Blogroll

Friday, 27 November 2015

KISMIS SEBELUM ANGGUR


Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى
Mari bercermin…
Yang paling banyak merusak dan menyibukkan para ulama saat ini adalah perilaku sebagian anak-anak muda yang tergesa-gesa dalam memetik hasil usaha menuntut ilmu. Mereka sangat mudah mengutarakan pendapat dan berfatwa pada setiap masalah. Mengatasi persoalan anak-anak muda seperti ini jauh lebih sulit ketimbang mengatasi persoalan masyarakat.
Ingat… Bila engkau masih berstatus pemula dalam menuntut ilmu agama, maka jangan memposisikan diri seolah-seolah dirimu adalah Syaikhul Islam, yang mudah mengeluarkan pendapat pada masalah-masalah besar.
Bersabarlah sampai keilmuanmu benar-benar matang. Bila ada yang bertanya tentang suatu permasalahan yang belum engkau pelajari, maka sarankan agar ia bertanya pada orang yang lebih berilmu darimu, atau berikan kontak ulama yang mumpuni.
Sungguh… Jangan jatuhkan dirimu ke jurang neraka karena berbicara tanpa ilmu.
Ada ungkapan yang mengatakan,
تزبب قبل ان تحصرم
“Menjadi kismis sebelum menjadi anggur yang matang”
Ya, sebelum menjadi kismis, anggur mengalami beberapa fase, yaitu menjadi bunga, kemudian menjadi bakal buah sampai berubah menjadi anggur hijau yang sedikit lunak, kemudian memerah dengan rasa yang lebih manis untuk selanjutnya menjadi kismis. Sebagaimana anggur yang mengalami sekian fase sampai menjadi kismis begitulah seharusnya penuntut ilmu, hendaklah ia melewati setiap fase dalam menuntut ilmu, hingga ia benar-benarlayak berfatwa.
Ingat juga, bahwa dokter yang keilmuannya setengah-setengah sangat berbahaya bagi pasien. Maka begitu juga dengan penuntut ilmu yang setengah-setengah dalam belajar, dia akan sangat berbahaya bagi umat.
(Faidah dari majelis sama’ dan ta'liq ‘terhadap Kitab Tauhid karya Imam Ibnu Khuzaimah bersama Syaikh Al Musnid Hamid Akram Bukhory -hafidzahullah-)
Be sure that your mouth isn’t faster than your brain. *remindmyself*

Tuesday, 10 November 2015

Allah Maha Menutupi




Rasanya, semakin hari Allah makin membuat kita yakin dan sadar bahwa; kita, hanyalah makhluk hina, pun jika tampak bagus dan mulia —di mata manusia— itu hanya semata mata karena Allah telah tutupi aib kesalahan serta dosa dosa kita. Bagaimana tidak, jika saja Allah tampakkan semua dosa kita pastilah tidak ada satupun yang kan sudi melihat wajah kita
Allah, —mari bersama kita renungi ini— salah satu namaNya adalah As-sittiir, yang bermakna amat teramat berlebih dalam menutupi kesalahan aib serta dosa kita.
Jikalau Allah berkehendak, sangat mudah baginya untuk tidak menutupi serta membuka dosa kita, ke hadapan manusia.
Ada beberapa faidah yang terkandung dari memahami nama Allah As-Sittiir:
Pertama, tidak menceritakan dosa sendiri kepada orang lain, kecil ataupun besar.
Dalam shahih muslim disebutkan bahwa Rasulullah mengatakan “setiap ummatku akan mendapat ampunan kecuali yang menampakkan dosanya, dan diantara menampakkan dosa adalah seseorang berpagi, dan Allah telah menutupi dosanya semalam, lalu ia menceritakan aku telah melakukan ini itu.”
Menceritakan dosa, bisa berakibat tidak diampuninya dosa tersebut, hendaknya kita jika bercerita —atau curhat— tidak menceritakan hal yang berkaitan dengan dosa.
Kedua, tidak membeberkan cerita dosa atau aib orang lain.
Karena kata Rasulullah, barangsiapa yang menutupi aib saudaranya maka Allah kelak akan menutupi pula aibnya.
Ketiga, Allah memang menutupi dosa kita, tetapi bukanlah artinya kita tmerasa aman dan bersantai atas hijab Allah tersebut, ia haruslah disegerakan untuk dihapus dengan taubat.
Karena merasa aman dan pula meremehkan dosa, adalah dosa yang besar.
Keempat, memahami makna dari nama Allah As-Sittir seharusnya akan membuat kita semakin takjub dan cinta kepada Allah, Allah tetap menutup-nutupi dosa kita padahal Allah lah yang peraturannya dilanggar, Allah lah yang diingkari, Betapa ini semua menunjukkan Allah maha pengasih kepada kita.
*********************
Kalimat kalimat ini hanyalah sebuah pengingat untuk diri sendiri, jika harus menunggu suci baru kemudian berbagi perihal agama rasanya tidak akan ada orang yang berhak berbagi seperti ini di muka bumi.
Ghufroonaka yaa rabb, setelah sekian lama akhirnya memberanikan diri ngepost tulisan ini, saya bukanlah orang yang lebih baik dari teman teman, ghufroinak ghufroonak.

