen for everyone. Some people spend their whole life looking and never find that person.
It’s the luck of the draw.
If, by some miracle, you’re lucky enough to meet the ONE, whatever you do, don’t let them go.
Because you don’t get another shot at it. Soulmates aren’t like buses there’s not going to be another one along in a minute.
That’s why they’re called, “THE ONE”.” 
 ― Alexandra PotterYou’re The One That I Dont Want
Have you ever think of someone who you predict or maybe hope to be your soulmate? I did.
Once. But at this particular age, which I felt like I’m quite young with these matters, I believe I’m not ready at all to even talk in deep about this.
It is true that thinking of marriage sometimes makes us felt happy, thinking that we have meet the right one.
But do we?

Well, to meet is to be. If you want someone to be your only love, you should ensure that you have become just like someone that you want to have.
Why?
To have someone good, you first have to be a good person. Its Allah’s promise. As Allah said in Quran (the translation) in Surah An – Nur, verse 26 which is as follows :
“(Lazimnya) perempuan-perempuan yang jahat adalah untuk lelaki-lelaki yang jahat, dan lelaki-lelaki yang jahat untuk perempuan-perempuan yang jahat; dan (sebaliknya) perempuan-perempuan yang baik untuk lelaki-lelaki yang baik, dan lelaki-lelaki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik. Mereka (yang baik) itu adalah bersih dari (tuduhan buruk) yang dikatakan oleh orang-orang (yang jahat); mereka (yang baik) itu akan beroleh pengampunan (dari Allah) dan pengurniaan yang mulia.”
Honestly, no one wants a bad person to be his/her soul mate.
Sometimes, I wonder how some people could know that particular person is their soul mate. I just can’t figure out how. Well, I just believe its Allah’s will and power.
If He says so, then its happen. Kunfayakun.
When I read a novel of Alexandra Potter entitled Do You Come Here Often?
I was kind of amaze with her writing which open up my eyes and mind. It makes me feel that true love does exist though its just in the novel. So imaginative, right?
No matter what, she wrote such a fantastic novel to be read.
In a nutshell, to meet someone is to be someone. Of course, we should put some effort in becoming someone just like who are we want to meet.
Then, do not stop praying so that Allah will give you someone that you want to. But do not regret for whatever that Allah has given to you whether you like it or not.
Believe and keep faith, there is something beneath it. Let’s pray for a better future and may Allah gives His strength to us to move on in our lives. InsyaAllah.
P/s : 
 “How do you know if someone is the right one?”
“You’ll know it.”
 - Quoted from Do You Come Here Often by Alexandra Potter -

****


Terjerat Oleh Cinta..



“Saya tdak bisa hidup tanpa kamu. Saya bisa mati kalau kamu pergi. Saya tdak tahu untuk apa hidup di dunia kalau kamu meninggalkan saya..” 
Kita pasti akan terbang melayang-layang ke langit apabila seseorang mengirim text sms begitu kepada kita. Terasa diri begitu dipuja dan dihargai sehinggakan menjadi sebegitu penting dalam kehidupan seseorang.
Kita pasti tersipu – sipu malu dan merah padam muka karena sangat terharu, lalu mengatakan “kamu, janganla begitu..”
Kita memang tidak layak meletakkan cinta kepada manusia secara berlebihan. Apa lagi mereka yang baru mengenal cinta seperti remaja dalam melabuhkan cinta.
Sebenarnya orang yang kita cintai itu biasa – biasa saja, tetapi kita memandangnya luar biasa karena selalu mendengar lirik – lirik lagu, syair pujangga dan film cinta, yang membuatkan kita terikut – ikut. Itulah cinta monyet.
Ok, coba kita tanya pada diri sendiri, adakah kita sanggup ikut mati jika kekasih kita mati? kita sanggup mati karena cinta kepada yang belum pasti menjadi isteri atau suami kita?
Harus kita ingat, sekarang adalah zaman serba pantas, cinta boleh didapatkan dalam hitungan menit. Hari ini kita putus, esok mungkin seseorang yang baru hadir dalam hidup kita.

Terjerat oleh cinta

Kita tidak perlu rasa terjerat oleh perasaan cinta.  Apalagi lagi orang yang kita sukai dan cintai itu masih belum lagi menjadi isteri atau suami kita. Justru, kenapa kita menjadi sangat obses kepadanya?
Adakah kita merasakan kita memiliki dia secara keseluruhannya? dan kita juga merasakan diri kita miliknya sehingga tiada sesiapun pun yang boleh mengambil kita, even ibubapa kita sendiri. Kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu.
Parah bukan?
Lepaskanlah diri dari jerat cinta. Kita bebas untuk menentukan apa saja dalam hidup kita dan apa yang ingin kita lakukan. Kenapa kita perlu rasa seperti itu?
Adilkah jika kita tidak dapat mengadakan study group dengan temen-temen karena tidak disukai oleh teman lelaki? Kita disayangi oleh kekasih, sehingga semua orang yang dekat harus kita jauhi?
Sungguh menyakitkan.
Cinta tidak wajar menyekat hak – hak kita sebagai seorang yang bebas. Bebas dalam memberi pandangan, berperilaku positif dan bebas menentukan diri sendiri.
Tapi kenapa apabila kita menyatakan perasaan cinta kepada seseorang dan kemudiannya orang itulah akan menentukan jalan hidup kita. Menentukan halal tujuan kita, apa yang boleh kita buat dan tdak boleh kita buat. 
Lebih parah lagi apabila seseorang yang kita anggap kekasih hati itu dengan jayanya telah berjaya meyakinkan kita, dan menggantikan tempat ayah kita yang selama ini berhak mengatur hidup kita. Menggantikan tempat keluarga yang selama ini melindungi kita.
Aneh bukan?
Kita ada ayah yang perlu diutamakan. Kita ada keluarga yang harus dijaga kehormatan. Kekasih kita bukan siapa siapa, tetapi hanya memberikan kita masalah dan membuatkan kita bermasalah. 
Kita ingin putus, tetapi tak berani putus. Kita ingin sudahi cinta monyet ini tapi terdaya melakukannya. Kita ingin menjadi diri kita sendiri tetapi selalu merasa tidak sampai hati.
Kita ingin menjadi hamba Allah yang soleh dan solehan, tetapi ingatan terhadap kekasih selalu menghambat fikiran kita. 
Persoalannya, sampai bila kita akan begini?
Cinta menyapa tidak memberikan berkat bagi hidup kita.  Sebaliknya, hidup kita akan menjadi serba tidak teratur, serba tidak kena. Begitu salah dan begini pun salah.
Hidup bagaikan burung di dalam sangkar, nampak enak dan nyaman, tetapi sedih dan menggelisahkan. Apakah kita boleh terlepas dari jeratan itu?
Tidak. Karena kita tidak sampai hati melakukannya.

