Blogroll

Wednesday, 8 July 2015

Kritik dan Baik Sangka


(1) Kita tidak bisa membaca hati manusia, apalagi hanya dari dunia maya.
(2) Belum tentu orang yang menuliskan rutinitas amalnya adalah riya’. Bisa jadi ia berniat menyemangati kawannya.
(3) Belum tentu orang yang mengabarkan rizqi yang diterimanya adalah berbangga-bangga dengan harta. Bisa jadi, ia ingin mensyiarkan syukur atas karunia-Nya.
(4) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(5) Mereka yang menuliskan pengalamannya di socialmedia, belum tentu ingin menjadi selebritis dunia maya. Bisa jadi ada inspirasi yang hendak dibagikannya.
(6) Mereka yang mengabarkan sedang mengisi kultum entah di mana, belum tentu ingin dipuji amal dakwahnya. Bisa jadi ia ingin memberi harapan pada rekannya, bahwa di sana dakwah masih menyala.
(7) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(8) Mereka yang menyampaikan secuplik ilmu yang diketahuinya, belum tentu ingin diakui banyak ilmunya. Bisa jadi ia terpanggil untuk menyampaikan sedikit yang ia punya.
(9) Mereka yang gemar mengkritisi kekeliruan yang dilihatnya, belum tentu merasa dirinya paling benar sedunia. Bisa jadi, itu karena ia sungguh mencintai saudaranya.
(10) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(11) Mereka yang gemar menuliskan apapun yang dipikirkannya, belum tentu ingin diakui sebagai perenung berwibawa. Bisa jadi, ia adalah pelupa, dan mudah ingat dengan membagikannya.
(12) Mereka yang selalu merespon apa yang dilihatnya, belum tentu ingin eksis di dunia maya. Bisa jadi ia memang senang berbagi yang dia punya.
(13) Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji.
(14) Tapi baik sangka, tak berarti membiarkan kawan-kawan melakukan sesuatu yang nampak keliru di mata kita.
(15) Baik sangka, harus disertai dengan saling mengingatkan agar tidak tergelincir niatnya, agar tidak terhapus pahala amalnya.
(16) Isi hati adalah misteri. Namun apa yang nampak keliru di mata kita, di situlah tugas kia untuk meluruskannya.
(17) Baik sangka itu menentramkan.
Namun, saling mengingatkan juga
merupakan kebutuhan.
(18) Baik sangka itu indah, tapi bukan
berarti membiarkan saudara terlihat
salah.
(19) Baik sangka, dan nasihat-nasihati adalah kewajiban sesama muslim.
(20) Semoga kita bisa senantiasa belajar bersama.
Mari berbaik sangka

pursof 

Quranmu Cermin Hatimu


Kualitas AlQur'an kita, baik kualitas hafalan ataupun frekuensi interaksi kita dengan Al-Qur'an bisa menjadi cermin atas kondisi hati kita.
Sebagaimana yang sahabat Utsman bin Affan R.A katakan, “Jika hati kalian bersih niscaya kalian tidak akan pernah bosan membaca Al-Qur'an.“
Ketika hafalan tak terjaga, bisa jadi demikian juga dengan hati kita yang tak terjaga.
Saat sedikit sekali waktu yang tersempatkan untuk AlQur'an, bisa jadi demikian juga dengan hati kita, barangkali ia juga tak sempat mengingat Allah.
Maka periksa seberapa dekat interaksi kita dengan Al-Qur'an hari ini.
Periksa juga kualitas ayat, surat, juz yang telah dihafal.
Periksa berapa kali hafalan kita tergelincir, salah tempat, serta hitung berapa kali kesalahan dari ayat-ayat yang telah terlupa.
Jika banyak salah dan lupanya, tentu ada yang salah dengan hati kita.

[Renungan] #Syukur


Mari mulai pagi ini dengan bersyukur kepada Tuhan kita dengan lisan kita dan seluruh perasaan kita.
Ada orang merasa miskin ketika tabungannya dibawah 1 Milyar, tapi ada orang yang merasa kaya hanya karena tabungannya melewati angka 10 juta.
Ada orang yang masih merasa susah, padahal gajinya di atas 20 juta, tapi ada yang merasa bahagia hanya karena gajinya naik 45 ribu saja.

