Memperjuangkan seseorang itu bukan sekedar memperjuangkan hatinya, tetapi lebih dari itu.Memperjuangkan seseorang itu, tentang mengusahakan sesuatu yang lebih dalam. Memperjuangkan seseorang itu, tentang mengusahakan kebersamaan di dunia, serta kehidupan setelahnya agar jadi nyata.Ia adalah tentang kesediaan mengambil tanggung jawab, serta kelapangan pada senyum yang hangat dalam mengingatkan yang baik.Memperjuangkan seseorang itu, adalah upaya. Upaya yang sungguh untuk mendewasa. Tanpa lupa menertawakan hal-hal kecil yang konyol serta bodoh. Sebab tawa adalah perekat. Ia sebagian dari sejuta macam cara untuk saling menemukan hati satu sama lain dalam rasa masing-masing.Memperjuangkan seseorang adalah tentang dada yang luas dalam meminta maaf, dalam pernyataan yang jujur atas ketidak mampuan akan sesuatu. Dan memperjuangkan seseorang, adalah juga tentang menerima keadaan satu sama lain. Dengan penuturan yang tulus. Dengan menyeka air mata yang meleleh. Untuk kemudian membesarkan hatinya, bahwa kita akan tumbuh dan melangkah bersama. Dengan menggenggam erat syukur dan sabar. Atas apapun. Hari ini, esok, ataupun nanti.Achmad LutfiWolfsburg, 07.06.2015
Blogroll
Wednesday, 8 July 2015
Memperjuangkan Seseorang
Dengan apa kita saingi mereka?
Oleh : Irsyad SyafarBetapa beruntungnya orang-orang yang tinggal di sekitar Masjid Nabawi. Setiap waktu shalat, mereka bisa shalat berjamaah di masjid tersebut. Satu kali shalat saja mereka
berjamaah di situ, lebih baik
dari 1000 shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram tentunya. Kita butuh shalat berjamaah tiada putus selama 200 hari atau enam setengah bulan lebih untuk menyamai pahala satu kali shalat mereka tersebut.Rasulullah saw bersabda:
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ ﻗَﺎﻝَ « ﺻَﻼَﺓٌ
ﻓِﻰ ﻣَﺴْﺠِﺪِﻯ ﻫَﺬَﺍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺻَﻼَﺓٍ
- ﺃَﻭْ ﻛَﺄَﻟْﻒِ ﺻَﻼَﺓٍ - ﻓِﻴﻤَﺎ ﺳِﻮَﺍﻩُ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺟِﺪِ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ .»
ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡَ
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat - atau seperti seribu shalat – di masjid- masjid tempat lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR.
Muslim)Kemudian mereka datang shalat ke masjid nabawi dengan berjalan kaki. Karena akses mobil tidak ada ke depan pintu masjid. Rata rata mereka berjalan kaki setiap kali shalat tidak kurang dari 500 - 1000 langkah pergi dan 500 - 1000 langkah pulang. Ada yang lebih dari itu, bisa mencapai 2000 langkah. Maka sebanyak langkah kaki mereka itu, salah satunya Allah angkatkan derjat dan yang lainnya Allah hapuskan dosa mereka. Itu baru satu kali shalat. Bila 5 kali shalat tentunya angkanya akan berlipat ganda.Kalikanlah dalam sepekan atau sebulan.Rasulullah saw bersabda:
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ « ﻣَﻦْ ﺗَﻄَﻬَّﺮَ
ﻓِﻰ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﺛُﻢَّ ﻣَﺸَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻴْﺖٍ ﻣِﻦْ
ﺑُﻴُﻮﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟِﻴَﻘْﻀِﻰَ ﻓَﺮِﻳﻀَﺔً ﻣِﻦْ ﻓَﺮَﺍﺋِﺾِ
ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺧَﻄْﻮَﺗَﺎﻩُ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻤَﺎ ﺗَﺤُﻂُّ
ﺧَﻄِﻴﺌَﺔً ﻭَﺍﻷُﺧْﺮَﻯ .ًﺔَﺟَﺭَﺩ ُﻊَﻓْﺮَﺗ ( )ﻣﺴﻠﻢ
ﺭﻭﺍﻩDiriwayatkan dari Abu Hurairah, telah bersabda Rasulullah saw: “Barang siapa yang berwudhuk di rumahnya, kemudian ia berjalan ke salah satu rumah Allah untuk menunaikan shalat fardhu, maka langkah kedua kakinya, salah satu menghapuskan dosa dan yang lain menaikkan derjat.” (HR Ibnu hibban di
shahihkan oleh Albany).Lalu mereka juga sangat sering mendapatkan shalat jenazah setiap kali shalat berjamaah.