 Ketika cinta menyapamu, janganlah silau dengan indahnya dia, tetapi lihatlah apakah cinta itu akan membuatmu semakin dekat kepada Allah atau tidak..

note  :
1. Buku Karena cinta harus memilih” ( Burhan Sodiq )



Sunday, 2 March 2014

Bagaimanakah Mengatasi Masalah Pemalu Dan Perasaan Malu?



“Masalah yang saya hadapi adalah, saya seorang yang pemalu.
Saya malu berbincang dengan orang – orang yang tidak dikenali, terutamanya lelaki. Perkara ini telah membuatkan orang lain beranggapan saya adalah seorang yang sombong.
Saya tidak tahu bagaimana untuk menjalinkan hubungan dengan orang lain.Semua rakan sekelas mengatakan saya seorang yang pendiam dan tidak pandai bercampur dengan orang lain. Inilah membuatkan saya resah dan berusaha mencari jalan penyelesaiannya”

  Malu Adalah Sebahagian Dari Pada IMan.

Sifat malu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap muslim. Malah Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam sendiri merupakan insan yang pemalu. 
Diriwayatkan oleh Bukhari bahawa Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam lebih malu sifatnya dari seorang gadis yang di dalam pingitannya. Tetapi letaklah rasa malu di tempat yang sepatutnyaMalulah dalam kebanyakan hal, namun dalam bab ilmu, menyatakan kebenaran dan mengejar ganjaran untuk berbuat kebaikan jangan pula malu menghalangi diri kita.

Pemalu Tak Bertempat

Kita semua harus sadar bahwa rasa malu yang tak bertempat akan membuatkan hidup kita kehilangan banyak kesempatan dan peluang untuk menikmati hidup yang lebih indah. Juga membuatkan kita tidak dapat bergaul dengan orang lain, tidak dapat meluahkan pendapat dan pemikiran yang dimiliki. Malah hanya boleh menjadi pendengar saja.
      Atasi Masalah ini Secara Berperingkat - Peringkat
Untuk melawan perasaan malu ini, kita boleh melakukannya secara berperingkat – peringkat, dengan belajar cara etika pergaulan, selalu tersenyum dan mengingatkan diri sendiri bahawa orang lain ada kerja sendiri dan tiada masa untuk memperhatikan anda. Ingatlah kita sebenarnya mempunyai banyak keistimewaan. Kita boleh menulis dan membacanya setiap saat untuk meningkatkan perasaan percaya diri.

Tiada Orang Yang Memperhatikan Kita sebenarnya

Jangan terlalu memperbesar – besarkan dan memikirkan kelemahan yang dimiliki. Jangan beranggapan bahawa orang lain menjauhi kita oleh karena kekurangan tersebut. Setiap orang mempunyai kelemahan tersendiri, bukan kita sahaja yang memiliki kekurangan. Yang penting adalah kita berusaha dengan semaksimum mungkin untuk memperbaiki kelemahan kita dengan tenang. Jangan sesekali kita beranggapan bahawa kekurangan kita akan menjadi bahan cemuhan orang lain. Inilah yang sebenarnya menyebabkan rasa malu, iaitu takut  menjadi bahan bualan dan cemuhan orang lain.

Mesrakan Diri Untuk Berkenalan
Selain itu, jangan malu untuk berkenalan dengan orang lain. Berkenalan dengan orang lain bukanlah perkara yang susah, selagi kita mahu berusaha dengan kesabaran untuk melakukannya.

Pemalu kepada Lawan Jenis

Ini adalah masalah biasa. Sesipa pun pasti malu bila berhadapan dengan lawan jenis. Tapi sebenarnya rasa malu ini boleh menambah kecantikan seorang gadis dan boleh memberi kehormatan yang tinggi dihadapan kaum lelaki. It’s better than dengan keberanian yang berlebihan yang boleh menurunkan nama baik seorang gadis itu dan menjadikan orang lelaki memandang rendah terhadapnya.

Bukanlah Perkara Yang Sukar

Untuk melawan rasa malu terhadap lawan jenis, katakan pada diri bahwa ini adalah bukan suatu perkara yang sukar.
Berbicaralah dengan tenang dan suara yang jelas, selama perhubungan itu atas dasar pelajaran atau pekerjaan.
Kita juga harus menjadi pendengar yang baik apabila ada orang berbicara dengan kita, supaya hati dia tidak tersinggung. Kita mampu untuk mengatasi rasa malu itu, kita harus padamkan pemikaran yang mengatakan sukarnya untuk bergaul dengan orang lain. Ingatlah bahwa terdapat jutaan manusia yang telah berjaya untuk melawan rasa malu. Oleh itu, buanglah rasa malu yang tidak bertempat dan berbahagialah dengan kehidupan kita.