via udashidiq

Mimpi Indah Yang Nyata


Saudah seakan terbangun dari mimpi di suatu pagi
Mendapati dirinya sebagai sebagai seorang istri Rasulullah
Dia merasa segan menghadapi kemuliaan suaminya
Membandingkan dirinya dengan Rasulullah
Dengan Khadijah istri pertama Rasulullah
Dengan Aisyah pengantin kecil yang ditunggu
Saudah merasa bumi seolah bergoncang
Dilanda kebingungan serta keheranan
Jiwanya tak dapat menipu dirinya
Dia mengerti antara dirinya dan hati Rasulullah
Terdapat tabir yang tak mungkin dapat ditembus
Dan dia sangat mengerti sejak detik pernikahannya
Rasulullah merasa kasihan
Bukanlah rasa cinta
Namun semua dugaannya salah
Justru Saudah merasa puas,
Rasulullah telah mengangkat derajatnya
Menjadi wanita yang mulia
Dengan kehidupan yang bahagia.
Ialah Saudah,
Istri terkasih Rasulullah SAW.
Saudah,
cinderella yang dijemput pangeran mulia.
Janda biasa yang merasa minder bersuami Rasulullah, bahkan tak sebanding dengan Khadijah dan Aisyah,
namun tetap.. ia ratu bagi istana cintanya bersama Rasulullah SAW.
MasyaAllah, mimpinya menjadi nyata.
Sahabat Shalehah?
Walaupun kita tak sama dengan Khadijah, Aisyah, maupun Saudah,
Tapi.. teruslah berdoa dan berusaha memantaskan diri.
Semoga Allah pasangkan kita dengan lelaki mulia nan sholeh.
AAMIIN :)

Manda Ina Agustina

Jika Mau


Jika mau aku bisa menyapa lebih dulu, bertanya kabar tentang rindu, dan bersama kita nikmati waktu. Jika mau aku akan dengarkan segala cerita, biarkan hati tuahkan semua rasa, dan biarkan cinta tumbuh berbunga. Jika mau aku bisa mencuri, biarkan hati nyaman mengagumi, dan rasa tertawan mimpi
Tapi, aku tahu kau wanita, tulang rusuk yang bengkok, lebih banyak gunakan rasa dari logika. Pujian kagumku, mungkin bagimu adalah janji masa depan. Senyum tulusku, bisa jadi bagimu adalah sebuah tanda (kode).
Jadi, kuputuskan untuk diam dan berhenti. Aku ingin menjaga, bahkan sebelum kau halal bagiku. Karena buatku, mendekati atau mau didekati sebelum siap adalah KEJAHATAN. Dan memberi harap sebelum tahu arah kaki melangkah adalah PENYIKSAAN.
Aku tak minta kau mengerti atau menanti. Karena jodohku sudah menunggu, bahkan sebelum aku dilahirkan. Dan kelak jika cinta itu bersemi lagi, maka hati hanya inginkan pernikahan, restu suci dari wali, bukan yang lain ^^
Sen @SenyumSyukur 
Senyum Syukur Bahagia
#Teuku Ns #SenyumSykur

Monday, 26 October 2015

WAJIB BACA BUAT YANG LAGI PACARAN! #UDAHPUTUSINAJA


#DakwahJomblo | Bagaimana hubungan kamu dengan dia? Masihkah kalian mengikat status yang namanya pacaran? Baikah perbuatan itu? Adakah agama menganjurkan seperti itu? Tidak kan?. Nah, kenapa masih dilakukan hal seperti itu? Ngak takut akan dosa? atau tidak memperdulikan sama sekali. Itu hak kamu. Mau kamu lakukan atau tidak ya terserah.
Mungkin, kami disini hanya saling mengingatkan untuk melakukan hal positif. Berjalan sesuai dengan ajaranNya, mematuhi segala perintahNya. Hai kamu yang masih terikat hubungan pacaran, kita coba untuk hijrah yuk. Ini sedikit renungan pacaran yang mungkin dapat mengubah mu, hijrah ke arah yang lebih baik.