Bahkan kadang lebih dari satu jenazah dalam satu kali shalat. Maka mereka mendapatkan pahala sebesar bukit uhud setiap kali menshalatkan jenazah. Bila tiap hari sampai 3 – 5 kali shalat jenazah, tentu pahala dalam sebulan dan setahun juga tidak terhingga.Rasulullah saw bersabda:
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ ﻗَﺎﻝَ « ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻰ
ﺟَﻨَﺎﺯَﺓٍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘْﺒَﻌْﻬَﺎ ﻓَﻠَﻪُ ﻗِﻴﺮَﺍﻁٌ ﻓَﺈِﻥْ
ﺗَﺒِﻌَﻬَﺎ ﻓَﻠَﻪُ ﻗِﻴﺮَﺍﻃَﺎﻥِ ». ﻗِﻴﻞَ ﻭَﻣَﺎ
ﺍﻟْﻘِﻴﺮَﺍﻃَﺎﻥِ ﻗَﺎﻝَ « ﺃَﺻْﻐَﺮُﻫُﻤَﺎ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺣُﺪٍ
» . (ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ )Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw, bersabda: “Barang siapa yang menshalatkan jenazah dan tidak mengantarkannya (ke kuburan), maka ia mendapat satu qiirath. Jika ia ikut mengantarkan jenazah tersebut, maka ia mendapat 2 qiirath. Ditanyakan kepada Rasulullah: “Apa itu 2 qiirath?”. Rasulullah menjawab: “Qirath yang paling kecil itu seperti bukit uhud”. (HR Muslim)Kemudian bila mereka shalat di Masjid Nabawi, mereka juga berkesempatan untuk shalat atau berdoa di salah satu taman- taman sorga, yaitu tempat yang bernama raudhah. Tempat antara rumah (kubur) Rasulullah saw dengan mimbar Beliau.Rasululllah telah bersabda:
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑْﻦِ ﺯَﻳْﺪٍ ﺍﻟْﻤَﺎﺯِﻧِﻲِّ ، ﺭَﺿِﻲَ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺑَﻴْﺘِﻲ
ﻭَﻣِﻨْﺒَﺮِﻱ ﺭَﻭْﺿَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺭِﻳَﺎﺽِ .ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ (ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ )Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Al Mazinni ra, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman dari taman-taman sorga.” (HR Bukhari dan Muslim).Imam Nawawi, menyebutkan dalam keterangannya terhadap hadits ini bahwa shalat atau ibadah di tempat tersebut dapat mengantarkan ke sorga. Pernyataan Imam Nawawi ini tentunya dengan makna yang lebih khusus, sebab semua ibadah pastilah mengantarkan ke sorga. Pengkhususan raudhah oleh Rasulullah saw tentunya mengandung makna kemuliaan dan keagungan. Bila setiap hari fasilitas ini dapat dinikmati sekali saja dari lima waktu shalat, tentunya kemulian semakin banyak bila berlangsung rutin sepanjang bulan dan tahun.Disamping itu mereka bisa juga setiap waktu shalat menziarahi kubur Rasululllah saw dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta juga bisa langsung mengucapkan salam kepada Rasulullah dan kedua manusia
mulia tersebut.ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ -ﻢﻠﺳﻭ ﻗَﺎﻝَ « ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ
ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﻋَﻠَﻰَّ ﺇِﻻَّ ﺭَﺩَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰَّ ﺭُﻭﺣِﻰ
ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺭُﺩَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡَ (ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ
ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ )Artinya: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasululllah saw telah bersabda: “Tidak ada seorangpun mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku , sehingga aku membalas salamnya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syekh Albany).Hadits ini berlaku bagi semua yang mengucapkan salam kepada Rasulullah saw di mana saja berada. Namun menyampaikan dan mengucapkan salam langsung di depan kuburan Beliau tentu menjadi suasana dan nuansa lain.