Antara CINTA dan NAFSU

1. Cinta itu membahagiakan, Nafsu itu Membahayakan
Cinta yang sebenarnya selalu menunjukkan jalan atau arah menuju kebahagiaan untuk orang-orang yang menjalaninya. Seorang pecinta yang sudah menemui dan memahami makna cinta sejati dalam dirinya akan berada pada keadaan yang membahagiakan.
Sebaliknya, orang-orang yang tertipu dengan nafsu dan menganggap nafsu adalah cinta akan berada dalam situasi yang membahayakan. Kita tidak boleh mempertikalkan bahawa di mana ada kebaikan, di situlah syaitan menggoda manusia agar terjerumus ke dalam keburukan dan dosa.
Seseorang yang mencintai pasangannya dengan sebenar-benar cinta akan menjadikan hubungannya menuju kebahagiaan sejati dengan cara menjaga dan menyayangi pasangannya.
Tanpa merosak dan menyakiti, serta membawanya jauh dari kemaksiatan. Sebaliknya,  orang-orang yang menjalin hubungan dengan landasan nafsu, mereka akan membawa hubungannya kearah kebahagiaan yang palsu dan hanya berorientasi pada fizikal, dalam hal ini adalah seks. 
2. Cinta buat kita ketawa, Nafsu buat kita Kecewa
Kalau diibaratkan hubungan seperti sawah, maka cinta adalah padi dan nafsu adalah rumput liar. Ketika seseorang menanam padi (cinta) di sawah (hubungan) maka secara automatik akan tumbuh juga rumput liar (nafsu).
Kalau orang itu sudah mengetahui dan memahami apa itu padi (apa itu cinta), maka dia akan segera memangkas rumput liar itu (nafsu) yang tumbuh di sawahnya (hubungan).
Ketika tiba masa menuai, orang ini akan menuai hasil sawahnya (hubungan) yang ditanam padi (cinta) itu tadi berupa beras (kebahagiaan).
Lain pula dengan orang-orang yang tertipu yang menyangka rumput liar (nafsu) sebagai padi (cinta). Mereka akan memelihara rumput liar (nafsu) dan tanaman padinya (cinta) akan mati.
Pada musim menuai, tentu yang mereka dapat hanyalah sekarung rumput liar (nafsu) yang tidak dapat dimakan (kekecewaan).
3. Cinta selalu ingin memberi, Nafsu hanya ingin Diberi
Saya rasa maksud dari point ketiga ini sudah jelas. Cinta adalah memberi. Ketika seseorang menjalin hubungan atas dasar cinta maka hal pertama yang dilakukannya adalah memberikan yang terbaik kepada pasangannya, bukan ingin diberi.
Logiknya, kalau kita dan pasangan sama-sama ingin memberi (kita ingin memberi kepada pasangan dan pasangan ingin memberi kepada kita) secara automatik kedua – duanya akan menerima.
Tetapi kalau kita dan pasangan inginnya diberi (pasangan ingin diberi dan kita juga ingin diberi) maka siapa yang akan memberi..? Pada akhirnya yang terjadi adalah tiada yang akan diberi kerana tiada yang ingin memberi.
4. Cinta ingin menyayangi, Nafsu ingin Merosakkan
Bagaimana cara kita memperlakukan pasangan kita? Bagaimana kita melihat pasangan kita?
Ini adalah cara termudah untuk membezakan mana cinta, mana nafsu - Cara seseorang dalam menjalin hubungan akan sangat menentukan bagaimana cara orang tersebut memperlakukan pasangannya.
Orang yang menjalin hubungan dengan landasan cinta akan sentiasa memperlakukan pasangannya dengan cara yang baik. Menjaga, menyayangi, memperhatikan dan selalu memberikan yang terbaik. Mereka mempunyai cita – cita untuk kearah berkhitbah (lamaran) dan seterusnya mempercepatkan proses rumahtangga.

Sebaliknya orang orang yang menjalin hubungan kerana nafsu cenderung memperlakukan pasangan ke arah bentuk fizikal. Setiap kali bertemu kedua inginnya dipeluk dan memeluk  dan yang lebih parah lagi kalau sampai kearah hubungan seks yang haram.
5. Cinta yang terbaik, Nafsu yang Terbalik
Cinta selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangan. Bagaimana dengan nafsu? Sebaliknya, nafsu selalu ingin diberi dan cenderung memperlakukan pasangan ke arah yang menyesatkan dan perbuatan dosa.
.
Jika nafsu lebih kuat berbanding cinta didalam jiwa kita, maka Islam telah menyediakan penyelesaian terbaik iaitu pernikahan. Supaya kita, pasangan kita dan keturunan kita terjaga..