Ada orang yang merasa bajunya itu-itu saja, padahal koleksi baju di lemarinya lebih dari 70, sementara ada yg merasa ingin berbagi baju dengan yang lain, padahal koleksinya hanya 8 baju.
Ada orang yang tidak berbagi karena merasa semua kekayaannya adalah jerih payahnya, sementara ada tukang becak yang mem-free-kan ongkos setiap Jum’at.
Ada orang yang tidak pernah merasa cukup dengan satu rumah tinggal dan satu lagi rumah untuk istirahat akhir pekan, sementara ada yang bahagia dan merasa nyaman saat mampu membayar kontrakannya bulan itu.
Ada orang resah ketika nilai harga saham yang dia pegang turun 1%, sementara ada yang bahagia ketika yang didapat hari ini cukup untuk dagang besok.

Ada orang bermobil seharga ratusan juta berqurban kambing seharga 2 juta, ada orang berhonda Supra X berqurban kambing 3,6 juta..
Sebenarnya tidak harus selalu dipertentangkan, karena ada pula orang mampu yang pandai bersyukur dan orang miskin yang kufur nikmat.
#Syukur adalah pekerjaan hati, dilanjutan lisan dan amalan pembuktian. Semua orang bisa bersyukur, bisa pula kufur nikmat, tapi alangkah indahnya jika si kaya pandai bersyukur dan si miskin juga pandai bersyukur dengan caranya masing-masing.

Semua agama pasti mengajarkan semua pemeluknya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan semua agama membenci kekikiran, saya yakin itu.
Kata Gandi, dunia ini cukup untuk semua orang, tapi tak cukup untuk satu orang rakus. Itu semua tentang syukur dan berbagi.

Dalam Islam diajarkan do’a,” Allohumma a-inna ‘ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatika”, dibaca setiap selesai sholat, 5 kali sehari seharusnya. Artinya, “Ya Allah bantulah aku dalam mengingat-Mu, bantulah untuk mampu bersyukur atas semua nikmat-Mu, dan bantu dalam memperbaiki ibadah kami kepada-Mu”
Selamat menjadi hamba yang pandai bersyukur, berbahagialah saat mampu membahagiakan orang lain.

-Pak Banu Muhammad-


Cerpen: Indah itu Bernama Berjama’ah


Pada hari itu, aku bersama sahabat-sahabatku telah bersepakat untuk mengadakan buka bersama sekaligus bersilaturahmi sebelumnya kerumah salah satu sahabat kami yang baru saja melahirkan seorang putri cantik. Dari sahabat kami yang satu ini kami pun banyak belajar banyak hal tentang bagaimana luar biasanya perjuangan mengandung serta melahirkan. Hatiku pun tak berhenti mengucap mashaAllah subhanAllah ketika setiap tuturannya begitu membuat aku terkagum padanya, terlebih aku terkagum pada ibuku. Tak kuasa membayangkan bagaimana ibuku dulu melahirkan aku kedunia ini.
Tak habis sampai disitu, ternyata waktu telah menunjukan pukul 17.00, artinya kami pun harus segera pamit untuk bersegera bersiap mencari tempat untuk berbuka. Setibanya ditempat yang kami tuju, kami tidak mendapati tempat untuk berbuka. Karena beberapa dari pengunjung sudah lebih awal membooking tempat. Wajar saja, selama bulan ramadhan setiap tempat ramai. Akhirnya kami pun memutuskan untuk membeli teh gelas karena nampaknya adzan akan segera tiba, kami pun bersegera menuju mesjid terdekat di salah satu wilayah tersebut. Setibanya disana, kami berkesempatan mendengarkan sedikit kultum dari ustadz yang akan meng-imami kami sholat nantinya. Sampai pada waktu adzan tiba, Alhamdulillah kami mendapatkan ta’jil yang sudah disiapkan oleh panitia mesjid. Bersyukur sekali kami pada waktu itu, meski pun diluar rencana untuk berbuka di mesjid. Kami pun bergegas berwudhu dan sholat. Hikmah indah itu bernama jama’ah, kali ini kami berkesempatan sholat maghrib di mesjid berjama’ah. Imam sholat kami kali itu begitu indah melantunkan ayat-ayat surat dalam Al-qur’an, membuat kami terhanyut kedalamnya.
Sampai akhirnya, kami pun bisa bersyukur bisa mendapatkan tempat kosong untuk makan makanan berat setelah usai shalat. Ketika itu hati kami pun tenang, karena kami telah shalat lebih dulu, sehingga tidak terburu-buru. Dan kenikmatan itu adalah ketika kami bisa berkumpul serta berkumpul kembali di ramadhan tahun ini. Selalu, kenikmatan itu bernama berjama’ah, indah itu bernama berjama’ah …
Ramadhan… Ramadhan.. Ku mohon jangan pergi…
Bogor, 7 Juli 2015
Fikratus Sofa Muzakkiya

