Blogroll

Wednesday, 2 September 2015

Menjaga



Kadang kita tidak perlu kemana mana. Disini saja, sendirian. Sudah cukup. Untuk sejenak diam dan merenung, telah sejauh apa melangkah dan seberkah apa yang dilakukan.
Kita sibuk berbuat tapi lupa apakah Allah senang.
Kita sering bersikap tapi lupa ada Allah yang melihat.
Kita sering berpikir ini cuma dosa kecil tapi lupa bahwa menyepelekan dosa jauh lebih bahaya.
Sebelum tidur, dalam sendiriannya kita, mencoba mengingat ingat. Betapa banyak kesalahan (yang kita anggap) kecil, kita lakukan tapi selalu diulang ulang dan disepelekan. Kalau malaikat punya rasa, tentu dia sudah bosan dengan kelakuan kita yang luar biasa tidak tau malu di hadapan Allah.
Sedang bumi berputar dengan tasbihnya, langit berdiri tegak dengan rasa takut yang luar biasa atas kemurkaan Allah. Israfil yang sejak diciptakan tidak pernah lengah untuk terus siaga mendengar perintah Allah meniup sangkakala.
Lalu kita disini, berbuat semau hati tanpa peduli sibuknya malaikat disebelah kiri.
Pada setiap izzah yang tidak terjaga, malu yang entah kemana, dan harga diri yang terlalu rendah, mari kita perbaiki.
Yang menjaga akan dijaga Allah.
Tegaslah.
Via CatatanBesarku
17 Agustus 2015 - 23:55

Penghalang Qiyamul Lail (Part 2)

Seseorang datang kepada Imam Ghazali untuk

menanyakan kepada beliau mengenai sesuatu
yang menyebabkannya tidak bisa bangun malam
untuk mengerjakan shalat.
Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu”.
Al-Hasan menjelaskan,“Diantara pertanda seseorang
itu tenggelam dalam dosa adalah bahwa dadanya
tidak pernah lapang untuk bisa mengerjakan puasa
di siang hari dan mengerjakan shalat sunnah di
malam hari”
Sufyan Ats-Tsauri berkata,“Aku pernah terhalang
(tidak bisa bangun) untuk mengerjakan shalat
malam selama lima bulan disebabkan satu dosa yang
aku lakukan”.
Ditanyakanlah kepada beliau,“Dosa apakah itu?”
Beliau menjawab,“Aku melihat seseorang laki-laki
yang menangis, lalu aku katakan dalam hatiku bahwa
yang dilakukannya sebagai bentuk kepura-puraan saja”.
Ya Allah jika hanya karena sebuah ucapan meremehkan
yang hanya terucap dalam hati membuat seorang shalih
terhalang dari shalat malam beberapa bulan, lalu bagaimana
jadinya jika engkau tak ridha dan tak mengampuni kami?
#Quraners
Surabaya, 2 September 2015

Batasan Berbakti Kepada Orang Tua (Tadabbur)