IStiqomah





Adakah muslimah-muslimah zaman sekarang sudah hilang semangat jihadnya?
Sudah hilang kekuatan hati?
Bukan nak suruh perempuan-perempuan Islam jadi ganas, cuma terfikir bila terbaca kisah-kisah sahabiah, mereka lemah lembut tapi sangat kental, hati sekuat besi waja, tak mudah cair dengan lelaki ajnabi (bukan mahram), tak meleleh-leleh bila cakap pasal cinta, tak tergedik-gedik bila lelaki cuit.
Maka saya pun mengambil langkah untuk jadikan instagram ku sebagai malaikat maut bagi kaum Hawa, untuk mentarbiah hati mereka agar kuat, kental dan tabah!
Walaupun ( di social ntwrk & realiti ) bertudung, berpurdah, bertudung labuh, ikut usrah, ikut masturat;
Tapi cuit sikit, dah tergedik-gedik…Ngurat sikit, dah sangkut….Ajak couple sikit, terus setuju…Lepas tu, putus cinta,meleleh2…Ada masalah sikit, doa nak mati..Kena marah dengan mak/ayah sikit, buat status cakap tak pernah bahagia…Exam failed, kata taknak hidup lagi…Pakwe tak mesej sehari, di status penuh dengan kata-kata rindu
Fikir secara waras, adakah ini sifat wanita yg ditarbiah oleh Rasulullah SAW ketika zaman Baginda SAW?
Nama Saidatina Fatimah, Aisyah, Khadijah, Safiyyah, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Sumayyah, Ummu Darda’, Masyitah, Balqis, Maryam dan ramai lagi diagung-agungkan kalian. Tapi apa kalian kenal siapa mereka? Bagaimana hebat dan kentalnya hati mereka? Ikut sikap dan akhlak mereka?
Memang akal kalian senipis rambut, tapi kalian bukan BODOH…
Saya datang sebagai pengetuk kepala kalian untuk bangun dari tidur, untuk sedarkan kalian supaya jangan jadi bodoh, jangan jadi hamba cinta haram, jangan jadi perempuan murahan, jangan kapel free2 macam bohsia, jangan dok bermanja dengan lelaki macam perempuan tiada harga
Nabi SAW telah bersabda mafhumnya (au kama qaal), jika seorang lelaki mendapat wanita solehah sebagai isteri, maka separuh agamanya telah sempurna…
Apa kalian sedar ‘kesolehahan’ kalian itu harganya separuh dari agama?
Terimalah teguran dengan hati terbuka , kerana iman seseorang itu dinilai daripada cara die menerima teguran .
Maaf andai terguris hati 
Allahu ><

Sunday, 2 February 2014

Hijab untuk Siapa?


“Rin, kamu kenapa sih pake kerudung?” tanya Mimi tiba-tiba, seperti memecah keramaian kampus sekalipun yang mendengar hanya diriku seorang.

“Eh? Lah kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?” aku kaget sambil tertawa kecil. Sahabatku ini rupanya mulai penasaran. Mungkin ini celah yang Allah berikan padaku agar aku bisa mulai berdakwah padanya.

“Habis kan ada yang pakai kerudung ada yang nggak. Udah tau Jogja lagi panas-panasnya begini, kamu masih aja tahan pakai kerudung dan baju tertutup. Aku aja yang nggak pakai udah gerah[1] banget, apalagi kamu coba yang ditutup-tutupin…”

“Siapa bilang aku pakai kerudung terus jadi gerah? Biasa aja kali Mi… Paling sekarang derajat gerahku sama gerahmu sama aja, nggak ada bedanya…”jawabku sambil memasang muka menggoda Mimi. Akhir-akhir ini memang cuaca Jogja sedang panas-panasnya.

“Bohong ah Rin, masa sama? Nggak mungkin…” Mimi tak percaya. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.
“Beneran pengen tahu nih, kenapa meski sepanas ini aku tetap pakai kerudung?” aku tambah iseng menggoda Mimi.
“Iya Airin….beneran…” wajah Mimi terlihat kesal.

“Hehehe, oke Mi. Jadi…Aku pakai kerudung dan baju tertutup lengkap bahkan sampai pakai kaos kaki segala adalah karena…ini perintah Allah untuk selalu menutup aurat, begitu Mimi sayang!” kataku.

Mimi terdiam sejenak. “Rin, kalau kata Allah, apa berarti setiap perempuan yang beragama Islam harus memakainya untuk menutup aurat?” tanya Mimi.
“Nah, siiiip. You’ve got the point! Itu dia, karena ini perintah Allah, maka semua muslimah harus memakainya. Muslimah itu ya tentu saja semua perempuan yang beragama Islam! Termasuk aku dan kamu,” kataku berseri-seri. Aku mulai melihat celah bahwa Mimi sedang berpikir lebih dalam.

“Tapi Rin, Mamaku nggak pakai kerudung, keluarga besarku juga nggak semuanya pakai kerudung, bahkan teman-teman kita dan mungkin masih banyak perempuan lainnya yang nggak menutup aurat. Apa menutup aurat itu bukan pilihan Rin?”

“Mi, kalau Allah bilang perintah menutup aurat adalah wajib. Maka itu namanya bukan pilihan Mi. Kita nggak punya hak untuk memilih antara melakukannya atau meninggalkannya. Mutlak bahwa itu harus,” aku menjelaskan pelan-pelan. Masalah seperti ini tidak boleh disampaikan dengan cara menggurui, apalagi seolah-olah kitalah yang paling benar. “Seperti perintah shalat. Allah bilang shalat itu wajib. Makanya semua muslim harus menunaikannya.”

“Kalau wajib, kenapa masih banyak juga yang nggak menutup aurat, Mi? Kenapa nggak sedari kecil kita diajari begitu? Bahkan pelajaran agama di sekolah pun nggak membahas tentang aurat. Kami dulu hanya diajarkan tentang shalat, zakat, bahkan mungkin pembagian waris yang sebenarnya terlalu detil padahal penerapannya tidak sesering keharusan menutup aurat?” Mimi bertambah kritis. Aku kembali memutar otak agar menemukan jawaban yang baik untuk menjawab pertanyaannya.

“Karena masih banyak yang belum paham, Mi,” aku terdiam sebentar, menata kata-kata yang bermunculan di kepalaku, “Masih banyak yang belum paham itu bisa terjadi karena banyak sebab. Ada yang belum tahu dan memang belum mencari tahu, tapi ada juga yang sudah tahu tapi menyepelekan. Karena paham dan tahu adalah dua hal yang berbeda. Masih sedikit orang Islam yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir mendalam.”