Cerpen: Tentang Mengungkapkan


  • Sebuah percakapan pendek antara temanku dan aku dalam perjalanan pulang ketika itu…
  • A: “Kamu tahu nggak, dia cerita sama aku. Katanya dia mau bilang tentang perasaan dia ke kamu. Dia bilang kalau dia bakal janji jaga hati dia buat kamu. So sweet banget ya dia.” Kataku pada temanku dengan penuh semangat.
  • B: “Hmmm…” Wajahnya memerah seketika lalu tersenyum manis.
  • A: “Apa yang akan kamu katakan jika ia mengatakan perasaannya padamu?” Tanyaku penasaran
  • B: “Aku berharap dia tidak mengatakannya pun tidak mengatakan berjanji menjaga hatinya untukku.” Katanya sambil menundukkan kepala.
  • A: “Aku memahami itu, bisa kamu beri alasanmu padaku?”
  • B: “Kalau dia justru bilang gitu, dia malah buat hati aku nantinya sesak dear.” Jelasnya padaku. “Lantas jika dia telah berkata itu padaku, apa yang ia harapkan? Jika aku pun menyimpan perasaan untuknya. Apa yang akan dia lakukan? Berjanji untuk menjaga hati ini untuknya? Memintaku menunggu tanpa kejelasan?” Tambahnya menjelaskan penuh tanya.
  • A: “Kamu benar…” Aku pun menganggukkan kepala seraya menyetujui alasannya.
  • B: “Sungguh itu nggak akan mengubah sesuatu apa pun, karena kita bahkan nggak tahu kapan Allah memanggil kita. Boleh jadi dia berjanji hari ini seperti itu, tapi hati manusia siapa yang tahu. Bisa berbolak-balik. Usia manusia siapa yang tahu. Sebagai contoh, aku janji sama kamu 2 tahun lagi aku bakal kerumah kamu, tapi Allah ternyata berkehendak aku bertemu denganNya lebih dulu. Aku apa daya? Lantas janji itu Tuhan akan tanyakan. Aku bisa apa?” Tanyanya. “Kalau dia bersungguh-sungguh, dia nggak akan mengatakan itu tanpa memastikan dear. Nggak akan menjanjikan banyak hal hanya dengan kata-kata semata. Ini untuk kebaikan dia juga. Sampaikan padanya, temui saja kedua orangtuaku jika ia telah siap.” Jawabnya memastikan…
  • A: “Iya dear…” Jawabku singkat seraya menyetujui ucapannya…
  • Bogor, 8 Juli 2015
  • Fikratus Sofa Muzakkiya