Bismillah
Jika kita perhatikan dengan baik di dalam AlQuran, ketika Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua, Allah selalu menggunakan Al-Walidaan/Al-Walidain (arti: kedua orangtua).
Kenapa? Padahal dalam bahasa arab, abawaan atau abawain juga berarti kedua orangtua. Kenapa Allah tidak menggunakan kata abawaan? Kenapa harus walidaan?
Inilah hebatnya Al-Quran. (Penjelasan saya mungkin akan membingungkan, mohon untuk dibaca dengan seksama)
Mari kita lihat perbedaan kedua kata ini, yang ternyata akan berpengaruh pada ‘batasan’ kita dalam berbakti kepada orangtua.
Dalam bahasa arab, waalidaan (walid dan walidah) itu berarti ayah dan ibu, abawaan (abb dan umm) juga berarti ayah dan ibu. namun bedanya al-waalid itu ayah dan ibu yang melahirkan saja tanpa (harus) membesarkan dan mendidik. Sedangkan Al-Abawaan itu dipakai untuk ayah dan ibu yang melahirkan dan juga mendidik serta membesarkan.
Saya ulangi, waalid itu lebih umum dari abb, waalid itu dipakai untuk orangtua yang melahirkan saja. (Jadi semua versi orangtua apakah ia membesarkan dan mendidik ataupun tidak, ia termasuk pada istilah waalid) sedangkan abb (dan juga umm) dipakai untuk ayah dan ibu yang melahirkan kemudian membesarkan dan mendidik. Semoga bisa dipahami sampai sejauh ini.
Maka berawalkan dari istilah ini kita bisa memahami perintah Allah: wabil walidaini ihsaana (dan kepada orang tua maka berbaktilah)
Dengan menggunakan Waalidain, maka artinya berbaktilah kepada orang tua, meskipun mereka ‘hanya’ melahirkanmu meskipun mereka tidak membesarkan dan mendidikmu, tetaplah berbakti kepadanya.
Akan lain ceritanya jika Allah menggunakan kata Abb wa Umm atau Abawain, maka perintah berbakti kepada orangtua hanya terbatas jika orangtua itu membesarkan dan mendidik mereka, jika tidak maka tidak wajib berbakti kepada mereka.
Bisa dipahami kan? :)
Begitulah perintah Allah dalam berbakti kepada orangtua, apapun perlakuan mereka terhadap kita, Allah mengatakan tetaplah berbakti kepada mereka.
Kemudian pemahaman yang juga terkandung dalam perintah ini, adalah jika orangtua tidak mendidik kita saja Allah masih tetap memerintahkan kita untuk berbakti kepada mereka maka apalagi jika orangtua ‘hanya’ banyak melakukan kesalahan kepada kita. Ya, mereka pasti banyak kekurangan dan kesalahan dalam mendidik dan membesarkan kita, tapi bukan berarti dengan segala kekurangan dan kesalahan itu membuat kita tidak berbakti lagi, atau membuat rasa hormat kita menjadi berkurang.
Berbaktilah kepada mereka, terimalah mereka apa adanya, terimalah kekurangan mereka. Karena mereka adalah orangtua kita, karena Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada mereka.
Bahasan ini sebenarnya amat panjang, semoga maksudnya tetap tersampaikan meskipun singkat.
Kemudian terakhir, begitulah indahnya AlQuran, tidak sembarangan Allah menggunakan setiap kata di dalam AlQuran ini.
Beginilah juga indahnya tadabbur, begini jugalah perlunya kita memahami bahasa arab. :)
Sekian dulu, atas segala kekurangannya saya mohon maaf. Jika ada salah mohon dikoreksi.
Bandung, 1 September 2015
Akhuukum, Ibrahim Musa Ashidiqie

Menunggu Adalah Bentuk Memperjuangkan



Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari, dan bulan.
Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya.”
- Laksmi Pamuntjak
Bagi setiap hati yang ingin diperjuangkan,
Ada kepercayaan yang perlu ditumbuhkan. Ada kesabaran yang perlu dirawat. Ada rindu yang belum saatnya terucap. Ada untaian doa yang lebih dari sekadar kata.
Bagi setiap hati yang ingin diperjuangkan,
Kita akan belajar bahwa menunggu adalah salah satu bentuk perjuangan. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita menyerah. Kita pun tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita berhenti bersabar.
Bagi setiap hati yang ingin diperjuangkan,
Seorang perempuan harus menunggu hingga pembukaan kesekian untuk melahirkan buah hatinya. Seekor ulat harus menunggu di dalam kepompongnya untuk menjelma kupu-kupu yang jelita. Sebongkah batu harus menunggu untuk ditemukan hingga diasah menjadi intan permata.
Apakah menunggu berarti tidak memperjuangkan?
Semesta bergerak. Takdir akan mendekatkan apa yang telah digariskan sesuai rencana-Nya. Takkan ada yang tertukar. Takkan ada pula yang tak indah.
Bagi setiap hati yang ingin diperjuangkan,
Ada yang menunggu. Dan sedang berjuang dalam penantiannya.
***
Source: fadlillahocta

Thursday, 27 August 2015

PERSIAPAN CALON SUAMI !!