“Mmm…maksud berpikir mendalam itu gimana?” Mimi bertanya.
“Jadi gini Mi. Misalnya ada orang yang belum tahu tentang kewajiban menutup aurat. Kemudian dia nggak cari tahu, nggak belajar Islam dengan baik akhirnya nggak dapat ilmunya juga kan? Padahal kewajiban menuntut ilmu itu nggak cuma ilmu dunia saja. Ilmu agama juga penting banget, apalagi diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.”

“Kalau nggak kepikiran buat menuntut ilmu bagian menutup auratnya Rin? Misalnya dia udah belajar agama dengan baik tapi masalah ibadah kayak shalat, baca Quran, zakat, puasa kayak gitu gimana?”

“Berpikir mendalam itu kaitannya juga dengan kehidupan sekitar Mi. Harusnya kita berpikir kritis ketika melihat di sekitar kita ada orang yang menutup aurat dan ada yang nggak. Kenapa bisa begitu? Harusnya di hati kecil kita terbesit rasa ingin tahu dan sejak saat itu rasa penasaran membawa kita pada kemauan mencari tahu yang tinggi. Dan ketika tahu bahwa menutup aurat wajib, misalnya, harusnya yang kita lakukan segera adalah menerapkan ilmu tadi pada kehidupan kita. Apalagi contohnya tadi menutup aurat yang sifatnya wajib.

Wajib itu bukan perkara aku mau dan aku tidak mau. Itu nanti jatuhnya jadi masalah nafsu manusia yang mudah digoda setan. Wajib itu perkara kita diperintahkan untuk harus melakukan. Kalau masalah aku mau dan tidak mau nanti jadinya nyambung ke aku mau surga dan aku tidak mau surga. Nah lho, dampaknya malah jauh banget!” kataku dengan hati-hati.

Aku takut kalau kata-kataku malah ada yang menyinggung perasaannya. “Nah, bagus kamu tadi udah mau tanya tentang kerudung. Itu namanya kamu sudah kritis dan mau menggunakan akalmu untuk berpikir mendalam. Aku doakan biar kamu segera menerapkan ya cantik…” lanjutku.

“Tapi Mimi belum pede Rin kalau mau pakai kerudung dan baju panjang kayak kamu. Orang nanti bilang apa, Mama Papa juga belum tentu setuju.”
“Mi, kamu pikirin dulu supaya semakin mantap. Berdoa semoga dimantapkan, berdoa agar Allah membulatkan niatmu dan membuatmu berani untuk menerapkannya. Insya Allah dimudahkan, Mi…”
“Gitu ya Rin? Airin nanti bantu Mimi ya kalau sudah yakin…” Aku mengangguk pelan, mengiyakan.

***

Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu. Tidak ada perubahan pada Mimi. Entah apa yang sekarang sedang ia pikirkan. Yang jelas aku tidak berani menanyakannya. Aku ingin membiarkan ia benar-benar memikirkannya sendiri sampai kemantapan itu hadir dalam dirinya, bukan karena suruhan, apalagi paksaan. Mimi adalah teman yang cerdas, aku tahu itu. Kalau satu minggu masih tidak ada perubahan, baru aku akan menanyakannya, tekadku.

***

Tapi ternyata satu minggu berlalu pun tak ada perubahan pada diri Mimi. Mimi masih dengan setelan jeans dan kaos berkerah atau kemeja lengan pendeknya ketika kuliah. Setidaknya hubungan kami tidak merenggang, itu yang sangat aku syukuri. Sejujurnya aku takut percakapan kami minggu lalu membuatnya menjauhiku.

“Mi, ke kantin yuk! Aku lapar belum sarapan hari ini,” ajakku.
“Ayo Riiiin! Sehati banget kita. Aku juga belum makan apapun hari ini. Sampai tadi aku hamper puasa kalau nggak ingat tadi pagi habis bangun tidur aku langsung minum air, hehehe…” Aku senang mendengar renyah tawanya. Mimi ceria seperti biasa. Kami pun segera beranjak ke kantin fakultas.

“Airin, aku…bingung…” katanya tiba-tiba. Tentu saja aku kaget, tapi aku tidak menyangka bahwa ia akan memulai duluan.
“Kenapa Mi? Cerita dong…” pancingku.

“Yang waktu itu lho Rin, yang kita cerita-cerita tentang menutup aurat. Eh sebenarnya yang aku nanya-nanya sih ya, hehehe…” tawanya kembali menghiasi wajahnya walau sejenak. “Waktu Mama telepon aku cerita-cerita ke Mama. Terus aku nggak boleh pakai kerudung dan baju-baju panjang gitu…”
“Mmmm, alasannya?” tanyaku penuh selidik.
“Mama bilang baju-baju kayak gitu nanti malah membatasi aku dalam kegiatan kuliah dan organisasi. Bahkan Mama sampai bilang nanti susah dapat kerja dan dapat jodoh. Aku bingung harus bilang gimana sama Mama Rin….”
“Kamu sendiri yakin nggak kalau yang Mamamu bilang itu benar?”
“Aku nggak yakin sih Rin. Mungkin memang nanti aku jadi nggak bisa petakilan atau banyak gerak kayak sebelumnya. Tapi aku pikir itu bagus, sekalian biar cewek dikit akunya, hehe…”
“Yang alasan lainnya gimana? Yang katanya nanti kegiatan kuliah sama organisasi jadi terbatas, kerja dan jodoh juga,” cecarku.

“Kalau kuliah sama organisasi kayaknya nggak deh. Buktinya aku lihat kamu masih aktif-aktif aja di kampus tanpa ada yang melarang-larang kamu aktif gara-gara pakaianmu. Tapi kalau kerja dan jodoh…aku agak ragu sih sebenarnya…”
Pesanan kami datang, tapi perbincangan ini rasanya tak bisa dijeda. Mimi pun tidak lantas menyentuh makanannya seperti biasa.