“#UdahPutusinAja”

  1. Belum nikah aja udah main tangan, udah nikah biasanya main serong. Oleh sebab itu Islam haramkan pacaran.
  2. Belum nikah aja udah pinjam-pinjam duit, sulit bayangkan tanggung jawabnya setelah nikah.
  3. Belum nikah aja udah berani mintanya macem-macem, pegang-pegangan, peluk-pelukan, cium-ciuman, iiih.  Jamin setelah nikah dia nggak minta juga sama orang lain? *Coba Pikirkan
  4. Belum nikah aja berani dengan Allah, padahal Allah yang selalu mengawasi dia. Apalagi sama kamu yg belum tentu tau?
  5. Belum nikah aja udah banyak rayuan pulau maksiat, kamu yakin itu cuma untukmu? Selama belum nikah belum tentu!
  6. Belum nikah aja udah bawaannya males mikirin masa depan, main game mulu. Mengharap apa untuk masa depan jika selalu begini?
  7. “Pacaran itu menjalin silaturahim”. Hahaa.. MODUS. Silaturahim itu hubungan kekerabatan, bukan pacaran.
  8. “Pacaran itu bikin semangat belajar”. Semangat belajar maksiat maksudnya?
  9. Pacaran itu buat dia bahagia, itukan amal shalih, ngarang ih! BTW, udah kamu bahagiakan kah ibumu? ayahmu? *Coba Pikirkan
  10. Kasian kalau diputusin! Sebaliknya, justru tetap pacaran yang bikin kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?
  11. Kasian dia diputusin, aku sayang dia! Putusin itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat dengan Allah, betul?
  12. Putus itu memutuskan silaturahim!. Hahaha… MODUS. Silaturahim itu ke kerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?
  13. Nggak tega putusin. Berarti kamu tega dia ke neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?
  14. Aku nggak zina kok, nggak pegang-pegangan, nggak telpon-telponan, kan nggak papa?. Nah bagus itu, berarti gak papa juga kalau putus.
  15. Aku pacaran untuk berdakwah padanya kok!. Ngarang lagi ya? Dakwahmu belum tentu sampai, maksiatmu pasti!
  16. Nanti putusin dia aku gak ada yang nikahin gimana?. Pacaran tak jaminan, realitasnya banyak yang nggak nikah sama pacarnya. Ya kan…?
  17. Berat mutusin!. Semakin berat (banyak) engkau tinggalkan maksiat untuk taat kepada Allah, Allah akan beratkan pahalamu.
  18. Nanti aku dibilang nggak laku gimana? Bukan dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja.
  19. Kalau aku putusin dia, dia ancam bunuh diri!. Belum apa-apa udah pakai ancaman psikologis. Gimana udah nikah, dia bakal ancam bunuh kamu! Emang kamu mau?
  20. Pacaran itu makan waktu, makan duit, makan hati, semua dimakan. Mending waktu, duit dan hati diinvestasikan ke Islam, setuju?
  21. “Pacaran memang tidak selalu berakhir zina”. “Tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran”.
  22.  Hai pria, coba pikir ini. “Senangkah bila engkau menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7 laki-laki berbeda?”
  23. Hai Wanita, coba pikir ini. Inginkah berkata kepada suamimu ketika akad kelak, “aku menjaga diriku utuh Untukmu, untuk hari ini”.
Karya Ustadz Felix Y
terakasih Unutk Dakkwah Jomblo

Hati-hati Operandi Ikhwan Modus!

Imam Al-Ghazali pernah mengatakan hal yang paling sering merusak kualitas agama kita adalah syahwat kemaluan dan nafsu perut. Pada umumnya godaan syahwat semacam ini lebih banyak dirasakan para pria.

Teruntuk kaum wanita juga menghadapi godaan, namun agak berbeda. Perhatian dan ungkapan kasih sayang lebih sering mengganggu kualitas iman mereka. Bahkan, godaan kadang datang dari orang yang kelihatannya saleh dan berakhlak baik. Para moduser maksudnya...