Monday, 6 July 2015

Ramadhan #15 dan #16 : Lelaki dan Masjid


Tulisan kali ini adalah rangkuman tulisan perenungan dua hari perjalanan.
Saya seringkali bertemu dengan tulisan yang menyuruh-nyuruh lelaki untuk shalat di Masjid. Kalau tidak di Masjid, disebut sebagai lelaki solehah. Kalau tidak di Masjid, disebut tidak keren. Saya merenungkan seluruh nasihat yang baik itu berhari-hari demi menemukan sebuah titik sudut pandang terbaik untuk memahami sebuah proses yang sama sekali tidak sederhana. Saya menulis bukan untuk membuat sebuah pembelaan, tapi menghadirkan sebuah sudut pandang yang lain untuk menjadi jembatan saling memahami antara laki-laki dan perempuan.
Setiap hamba (dalam hal ini manusia) sedang menjalani sebuah proses yang sama sekali tidak sederhana. Kita tidak mampu melihat proses hidup orang lain, karena yang mampu kita lihat hanya sebatas jangkauan mata. Kita tidak bisa melihat proses hijrah seseorang, karena barangkali kita hanya baru mengenalnya dalam sedikit waktu.
Saya sebagai laki-laki pun merasakan hal demikian. Bahwa shalat di Masjid adalah sebuah hal yang berat. Dan saya mengakui bahwa untuk menanamaan itu menjadi sebuah kebiasaan bahkan menjadi kebutuhan benar-benar memerlukan usaha yang luar biasa. Jauh lebih luar biasa daripada perjalanan mendaki gunung. Mungkin, ini sama beratnya dengan perempuan yang sedang belajar memakai pakaian yang semakin menutup aurat.
Sebenarnya tugas kita ini amatlah sederhana. Yaitu saling mendukung dan mengingatkan, menyemangati satu sama lain untuk berproses ke arah yang lebih baik. Sayangnya, banyak sekali media propaganda yang justru membuat kita menjadi antipati untuk belajar. Atau menjadikan seseorang memiliki niat yang salah dalam melakukan ibadahnya.
Ini mirip dengan para pemuda yang hendak belajar tentang pernikahan, tapi justru mendapat olokan dari teman-teman sebayanya karena dianggap galau. Akhirnya, pemuda itu berhenti belajar karena malu. (Meski) kita memahami bahwa penilaian manusia ini tidak apa-apanya dibandingkan dengan penilaian Allah. Tidak semua manusia tahan terhadap ujian seperti itu. Tugas kita akan menjaga perasaannya dan mendukung, bukan sebaliknya.
Kembali ke topik laki-laki dan masjid. Adalah sebuah perjuangan besar untuk membuat laki-laki terikat hatinya dengan masjid. Saya merasakan dalam perjalanan 14 hari sepanjang ramadhan ini, saya merasakan Allah menolong saya untuk beribadah. Saya seringkali lupa untuk berdoa minta pertolongan kepada Allah agar saya dikuatkan dalam beribadah agar diiberikan kesempatan untuk melakukan ibadah yang lebih baik. Hasilnya, setengah ramadhan ini adalah hal yang luar biasa bagi saya. Karena memang benar-benar di luar kebiasaan.
Saya tidak berniat shalat di Masjid karena masih dalam perjalanan, tapi Allah mengatur dan mengkondisikan situasi dan kondisi saya waktu itu untuk bisa shalat di Masjid dan itu terjadi berkali-kali. Hasilnya, saya bisa shalat di masjid sepanjang waktu ketika dalam perjalanan.
Mungkin kita pernah merasa demikian, kita tidak berniat melakukan sebuah ibadah tapi Allah mengkondisikan situasi disekitar kita untuk membuat kita melakukan ibadah tersebut? Apapun bentuknya, entah itu sedekah, pergi ke pengajian, shalat berjamaah, dan lain-lain. Allah sedang menolong kita saat itu untuk melaksanakan ibadah dalam kondisi terbaik, bahkan saat kita tidak sedang berniat untuk seperti itu.
Lelaki dan masjid adalah hal yang luar biasa. Pun bagi saya sendiri, saya sebagai laki-laki pun sedang belajar untuk ke sana. 
Saya belajar memahami bagaimana proses masing-masing orang dan saya juga belajar untuk tidak menghakimi perjalanan yang sedang ditempuh oleh orang lain. Karena saya percaya bahwa setiap orang sedang berusaha keras untuk menjadi orang baik. Karena barangkali, laki-laki yang saat ini sedang banyak tidurnya tahun depan adalah laki-laki yang paling banyak terjaga di malam hari untuk bersujud. Saya selalu berupaya untuk berpikir positif terhadap orang lain, mendoakan mereka dan mendukung upayanya. Saya merasa tidak bisa sendirian berjalan ke arah itu, untuk itu dukungan dan doa adalah hal terbaik yang saya ingin dapatkan dari orang lain. Semoga dalam waktu dekat saya bisa mencapai titik tujuan itu.
Laki-laki dan perempuan, dalam hal hijrah ini memiliki poin-poin yang berbeda untuk diperbaiki. Mari saling mendukung, bukan saling meledek. Mari saling mendoakan, bukan saling menghakimi.
Sebuah pesan sederhana untuk para perempuan, bila nanti kalian memiliki laki-laki yang shalatnya tepat waktu dan rajin ke masjid. Bersyukurlah karena itu adalah laki-laki yang langka. Sungguh sangat langka. Sebagai laki-laki pun saya sangat iri dengan yang demikian. Kadang bertanya bagaimana caranya untuk menjadi seperti itu.
Pemahaman saya benar-benar melemparkan saya pada hakikat sebuah proses. Setiap proses memerlukan waktu. Dan saya memang harus bersabar menjalani proses ini dengan baik. Semoga suatu hari bisa sampai dengan kondisi terbaik, dimana ibadah bukan untuk keren-kerenan, bukan untuk tampil kelihatan baik, tapi benar-benar sebagai sebuah manifestasi rasa syukur yang terbaik kepada Allah yang Maha Kuasa.
ditulis di Bandung dan Kutoarjo, 2 dan 3 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