“Ragunya gimana Mi?”
“Misalnya gini lho Rin, kalau lowongan pekerjaan kan biasanya tulisannya dicari yang berpenampilan menarik. Nah, apa dengan menutup aurat aku jadi menarik? Jodoh juga, apa laki-laki tertarik pada perempuan yang keindahannya justru ditutup-tutupi, Rin?”
Aku terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Mimi barusan.

 “Mi, banyak kok lapangan pekerjaan yang tidak mensyaratkan penampilan. Jangan mau jadi perempuan yang dinilai karena penampilan. Lebih baik kita dipilih karena kita memang berkompeten pada suatu bidang, karena ilmu kita. Apalagi Allah menilai seseorang dari kemuliaan akhlaknya. Fisik itu tidak ada artinya kalau pribadinya buruk!” kataku meyakinkan.

“Kemudian kalau masalah jodoh…gini deh logikanya Mi, kalau seorang laki-laki memilih istri seorang perempuan yang tidak menutup aurat, itu artinya ia memilih seorang perempuan yang tidak menaati perintah Tuhannya. Nah, logikanya kalau sama Allah saja dia nggak mau taat, apalagi sama suaminya Mi?” tanyaku retoris.

Mimi mengangguk-angguk. Aku lihat binar matanya mulai cerah dan semakin yakin. “Aku suka jawabanmu yang kedua Mi. Iya ya, kalau sama Allah saja nggak mau taat, bagaimana nanti sama suaminya?”
“Nggak usah takut sama jodoh Mi. Perempuan baik tentu akan dapat laki-laki baik yang akan jadi jodohnya, insya Allah.”
“Sekarang aku harus ngomong gimana ya Rin sama Mama. Aku juga pengen Mama ikut sadar kalau menutup aurat itu harus, bahkan wajib…”

“Mmm…gimana kalau kamu ada kesempatan pulang ke rumah, kamu bicarakan baik-baik sama Mamamu. Bilang saja terus terang. Kamu boleh banget kok menceritakan obrolan kita selama ini. Mudah-mudahan Mamamu ikutan kepengen menutup aurat juga, dan bukan karena tren, tapi karena memang itu perintah Allah pada kita.”
“Gitu ya Rin? Kalau gitu…weekend ini insya Allah aku pulang. Oke Rin, aku nanti akan segera bilang. Doain ya Rin!” Binar cerah menghiasi matanya.

“Iya Mi, selalu…” kataku. Aku sayang banget sama temanku yang satu ini. Mana pernah aku berhenti mendoakan kamu agar kamu benar-benar bisa menghijabi dirimu, Mimi?
Suasana kantin terasa lebih lega dari biasanya. Nampaknya sejalan dengan perasaan legaku tahu Mimi akan segera berhijab. Kami pun segera menyantap makanan pesanan kami masing-masing.

***

“Airiiiiiiiiiiiiiin ‼” sebuah teriakan keras memanggil namaku ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke gedung kuliah. Aku reflek menoleh dan kaget.
Aku kaget bukan hanya karena melihat Mimi yang sekarang mengenakan kerudung, tapi juga karena pakaian Mimi dari ujung ke ujung itu…terlalu berlebihan!
“Mimi nih ngagetin, teriak-teriak segala…” sungutku pura-pura marah ketika Mimi menghampiriku.

“Maaf deh maaf…. Rin, hehehe. Mamaku akhirnya ngebolehin aku berhijab, lho! Mama bilang sekarang banyak model berhijab yang tetap mengikuti mode jadi nggak ketinggalan zaman. Jadi tetap stylish deh! Mamaku juga sekarang mulai suka hunting model-model hijabers-hijabers gitu Rin! Katanya lagi model sekarang yang beginian. Gaya kerudung sama baju muslim jadi banyak modifikasinya, makanya Mama mulai tertarik.”

Aku sedikit menahan sesak. Rupanya aku masih kurang memberi tahu Mimi bahwa menutup aurat juga ada ketentuannya, bukan asal tertutupi. Hari ini aku melihat Mimi dengan penampilan berbeda. Kerudung dan baju panjang memang menutupi kepala dan tubuhnya.

Tapi lilitan dan tarikan di sana-sini kerudungnya membuat lehernya yang terbalut dalaman kerudung ninjanya terlihat membentuk jenjang lehernya sempurna. Rambutnya yang panjang digelung tinggi sehingga membuat kepalanya menyerupai punuk unta. Bajunya panjang tapi…masih sedikit menerawang. Bajunya dimasukkan ke dalam jeans ketatnya, membuat lekuk tubuh dari pinggul ke kakinya terlihat saking ketatnya. Belum lagi, aksesoris kalung panjang dan aksesoris yang ‘meramaikan’ kerudungnya.

“Kamu merasa nyaman nggak Mi, pakai baju seperti sekarang ini?” tanyaku sepanjang kami menaiki tangga menuju kelas.
“Aku…mungkin karena baru pertama kali aja Rin masih kurang nyaman. Pakai kerudung begini aja lama banget. Kayaknya ada deh satu jam aku di depan cermin mematut-matut, nyoba-nyobain model kerudung, padu-padan baju. Gitu-gitu deh Rin!”

Beberapa teman yang berapapasan dengan kami menyapa Mimi yang tampil berbeda hari ini. Mimi menanggapinya dengan senyum manisnya sekalipun sapaan teman-teman hanya berupa ledekan.