Kamu para wanita pernah mendapat modus-modus seperti itu? Kelihatannya mengajak pada kebaikan atau memberi semangat, eh ternyata ada udang di balik bakwan! Moduser-moduser seperti ini banyak lho jumlahnya!

Namanya juga moduser, modus operandinya pasti bermacam, mulai dari menulis whatsapp yang lumayan panjang, "Jalan dakwah yang panjang nan berliku ini memerlukan nyali para pejuang yang tiada kenal lelah menapaki tanjakan kebenaran. Untukmu yang menerima pesan ini, semoga Allah memberikan keistiqamahan dalam hati dan mempertemukan kita dalam naungan Jannah-Nya."

Kadang, dalam bentuk SMS motivasi, "Tetap istiqamah, Saleha! Selamat berjuang, semoga Allah menyertai!"

Ada juga yang ngetwit, "Alhamdulillah, saya lagi di depan Gedung DPR, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan aspirasi kita."

Kalau sudah akut, tengah malam BB tiba-tiba menyala. Sebaris BBM pun diterima, "Jangan lupa shalat malam ya! Ingat aku dalam munjatmu..."

Gombalisme itu banyak macamnya, Teman. Pernah ngga dimodusin kayak gitu?

Kita pasti menyadari bahwa di usia baligh godaan syahwat adalah godaan yang sangat besar dan sangat sulit kita taklukkan. Karenanya, bisa jadi ada maksiat-maksiat kecil yang berhubungan dengannya yak pernah kita lakukan. Tapi, kita patut bersyukur, sebab kita sadar harus menemukan solusi bagi masalah ini, agar kita tidak terjerembab ke lembah maksiat yang lebih besar.

"Wahai para pemuda. barangsiapa di antara kalian mampu menikah maka menikahlah! Karena, menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih dapat memelihara kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai bagi syahwatnya." (HR Bukhari dan Muslim)

Terinspirasi dari Buku Halaqah Cinta karya Arif Rahman Lubis

By Tausyiah Cinta

Ana Ukhibbuki Fillah, Ukhti?

“Aku mencintaimu karena Allah”, barangkali kalimat “sakral” tersebut sering kita ucapkan dalam do’a kita, berharap mendapatkan jodoh terbaik sesuai dengan kepantasan diri kita, berharap mendapatkan tulang rusuk yang sesuai dengan tulang rusuk kita, berharap yang terbaik dari yang terbaik.

Tapi pernahkah kita mengucapkan kalimat “ajaib” tersebut kepada kedua orang tua kita. Kepada Ibu kita yang telah mengandung kita selama 9 bulan 10 hari. Beliau yang selalu bersenandung dengan bacaan Al-Qur’an di saat kita menendang perutnya ketika dalam kandungan. Beliau yang mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah (lihat QS. Luqman: 14). Beliau yang mempertaruhkan nyawanya dalam kesakitan setara dengan 20 tulang retak dalam waktu yang secara terus menerus saat melahirkan kita.

Juga kepada ayah kita, beliau yang bersusah payah mencari nafkah bagi kelangsungan kehidupan kita. Beliau juga yang memainkan peran utama dalam kehidupan kita. Beliau yang selalu membaca Al-Quran di saat kita berada dalam kandungan, berharap kita akan menjadi manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Beliau yang selalu siap siaga di saat masa kehidupan kita akan dimulai. Beliau pulalah yang selalu terjaga saat kita mulai menjadi “alarm” dalam kehidupan mereka.

Maka beruntunglah kita yang masih mempunyai dua orang yang terdapat dalam firman Allah SWT dan dalam hadits Rasulullah SAW. Maka bagi kita yang sudah ditinggalkannya, do’a yang tiada henti-hentinya selalu kita sampaikan selaku anak yang berbakti kepada mereka dan insya Allah menjadi amal jariyah untuk mereka.

Sebelum menulis ini, penulis sudah menyatakan cintanya kepada orang tuanya dengan mengatakan kalimat “indah” ini. Bukankah apa yang ingin disampaikan penulis kepada orang lain terlebih dahulu harus dimulai dari si penulis?

Maka sudah siapkah kita untuk mengatakan “Aku mencintaimu karena Allah” kepada orang tua kita?
Hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu, dan hanya kepadanya kita akan kembali.

Alwie Augusra T. A, Junior Software Engineering PT. Indoguardika Cipta Kreasi.

Tonton video inspiratif dari AreWeFamousNow: Muslim Parents React To I Love

by Tausyiah cinta