1. Suami itu title prestisius | Hanya yang bermental kuat yang bisa mengambilnya | Yang penakut hanya berkutat pada title Pacar Cowok. #PersiapanCalonSuami
2. Tak sadarkah kita para calon suami, bahwa kita dituntut lebih kelak saat berumah tangga. #PersiapanCalonSuami
3. Kita lah pemimpin rumah tangga | Kita lah yang menentukan mau dibawa kemana keluarga kita kelak. #PersiapanCalonSuami
4. Sudah sejauh apakah persiapan kita untuk mengemban amanah berat itu ? Main2 kah persiapan kita. Kasian anak istri nanti frown emotikon #PersiapanCalonSuami
5. Kuatkanlah hafalan Qur'an mu | Karena kelak engkau akan menjadi imam sholat malam bagi istrimu. #PersiapanCalonSuami
6. Tundukkanlah pandanganmu pada yg belum halal | Karena itu bukti kesetiaanmu pada istrimu kelak. #PersiapanCalonSuami
7. Banyaklah mengkaji Al-Qur'an dan Hadits | Kelak itu akan berguna saat istrimu minta pendapat sesuatu. #PersiapanCalonSuami
8. Pastikan setiap rupiah yg engkau dapat saat ini halal | Karena istri dan anak2mu kelak nasibnya ditentukan dari halal tidaknya rezekimu #PersiapanCalonSuami
9. Bangunlah sebelum subuh. Dan jangan tidur lagi setelahnya | Kelak aktifitas keluargamu bakal dimulai sepagi mungkin. #PersiapanCalonSuami
10. Rumuskan visi berkeluarga sejak sekarang. Tuliskan | Itu bakal jadi panduanmu menata keluarga kelak. #PersiapanCalonSuami
11. Pengen keluarga yg penghafal Qur'an ? Tuliskan | Maka nanti sejak akad, hamil, melahirkan, dan anak itu lahir, kau akan senandungkan.#PersiapanCalonSuami
12. Pengen keluarga yg bervisi surga ? Tuliskan | Maka nanti setiap keputusan yg kau ambil bakal berlandas Al-Qur'an dan Hadits. #PersiapanCalonSuami
13. Pastikan engkau mengadu masalah ke Allah | Jangan sampai saat nikah nanti, selain Allah dan istrimu, ada org lain yg mendenngar keluhmu.#PersiapanCalonSuami
14. Bekerja keraslah saat ini | Fitrahnya, dirimulah yang mencari uang | Sekali lagi, pastikan halal proses hingga hasilnya. #PersiapanCalonSuami
15. Berlatihlah kejujuran sejak saat ini, mulai dari hal2 kecil | Kelak kejujuran itu jadi penguat rumah tanggamu. #PersiapanCalonSuami
16. Pelajari konsep ketauhidan dengan baik. Sampai detail. | Itu mencegah keluargamu masuk dalam jurang kesyirikan. #PersiapanCalonSuami
17. Belajarlah sejak sekarng akrab dgn anak kecil. Belajar gendong anak yg bener juga | Anak mu kelak butuh sahabat yg mengerti dia. #PersiapanCalonSuami
18. Biasakan sejak muda berpakaian rapi dan wangi | Istrimu juga butuh suami yang merawat diri dan wangi menyenangkan hati smile emotikon #PersiapanCalonSuami
19. Pelajari juga gombalan romantis. Lihat bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya | Kelak istrimu bakal butuh momen2 seperti itu. #PersiapanCalonSuami
20. Asah lagi kesabaran mendengar | Ada dua telinga, dan satu mulut | Kemampuan mendengar curhatan istri, bs buat istri setia curhat. #PersiapanCalonSuami
21. Olahraga lah | Bagaimanapun, perut buncit itu mengganggu aktifitas. Serius. smile emotikon #PersiapanCalonSuami
22. Pelajari skill rumah tangga : Masak, nyuci, nyapu, ngepel, ngurus anak | Saat istri sakit atau hamil besar, kamu lah yg menggantikan. #PersiapanCalonSuami
23. Pelajari skill memasak yg dasar juga. Ga perlu enak banget. Cukup jangan asin dan hambar aja | Kelak surprisekan masakan mu ke istri.#PersiapanCalonSuami
24. Lupakan masa lalu mu dan masa lalu istri mu | Ga perlu diingat lagi | Hadapi hidup ke depan bersama. #PersiapanCalonSuami
25. Pelajari juga pengetahuan dasar soal organ reproduksi wanita, tentang siklusnya, dan gejolak hormonal menjelang haid | Bersabarlah :)#PersiapanCalonSuami
26. Berusahalah sejak sekarang jaga rahasia orang | Kelak, engkau akan memegang rahasia istrimu, dan kamu akan pegang kuat itu. #PersiapanCalonSuami
27. Pelajari skill penanganan kegawatdarurat di rumah. Misalnya luka : tersayat, kebakar, jatuh | Jangan suami org lain yang duluan. #PersiapanCalonSuami
28. Biasakan sering menghadiri kajian ilmu agama | Kelak, engkaulah yg akan ngajak istrimu datang kajian, berdua. :’)#PersiapanCalonSuami
29. Biasakan tepat waktu dalam segala hal | Karena, ga mau kan istrimu nunggu kelamaan pas minta dijemput ? smile emotikon #PersiapanCalonSuami
30. Dan terakhir, haus lah dengan ilmu | Terus belajar akan segala hal | Prioritaskan ilmu agama, tauhid jadi landasan. #PersiapanCalonSuami
31. Kelak, persiapanmu yang tak mudah ini akan diberi balasan Allah berupa jodoh terbaik menurutNya. #PersiapanCalonSuami
32. Semangat mempersiapkan diri para calon suami yang luar biasa hebatnya ! Berikan istri kita hadiah terbaik, dgn kesolehan diri kita. #PersiapanCalonSuami

Via vienanissa 

Monday, 27 July 2015

IBARAT




Kalo kamu ketemu cewek muslim, terus kamu nanya “Kenapa belum menutup aurat?” dan dia bilang “Belum siap, akhlaqnya belum bener”

itu IBARAT kamu nanya

“Kenapa ga baca quran?” dan dijawab “Belum siap, belum bisa tilawah indah dan belum hapal 30 juz”

atau IBARAT kamu nanya

“Kenapa ga salat?” dan dijawab “Belum siap, masih belum bisa salat khusyu ampe nangis-nangis”

atau IBARAT kamu nanya

“Kenapa ga sedekah?” dan dijawab “Belum siap, belum punya perusahaan sendiri dan gaji puluhan juta”

atau IBARAT kamu nanya

“kenapa ga puasa?” dan dijawab “Belum siap, belum bisa puasa senin kamis, daud dan puasa lainnya”
——-

Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah, dan berusaha untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Dan untuk mencapainya, perlu proses, dari yang kecil untuk menjadi luar biasa.

Yang puasa sunahnya rajin juga waktu dulunya pernah tidak tamat 30 hari puasa ramadhan.

Yang sedekahnya besar juga waktu dulu sedekahnya dari receh-receh di sakunya.

Yang salatnya khusyu juga waktu dulu pernah ga hapal bacaan salat.

Yang tilawahnya bagus dan hapal 30 juz juga waktu dulunya juga belajar iqro jilid 1

Maka yang akhlaqnya bener juga, bisa dimulai dari mengerjakan sesuatu yang kecil.

Coba, lirik sehelai kain itu, yakinkan hati,  jika sudah yakin, kau gunakan tuk menutup apa yang memang berharga untukmu. Kalau belum yakin, biar kami saja yang pakai, namun sayang, kami laki-laki tak diperintahkan memakai hijab, karena perintah ini spesial, perintah dari tuhan ini hanya untuk kamu, para wanita wanita muslim, yang akan tuhan bukakan pintu syurganya :)


 via choqi-isyraq

Thursday, 23 July 2015

Untukmu, kaum Adam!


Aku cuek?
Ini caraku menjaga hati
Aku sombong?
Itu bukan sombong..hanya tak ingin berlebihan dalam berinteraksi dgn lelaki
Aku gak gaul?
Dirumah aku sudah mendapatkan banyak perhatian, mengapa aku harus berlebih-lebihan didepan umum?
Aku sulit diajak bicara?
Masa sih?
Karena lelaki yang baik menggunakan cara yg anggun untuk berbicara dengan perempuan.
Aku gak mau diajak pacaran?
Itulah aku! Kehormatanku tidak mau kuumbar dan kujual hanya demi lelaki yg belum halal untukku!
Aku ketinggalan jaman?
Aku tidak peduli!
Aku tidak takut jika orang-orang meninggalkanku. Aku takut jika Allah berpaling dariku dan meninggalkanku.
Aku sok alim?
Lho! Karena aku bangga sebagai seorang muslimah! Masalah buat kamu? Hidupku bukan untuk menyenangkan hatimu!
Terserah orang mau berkata apa. Aku seperti ini karena aku tahu bahwa Allah sudah memuliakan perempuan dengan cara yg indah. Karena agamaku punya cara sendiri untuk meninggikan martabat perempuan.
Jika kamu tidak suka cara dan sikapku, silahkan pergi dari aku. Lelaki yang baik pasti akan mengerti maksudku.
Dan aku hanya ingin taat kepada Pemilik Hatiku, Allah.
Jika yakin akan janji Allah, mengapa harus gelisah?
Yang perlu kulakukan hanya taat.
Dan kamu, hai lelaki, aku tak meminta pengertianmu, pun tidak mengemis perhatianmu, aku hanya ingin kau menghormati aku dan kaum hawa yang lain, bahwa kami sedang menjaga diri dan menjaga hati.
Terimakasih.
Dan untuk seseorang disana.. yg namanya sudah tertulis untukku.. jaga diri baik-baik, aku pun disini sedang menjaga, insyaallah.
Minta selalu kepada Allah Sang Pemilik Hati. Sampai bertemu suatu saat nanti, insyaallah. Aku ada, insyaallah.
Nur Anisa
19 Juli 2015