“Kamu percaya nggak Mi, bahkan untuk orang yang baru pertama kali pakai kerudung dan baju tertutup, dia nggak perlu menghabiskan waktu selama itu untuk memakai baju yang menutupi auratnya. Bahkan 15 menit pun cukup untuk memakai baju dari awal sampai tertutup rapi dengan kerudung dan kaos kaki.”

“Ah, masa sih Rin? Boong aaah…. Kalaupun ada paling juga bajunya nggak terlalu di mix and match, kerudungnya juga nggak kayak model zaman sekarang…”

“Naaah, itu dia poinnya. Bukan masalah mode, tapi memang ternyata ada hal yang lupa aku sampaikan ke kamu. Perintah Allah untuk menutup aurat itu bukan hanya tertutup lalu selesai segala urusan. Ada hal-hal yang harus dipenuhi ketika kita menutup aurat. Mmm…semacam syarat-syarat gitu deh Mi biar aurat itu tertutupi secara sempurna.”

“Misalnya?” tanya Mimi.
“Aku kasih gambaran singkat aja ya Mi, nanti aku pinjemin buku yang membahas aurat wanita dan bagaimana muslimah harus berpakaian deh buat kamu baca. Kalau aku ceritain panjang lebar sampai ke dalil-dalilnya nanti aku kayak ustadzah lagi ceramah, terus nanti kamu bete lagi ngeliatnya…” aku tersenyum lebar memperlihatkan sederetan gigiku.

“Siap Bu Ustadzah Airin yang baik hati,” kata Mimi dengan gaya seperti orang hormat.
“Tuh kan belum apa-apa aja aku udah dibilang ustadzah. Aamiin aja deh,” aku memperlihatkan muka bersungut-sungut untuk menggoda Mimi.

“Jadi gini Mi, meskipun kita sudah menutup aurat, pakaian yang kita kenakan tidak boleh ketat sehingga membentuk bentuk tubuh, tidak boleh transparan, tidak boleh mengikuti cara berpakaian lawan jenis, dan tidak boleh berlebihan. Satu lagi, kerudung yang kita gunakan harus menutup dada dan tidak boleh menyerupai punuk unta di kepala. Artinya ikat rambut atau gelungan rambut kita tidak boleh terlalu tinggi sehingga menyerupai punuk unta. Atau misalnya zaman sekarang ditambah-tambahi dalaman kerudung atau ciput bercepol yang sengaja dibuat agar kerudung yang kita kenakan menyerupai punuk unta.”

“Kenapa begitu, Rin?”

“Memang aturannya begitu, Mimi shalihah…. Bahkan hadits yang melarang kerudung menyerupai punuk unta itu mengatakan bahwa pelakunya tidak akan mencium wangi surga. Nah…bagaimana mau masuk, bahkan mencium wanginya saja tidak bisa? Aku memperhatikan raut muka terkejut Mimi. “Begitu juga dengan pakaian yang ketat yang membentuk tubuh atau transparan. Kalau begitu, apa gunanya pakaian yang dikenakan? Bukannya menutupi malah menonjolkan bagian-bagian yang seharusnya ditutupi. Apa bedanya dengan orang yang tidak menutup aurat?”

“Tapi kan setidaknya tertutupi, Rin.” Mimi tampaknya membela diri. Sepertinya ia merasa pakaiannya masih seperti apa yang aku katakan tadi.
“Tertutupi itu bukan hanya setidaknya. Tubuh kita itu ibarat perhiasan kita yang tidak boleh kita pamerkan keindahannya pada orang yang bukan muhrim kita. Kalau hanya kita beri tirai sedikit, orang-orang masih bisa melihat walau samar, menikmati keindahannya padahal bukan haknya. Jangan sampai kita punya dobel dosa Mi, menutup aurat yang tidak sempurna dan membuat orang lain berdosa karena melihat aurat kita. Menutup aurat yang tidak sempurna itu seperti berpakaian tapi telanjang.

Ganjarannya? Sama seperti kerudung yang menyerupai punuk unta tadi, tidak mencium wanginya surga. Na’udzubillahimindzalik…”
“Rin, itu serius ada dasarnya?”
“Yeee Si Eneng, masa aku mau ngarang-ngarang nakutin kamu? Ini karena aku sayang kamu Mimi, makanya aku ngomong gini. Kita mau masuk surga sama-sama, kan?” aku tersenyum.
“Airin, aku jadi malu pakai pakaian kayak gini….” Mimi terdiam sebentar. “Eh tapi aku jadi ingat Mama deh Rin. Mama kan tertarik sama model-model hijab sekarang, makanya Mama membolehkan aku berhijab. Dan Mama juga tertarik karena menurutnya model hijab-hijab sekarang itu modis.

 Nah, apa nggak boleh kita berhijab yang modis dengan tujuan agar orang lain yang belum berhijab tertarik untuk ikut berhijab juga? Kalau begitu kan nanti akan lebih banyak lagi orang yang berhijab…”
“Coba kita inget-ingat lagi Mi, kita menutup aurat, berhijab itu karena apa? Karena siapa?”
“Allah, Rin. Mematuhi perintah Allah, begitu kan kamu bilang dulu?”
“Nah..Sekarang sudah paham, belum?”
“Belum Rin,” Mimi menggeleng pelan.

“Dengan memakai pakaian yang mengikuti mode, berarti menggunakan pakaian dengan mengutamakan fungsinya sebagai tren fashion, bukan penutup aurat, padahal batasan yang Allah tentukan untuk standar menutup aurat itu sudah jelas. Dan ini jelas melenceng karena tujuan mengenakannya saja sudah salah, bukan menunjukkan ketaatan pada Allah.