Disamping keutamaan di atas, masih banyak lagi sampingan-sampingan amal shaleh yang bisa diraih.Sebelum memasuki pagar Masjid Nabawi, banyak orang yang menjual mushaf Al Quran waqaf. Ada yang harga 20 real dan ada yang 40 real. Silakan beli mushaf tersebut, lalu akan diberi stempel waqaf lillah. Lalu letakkanlah mushaf itu di dalam rak Al Quran di Masjid Nabawi. Sepanjang tahun jutaan orang yang umrah dan haji akan membaca mushaf waqaf tersebut. Maka pahalanya akan mengalir tak pernah henti. Begitu banyaknya kemulian yang Allah berikan bagi orang yang ada disekitar Masjid Nabawi. Tak mudah menyainginya. Apalagi kalau yang berada dekat dengan Masjidil Haram. Shalat di sana lebih baik atau sama dengan 100.000 shalat di tempat lain. Untuk mengimbangi satu kali shalat berjamaah saja butuh 20.000 hari shalat berjamaah di tempat lain atau 54 tahun lebih. Bagaimana untuk menyaingi sepekan shalat mereka? Mereka bisa thawaf tiap hari, berdoa di multazam, shalat di belakang maqam Ibrahim dan di dalam hijir Ismail dan lain sebagainya. Maka tidak ada pilihan bagi kita yang berada jauh dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, kita harus melipatgandakan amal shaleh kita. Menjaga shalat berjamaah di masjid, memperbanyak ibadah sunnah, berinfaq, peduli kepada sesama, giat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan memperbanyak taubat serta meminimalisir dosa dan maksiat. Bila tidak, dengan apa akan kita saingi mereka untuk meraih sorga Allah? Wallahu A’laa wa A’lam…
Kritik dan Baik Sangka
(1) Kita tidak bisa membaca hati manusia, apalagi hanya dari dunia maya.(2) Belum tentu orang yang menuliskan rutinitas amalnya adalah riya’. Bisa jadi ia berniat menyemangati kawannya.(3) Belum tentu orang yang mengabarkan rizqi yang diterimanya adalah berbangga-bangga dengan harta. Bisa jadi, ia ingin mensyiarkan syukur atas karunia-Nya.(4) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.(5) Mereka yang menuliskan pengalamannya di socialmedia, belum tentu ingin menjadi selebritis dunia maya. Bisa jadi ada inspirasi yang hendak dibagikannya.(6) Mereka yang mengabarkan sedang mengisi kultum entah di mana, belum tentu ingin dipuji amal dakwahnya. Bisa jadi ia ingin memberi harapan pada rekannya, bahwa di sana dakwah masih menyala.(7) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.(8) Mereka yang menyampaikan secuplik ilmu yang diketahuinya, belum tentu ingin diakui banyak ilmunya. Bisa jadi ia terpanggil untuk menyampaikan sedikit yang ia punya.(9) Mereka yang gemar mengkritisi kekeliruan yang dilihatnya, belum tentu merasa dirinya paling benar sedunia. Bisa jadi, itu karena ia sungguh mencintai saudaranya.(10) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.(11) Mereka yang gemar menuliskan apapun yang dipikirkannya, belum tentu ingin diakui sebagai perenung berwibawa. Bisa jadi, ia adalah pelupa, dan mudah ingat dengan membagikannya.(12) Mereka yang selalu merespon apa yang dilihatnya, belum tentu ingin eksis di dunia maya. Bisa jadi ia memang senang berbagi yang dia punya.(13) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.(14) Tapi baik sangka, tak berarti membiarkan kawan-kawan melakukan sesuatu yang nampak keliru di mata kita.(15) Baik sangka, harus disertai dengan saling mengingatkan agar tidak tergelincir niatnya, agar tidak terhapus pahala amalnya.(16) Isi hati adalah misteri. Namun apa yang nampak keliru di mata kita, di situlah tugas kia untuk meluruskannya.(17) Baik sangka itu menentramkan.
Namun, saling mengingatkan juga
merupakan kebutuhan.(18) Baik sangka itu indah, tapi bukan
berarti membiarkan saudara terlihat
salah.(19) Baik sangka, dan nasihat-nasihati adalah kewajiban sesama muslim.(20) Semoga kita bisa senantiasa belajar bersama.Mari berbaik sangka
pursof
Quranmu Cermin Hatimu
Kualitas AlQur'an kita, baik kualitas hafalan ataupun frekuensi interaksi kita dengan Al-Qur'an bisa menjadi cermin atas kondisi hati kita.Sebagaimana yang sahabat Utsman bin Affan R.A katakan, “Jika hati kalian bersih niscaya kalian tidak akan pernah bosan membaca Al-Qur'an.“Ketika hafalan tak terjaga, bisa jadi demikian juga dengan hati kita yang tak terjaga.Saat sedikit sekali waktu yang tersempatkan untuk AlQur'an, bisa jadi demikian juga dengan hati kita, barangkali ia juga tak sempat mengingat Allah.Maka periksa seberapa dekat interaksi kita dengan Al-Qur'an hari ini.
Periksa juga kualitas ayat, surat, juz yang telah dihafal.
Periksa berapa kali hafalan kita tergelincir, salah tempat, serta hitung berapa kali kesalahan dari ayat-ayat yang telah terlupa.Jika banyak salah dan lupanya, tentu ada yang salah dengan hati kita.
[Renungan] #Syukur
Mari mulai pagi ini dengan bersyukur kepada Tuhan kita dengan lisan kita dan seluruh perasaan kita.
Ada orang merasa miskin ketika
tabungannya dibawah 1 Milyar, tapi ada orang yang merasa kaya hanya karena
tabungannya melewati angka 10 juta.
Ada orang yang masih merasa susah,
padahal gajinya di atas 20 juta, tapi ada yang merasa bahagia hanya karena
gajinya naik 45 ribu saja.
Ada orang yang merasa bajunya itu-itu
saja, padahal koleksi baju di lemarinya lebih dari 70, sementara ada yg merasa
ingin berbagi baju dengan yang lain, padahal koleksinya hanya 8 baju.
Ada orang yang tidak berbagi karena
merasa semua kekayaannya adalah jerih payahnya, sementara ada tukang becak yang
mem-free-kan ongkos setiap Jum’at.
Ada orang yang tidak pernah merasa cukup
dengan satu rumah tinggal dan satu lagi rumah untuk istirahat akhir pekan,
sementara ada yang bahagia dan merasa nyaman saat mampu membayar kontrakannya
bulan itu.
Ada orang resah ketika nilai harga saham
yang dia pegang turun 1%, sementara ada yang bahagia ketika yang didapat hari
ini cukup untuk dagang besok.
Ada orang bermobil seharga ratusan juta
berqurban kambing seharga 2 juta, ada orang berhonda Supra X berqurban kambing
3,6 juta..
Sebenarnya tidak harus selalu
dipertentangkan, karena ada pula orang mampu yang pandai bersyukur dan orang
miskin yang kufur nikmat.
#Syukur adalah pekerjaan hati,
dilanjutan lisan dan amalan pembuktian. Semua orang bisa bersyukur, bisa pula
kufur nikmat, tapi alangkah indahnya jika si kaya pandai bersyukur dan si
miskin juga pandai bersyukur dengan caranya masing-masing.
Semua agama pasti mengajarkan semua
pemeluknya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan semua agama membenci
kekikiran, saya yakin itu.
Kata Gandi, dunia ini cukup untuk semua
orang, tapi tak cukup untuk satu orang rakus. Itu semua tentang syukur dan
berbagi.
Dalam Islam diajarkan do’a,” Allohumma a-inna ‘ala dzikrika, wa syukrika wa
husni ‘ibadatika”, dibaca setiap selesai sholat, 5 kali sehari
seharusnya. Artinya, “Ya Allah bantulah aku dalam mengingat-Mu, bantulah
untuk mampu bersyukur atas semua nikmat-Mu, dan bantu dalam memperbaiki ibadah
kami kepada-Mu”
Selamat menjadi hamba yang pandai
bersyukur, berbahagialah saat mampu membahagiakan orang lain.
-Pak Banu Muhammad-
Cerpen: Indah itu Bernama Berjama’ah
Pada hari itu, aku bersama sahabat-sahabatku telah bersepakat untuk mengadakan buka bersama sekaligus bersilaturahmi sebelumnya kerumah salah satu sahabat kami yang baru saja melahirkan seorang putri cantik. Dari sahabat kami yang satu ini kami pun banyak belajar banyak hal tentang bagaimana luar biasanya perjuangan mengandung serta melahirkan. Hatiku pun tak berhenti mengucap mashaAllah subhanAllah ketika setiap tuturannya begitu membuat aku terkagum padanya, terlebih aku terkagum pada ibuku. Tak kuasa membayangkan bagaimana ibuku dulu melahirkan aku kedunia ini.
Tak habis sampai disitu, ternyata waktu telah menunjukan pukul 17.00, artinya kami pun harus segera pamit untuk bersegera bersiap mencari tempat untuk berbuka. Setibanya ditempat yang kami tuju, kami tidak mendapati tempat untuk berbuka. Karena beberapa dari pengunjung sudah lebih awal membooking tempat. Wajar saja, selama bulan ramadhan setiap tempat ramai. Akhirnya kami pun memutuskan untuk membeli teh gelas karena nampaknya adzan akan segera tiba, kami pun bersegera menuju mesjid terdekat di salah satu wilayah tersebut. Setibanya disana, kami berkesempatan mendengarkan sedikit kultum dari ustadz yang akan meng-imami kami sholat nantinya. Sampai pada waktu adzan tiba, Alhamdulillah kami mendapatkan ta’jil yang sudah disiapkan oleh panitia mesjid. Bersyukur sekali kami pada waktu itu, meski pun diluar rencana untuk berbuka di mesjid. Kami pun bergegas berwudhu dan sholat. Hikmah indah itu bernama jama’ah, kali ini kami berkesempatan sholat maghrib di mesjid berjama’ah. Imam sholat kami kali itu begitu indah melantunkan ayat-ayat surat dalam Al-qur’an, membuat kami terhanyut kedalamnya.
Sampai akhirnya, kami pun bisa bersyukur bisa mendapatkan tempat kosong untuk makan makanan berat setelah usai shalat. Ketika itu hati kami pun tenang, karena kami telah shalat lebih dulu, sehingga tidak terburu-buru. Dan kenikmatan itu adalah ketika kami bisa berkumpul serta berkumpul kembali di ramadhan tahun ini. Selalu, kenikmatan itu bernama berjama’ah, indah itu bernama berjama’ah …
Ramadhan… Ramadhan.. Ku mohon jangan pergi…
Bogor, 7 Juli 2015
Fikratus Sofa Muzakkiya
Cerpen: Tentang Mengungkapkan
- Sebuah percakapan pendek antara temanku dan aku dalam perjalanan pulang ketika itu…
- A: “Kamu tahu nggak, dia cerita sama aku. Katanya dia mau bilang tentang perasaan dia ke kamu. Dia bilang kalau dia bakal janji jaga hati dia buat kamu. So sweet banget ya dia.” Kataku pada temanku dengan penuh semangat.
- B: “Hmmm…” Wajahnya memerah seketika lalu tersenyum manis.
- A: “Apa yang akan kamu katakan jika ia mengatakan perasaannya padamu?” Tanyaku penasaran
- B: “Aku berharap dia tidak mengatakannya pun tidak mengatakan berjanji menjaga hatinya untukku.” Katanya sambil menundukkan kepala.
- A: “Aku memahami itu, bisa kamu beri alasanmu padaku?”
- B: “Kalau dia justru bilang gitu, dia malah buat hati aku nantinya sesak dear.” Jelasnya padaku. “Lantas jika dia telah berkata itu padaku, apa yang ia harapkan? Jika aku pun menyimpan perasaan untuknya. Apa yang akan dia lakukan? Berjanji untuk menjaga hati ini untuknya? Memintaku menunggu tanpa kejelasan?” Tambahnya menjelaskan penuh tanya.
- A: “Kamu benar…” Aku pun menganggukkan kepala seraya menyetujui alasannya.
- B: “Sungguh itu nggak akan mengubah sesuatu apa pun, karena kita bahkan nggak tahu kapan Allah memanggil kita. Boleh jadi dia berjanji hari ini seperti itu, tapi hati manusia siapa yang tahu. Bisa berbolak-balik. Usia manusia siapa yang tahu. Sebagai contoh, aku janji sama kamu 2 tahun lagi aku bakal kerumah kamu, tapi Allah ternyata berkehendak aku bertemu denganNya lebih dulu. Aku apa daya? Lantas janji itu Tuhan akan tanyakan. Aku bisa apa?” Tanyanya. “Kalau dia bersungguh-sungguh, dia nggak akan mengatakan itu tanpa memastikan dear. Nggak akan menjanjikan banyak hal hanya dengan kata-kata semata. Ini untuk kebaikan dia juga. Sampaikan padanya, temui saja kedua orangtuaku jika ia telah siap.” Jawabnya memastikan…
- A: “Iya dear…” Jawabku singkat seraya menyetujui ucapannya…
- Bogor, 8 Juli 2015
- Fikratus Sofa Muzakkiya
Subscribe to:
Posts (Atom)