Tulisan: Indah itu Bernama Berjama’ah


Pada hari itu, aku bersama sahabat-sahabatku telah bersepakat untuk mengadakan buka bersama sekaligus bersilaturahmi sebelumnya kerumah salah satu sahabat kami yang baru saja melahirkan seorang putri cantik. Dari sahabat kami yang satu ini kami pun banyak belajar banyak hal tentang bagaimana luar biasanya perjuangan mengandung serta melahirkan. Hatiku pun tak berhenti mengucap mashaAllah subhanAllah ketika setiap tuturannya begitu membuat aku terkagum padanya, terlebih aku terkagum pada ibuku. Tak kuasa membayangkan bagaimana ibuku dulu melahirkan aku kedunia ini.
Tak habis sampai disitu, ternyata waktu telah menunjukan pukul 17.00, artinya kami pun harus segera pamit untuk bersegera bersiap mencari tempat untuk berbuka. Setibanya ditempat yang kami tuju, kami tidak mendapati tempat untuk berbuka. Karena beberapa dari pengunjung sudah lebih awal membooking tempat. Wajar saja, selama bulan ramadhan setiap tempat ramai. Akhirnya kami pun memutuskan untuk membeli teh gelas karena nampaknya adzan akan segera tiba, kami pun bersegera menuju mesjid terdekat di salah satu wilayah tersebut. Setibanya disana, kami berkesempatan mendengarkan sedikit kultum dari ustadz yang akan meng-imami kami sholat nantinya. Sampai pada waktu adzan tiba, Alhamdulillah kami mendapatkan ta’jil yang sudah disiapkan oleh panitia mesjid. Bersyukur sekali kami pada waktu itu, meski pun diluar rencana untuk berbuka di mesjid. Kami pun bergegas berwudhu dan sholat. Hikmah indah itu bernama jama’ah, kali ini kami berkesempatan sholat maghrib di mesjid berjama’ah. Imam sholat kami kali itu begitu indah melantunkan ayat-ayat surat dalam Al-qur’an, membuat kami terhanyut kedalamnya.
Sampai akhirnya, kami pun bisa bersyukur bisa mendapatkan tempat kosong untuk makan makanan berat setelah usai shalat. Ketika itu hati kami pun tenang, karena kami telah shalat lebih dulu, sehingga tidak terburu-buru. Dan kenikmatan itu adalah ketika kami bisa berkumpul serta berkumpul kembali di ramadhan tahun ini. Selalu, kenikmatan itu bernama berjama’ah, indah itu bernama berjama’ah …
Ramadhan… Ramadhan.. Ku mohon jangan pergi…
Bogor, 7 Juli 2015
Fikratus Sofa Muzakkiya