Kedua, orang yang melihat pakaian kita, sesuatu yang tadi kamu bilang upaya kita mengajak orang lain untuk turut berhijab, jika nanti kemudian mereka berhijab, tentu cara berhijabnya akan mengikuti cara berhijab kita yang salah tadi. Nah lho, dakwah berhijabnya tepat sasaran, tapi salah penerapan. Salah-salah malah jadi dosa jariyah, mengalir terus dosanya selama orang masih ngikutin cara berhijab kita yang salah. Jadi, pilih mana?”

“Yang benar dan sesuai apa yang Allah perintahkan, dooong,” kata Mimi. Wajahnya gembira, seperti puas sudah menemukan jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Memang terlalu banyak modus-modus fashion untuk pemenuhan materi yang disampaikan lewat penerapan perintah Allah yang salah. “Nanti temenin aku beli baju ya Rin, aku mau bisa berhijab sempurna kayak kamu.”

“Siiip, aku juga masih belajar untuk terus memperbaiki diri, kok. Kita sama-sama belajar ya Mi Kalau aku salah, kamu harus ingetin aku juga.” Kataku.

“Oke Bos Airin! Siap!”
Kami pun tertawa bersama. Aku tidak sabar menemani Mimi membeli baju dan menunggu besok melihat penampilan Mimi yang baru dengan hijab syar’inya.



Fitri Hasanah Amhar




Tuesday, 28 January 2014

Ayah : Solehah kah Aku Untukmu?

Sering saja kita membaca tentang bagaimana menjadi isteri solehah untuk suami soleh


Namun, jarang kita bermuhasabah, adakah kita telah berjaya menjadi yang solehah untuk insan yang selayaknya king of our heart  kita yaitu seseorang yang bergelar ‘ayah’.

Tahukah atau sedarkah kita, selagi kita belum menikah. Ayah kita lah yang menanggung segala perkara yang bersangkut paut dengan diri kita sehinggalah ke dosa-dosa kita?

Ayuk.. Kita mula renung-renungkan..
Pernah atau tidak kalian bayangkan suatu hari yang sangat damai.. kalian akan  mendapat berita yang ayah kesayangan kalian telah pergi buat selama-lamanya?

Tanpa sempat kalian menyatakan maaf buatnya. Tanpa sempat kalian mendengar kata-katanya buat kali terakhir dan tiba-tiba kalian di beritahu yang ayah kalian telah pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini.
Allahu Akhbar. Saya jamin dan yakin seperti skit gugur jantung kita di saat itu.
“ dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali akan melambatkan kematian seseorang (atau sesuatu Yang bernyawa) apabila sampai ajalnya; dan Allah amat mendalam pengetahuannya mengenai Segala Yang kamu kerjakan.” Al munafiqun:11
Pasti. Dan amat pasti. Kematian seseorang yang bergelar ayah itu akan berlaku. Persoalannya, sudahkah kita menjadi anak yang soleh dan solehah untuk beliau sebagai bekalannya di alam kubur sana?
Ingat kah kita tentang hadis ini, daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu katanya, Rasulullah SAW telah bersabda : Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Suka untuk saya menyatakan  kita hanya sibuk untuk menjadi soleh/solehah buat suami/isteri atau bakal suami/isteri.
Namun, berusahalah dan kejarlah juga ciri-ciri untuk menjadi yang soleh dan solehah buat kedua ibu  bapa kita.
Karena mereka  yang sangat-sangat berjasa dalam kita membina kehidupan di muka bumi ini.
Di akui kita juga manusiawi. Lumrah alam manusia sentiasa terjerumus atau terjatuh dalam lembah kehinaan sang syaitan.

Namun, ayolah sama-sama kita muhasabah sentiasa bagaimana cara untuk kita menjadi anak yang soleh dan solehah buat kedua ibu bapa kita supaya doa kita diterima sebagai ‘bekalan’ untuk mereka di ‘sana’.

 apa Tujuan kita menjadi anak yang solehah?

Buat muslimah yang di kasihi. Ayolah kita mengingatkan kembali diri kita. apa Tujuan kita menjadi anak yang solehah? Adakah semata untuk mendapat suami soleh?

Sedangkan telah-telah kita mempunyai seorang kekasih sejak azali yang bersama-sama berdampingan dengan kita. Kita juga turut perlu menjadi solehah buat ayah kita. Karena kita hanya punya satu ayah.
Lagi-lagi jika ayah kita telah pergi meninggalkan kita buat selama-lamanya karena berjumpa dengan penciptaNya. Subhanaallah. Bagaimanakah nasib beliau di sana? solehahkah kita untuk beliau?
Adakah doa-doa kita untuk beliau sama seperti doa-doa kita buat bakal suami kita ?
Cuba hayati bait-bait nasyid ini :
“ketika berjauhan
Masihku rasa hangat kasihmu ayah
Betapaku rindukan redup wajahmu
Hadir menemaniku

Terbayang ketenangan
Yang selalu kau pamerkan
Bagaikan tiada keresahan”
Percayalah wahai muslimah. Apabila kamu berusaha menjadi yang solehah untuk ayahmu. Secara automatiknya kamu juga akan menjadi yang solehah buat suamimu. 
Jangan kita menyesal di kemudian hari. Di mana kita merasa teramat rindu untuk menyebut perkataan ‘ayah’ untuk seseorang yang bergelar ayah ketika beliau telah tiada di dunia ini.
Jangan kita merasa telah terlambat untuk kita menyatakan kasih – sayang kita kepada beliau. Jangan kita merasa derita kerana telah terlambat untuk kita memohon maaf.

Ayolah, kita renung-renungkan… :')

Semua ini belum terlambat untuk kita perbaiki.

Ini link iklan pengorbanan seorang ayah untuk anaknya :')
Sungguh luar biasa dan begitu sedih silakan di tonton: