Blogroll

Monday, 6 July 2015

Mengobati Kesedihan

Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)
[QS. Al-Hijr: 97-98]
Allah mengetahui betapa sedihnya Rasulullah atas pendustaan yang ia terima, maka Allah memerintahkan Rasulullah untuk bertasbih dan memuji-Nya serta bersujud (shalat) untuk menghilangkan dan mengobati kesedihan tersebut.
Dalam tafsir al-wasith disebutkan: Maka selayaknya bagi seorang muslim jika ia ditimpa hal yang tidak ia senangi untuk bersegera kembali kepada Allah dengan berbagai macam keta'atan seperti shalat, tasbih tahmid dan ibadah lainnya.
‪Jangan bersedih :)

Via udashidiq

Saturday, 4 July 2015

When My Heart Began to Cry Out



“Allah, selalu kuatkan aku dengan sejuta kesabaran serta keikhlasan-Mu.
Allah, jika imanku lemah, isi dengan kekuatan-kekuatan cinta-Mu.
Aku tak mau jika cinta-Mu tergeser hanya dengan sesuatu yang belum tentu Kau meridhoinya..”
Sepagi ini aku sudah sibuk mengumpulkan retakan-retakan waru berwarna merah marun yang berserakan diatas tempat tidurku. Rasanya, baru kemarin aku kehilangan sepotong hatiku. Apakah sisanya akan ikut hancur? Pecah?

Allah, aku tak pernah tahu mengapa aku meninggalkan sepotong hatiku kepadanya, meski dia mungkin tak pernah ingin menggenggamnya. Tapi, aku tahu persis mengapa pagi ini sisa separuh hatiku berserakan kemana-mana. 
Ya Allah, bolehkah aku sakit hati? bolehkan aku kecewa? Bolehkan aku menangis tergugu penuh harapan? Ingin memilikinya sekalipun? Asal tak berlebihan. Tidak melanggar kaidahmu. Hanya menyimpan dalam diam. Diam penuh kesenyapan. Asal cinta itu akan membawaku ke arah cinta kepada-Mu?

Seorang penyair pernah berkata bahwa cinta sejati itu adalah melepaskan. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan lepas. Dilepas dengan penuh kegembiraan.
Protes? Tentu, tentu aku protes dengan pernyataan itu.
Tapi, dengan aku menyadari bahwa sebenarnya inilah rumus terbalik yang tak pernah dipahami oleh para pencinta, aku menjadi melapangkan hati, bersedia andil dalam pernyataan itu dengan senyum merekah dibibir. 

Aku tahu, dengan keikhlasan dan kesabaran juga ketegasan melepaskannya, suatu saat nanti jika memang dia adalah jodoh yang dipilihkan Allah untukku, serta cinta sejati dunia pun akhiratku, aku yakin pasti Allah akan mempertemukan aku dengannya melalui cara yang luar biasa. mengingat Allah yang Maha Luar Biasa dengan segala rencana-Nya.
Meskipun toh dia memang kenyataannya tak pernah datang di kehidupanku, sesederhana mengerti tentang pemahaman bahwa dia bukan cinta sejatiku. Memahami bahwa ada cinta yang lebih luar biasa yang sengaja disiapkan spesial untukku.

Aku tahu, kisah-kisah cinta di novel-novel, di hikayat-hikayat, di cerpen-cerpen ataupun di sinetron-sinetron pasti ada penulisnya. Dan, kisah cintaku sendiri penulisnya adalah Allah. Penulis terhebat dimuka bumi, penulis termasyhur seantero jagad raya. Maka sekali lagi, aku yakin kisahnya akan selalu hebat. Dan akan selalu paling hebat. 

Mimpiku masih banyak yang belum terwujud, banyak sekali. Keinginan-keinginaku masih tertata rapi belum tersentuh sama sekali. Aku masih memperbaiki diri. Memantaskan diri. Aku masih sibuk dengan belajar, masih sangat sibuk dengan berbagai kegiatan yang lebih bermanfaat. Aku juga masih ingin terus mendekati Allah, pemilik langit, bumi, dia, dan semua isi didalamnya. Tak salah bukan jika nanti aku sudah terlalu dekat dengan-Nya, dengan cinta-Nya, bisa mendapatkan apa yang kunginkan dari-Nya? Sekalipun itu langit yang dihias pelangi setelah hujan? Apalagi hanya dirinya? 
Yang pasti, aku harus bisa mengendalikan diri dengan keinginan-keinginan untuk mengharapkannya. Dengan begitu, aku akan menerima segala bentuk kerelaan dan kehilangan atas semua yang berada pada dirinya. Menerima segala konsekuensi dengan kesiapan. Siap, sesiap-siapnya.
Jika memang Allah menakdirkan gadis yang dia tulis pada halaman maya pagi ini untuknya, maka..

Barakallahu lakumaa wabarakah, alaikuma, wajama’a baina kumaa fii khaiir..
Semoga Allah meridhoi kalian…
InshaaAllah, Nai ikhlas :’)

nailymakarima 

Tidak Akan Pernah Ada Alasan


Sudah mulai capek ya? Sudah lelah?
Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan hebat bisa berkarya, bisa berpartisipasi, bisa menyumbangkan sesuatu yang insyaaAllah bermanfaat untuk orang lain.
Kesulitan ya? Gagal terus?
Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk banyak-banyak belajar, banyak-banyak berpikir, dan masih diberi kekuatan untuk terus mencoba.
Duh, sakit ya?
Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup. Anggota badan masih utuh semua. Masih bisa membeli obat. Masih ada yang memperhatikan. Bahkan, sakit bisa jadi pahala-pahala kebaikan ketika bisa bersabar dan tidak mengeluh.
Tidak ada yang memuji?
Alhamdulillah, Allah masih menjauhkan dari sifat buruk, sifat sombong yang menyokol dihati.
Tidak ada yang membantu pun menolong?
Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk selalu mengingat-Nya, memohon kepada-Nya. Bukankah sebaik-baik tempat mengadu dan meminta pertolongan adalah hanya Allah?
Merasa paling sudah? Paling sedih? Paling tidak beruntung?
Malu tuh sama orang-orang yang belum beruntung. Malu sama orang yang masih susah.
BAHWA SESUNGGUHNYA TIDAK PERNAH ADA ALASAN UNTUK TIDAK BERSYUKUR. TIDAK AKAN PERNAH.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya Azab-Ku sangat pedih’.” (QS. 14:7)
Mari tersenyum dengan penuh semangat, berkarya, bermimpi dan akan selalu berusaha memperbaiki diri. :)

nailymakarima

Friday, 3 July 2015

MUSLIMAH YANG BAIK ADALAH MUSLIMAH YANG BERHIJAB

Duh, Nai kok jadi sok agamis gini ya?”
FYI, bukan sok agamis, nggak ada niatan nge-judge, bukan untuk ngasih tausiyah juga buat temen-temen yang belum memakai hijab. Sekedar share saja dari referensi-referensi yang saya dapat dari buku sama internet. 
Ada yang bilang “Hijabin hati dulu, baru fisiknya dihijabin”
Ga ada perintah Allah buat hijabin hati dulu, yang jelas hijabin fisik itu kewajiban. Right? 
“…..kenapa tidak kita ubah pradigmanya? Jilbabkan dulu kepala kita, sambil kita barengi dengan menambah ilmu. Setelah itu, perlahan semua sisi kehidupan kita akan mengikuti” -Oki Setiana Dewi-
Kenapa sih kita harus berhijab? Saya jelasin secara logika aja:
1. Menghindari kita dari maksiat. Pasti paham lah.
2. Melindungi kulit biar nggak item. Kalau nggak percaya dicoba aja deh.
3. Terlihat lebih cantik dan anggun. Nggak percaya juga? Buktikan dulu, lalu ditanyakan.
Alasan para muslimah yang tidak berhijab:
1. Masih nunggu hidayah dari Allah.
Jangan kuno-kuno banget please, zaman sekarang itu prinsipnya bukan menunggu. Ntar nggak kebagian lho. Prinsip zaman sekarang adalah prinsip ‘Jemput Bola’. Okesip!
2. Panas, ribet!
O em ji Hellaaawww, panasan neraka kan ya? hehehe.
3. Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka ‘ngerumpi’, sholat masih bolong-bolong, suka berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati!
Wah wah, parah nih yang subhatnya bilang begini. Udah suka ngerumpi, sholatnya bolong-bolong, nggak berhijab lagi. Malah lebih parah kan? Ayo benahin diri dari sekarang.
Jangan terlalu banyak alasan ya..
Oh iya, ada yang tahu hubungan hijab dengan ayah kita?

Ayah, ayah yang akan menanggung dosa 4 orang perempuan di sekitarnya: istrinya, ibunya, anak perempuannya (kita) dan saudara perempuannya. Itu aja kalau masing-masing variabel cuma terdiri dari satu orang. Tapi, gimana kalau ayah punya 2 istri, 1 ibu, 5 anak perempuan dan 5 saudara perempuan? Berapa orang perempuan yang akan ditanggung dosanya oleh ayah? Renungkan lagi ya..
Lalu, bagaimana cara berhijab yang baik?
Dizaman modern ini, sudah banyak wanita muslimah yang memakai hijab. Entah hanya mengikuti trend atau memang bener-bener sadar. Beruntunglah wanita yang hijabnya memang karena Allah Ta’ala. Tapi, saya suka sedih kalau ngeliatin cewek berhijab akan tetapi masih saja suka upload foto tanpa hijab di sosmed. Gimana.. gituuu, tapi masih mending ya daripada tidak sama sekali. Saya juga masih tahap belajar, saya sadar saya belum bener. Tapi kalau nunggu bener kayaknya gabakal bisa bener-bener banget ya? Secara tidak ada yang sempurna gitu didunia ini. Hehe.
Now, yuk kita checklist hijab yang bener:
1. Khimar (kain yang menutupi kepala) menutup dada, atau kita biasa menyebutnya kerudung. Banyak yang berhijab tapi hijab/jilbabnya nggak menutup dada, mungkin banyak yang nggak tau. Sekarang tau kan? Lalu harus tebal, misal pake kerudung paris yang sekiranya tipis ya di double. Menurut saya pribadi sih. Hehehe.
“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman,..dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,dan janganlah menampakkan auratnya..” (Q.S. An-Nur : 31)

Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,dan agar mereka tidak diganggu.” (Q.S Al-Ahzab : 59)
2. No punuk onta. Jadi tidak diperbolehkan memakai gaya dipakein punuk-punukan gitu (katanya biar modis) Padahal..
Ada dua golongan penghuni neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang selalu bersama cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka berjalan dengan melenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga & tidak mencium baunya, padahal bau surga bisa tercium dari jarak demikian & demikian. [HR. Muslim Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Naudzubillah kan?
3. No Tabarruj
Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan anggota tubuh untuk menarik perhatian laki-laki non mahram. Misalnya wanita zaman sekarang yang berhijab tapi masih menampakkan lekuk tubuhnya. Padahal di surat Al-Ahzab 59 sama surat An-Nur 31 udah jelas kalau berhijab itu longgar dari atas sampai bawah.
3. Jilbab diulur, bukan dililit atau diputer-puter biar modis gitu. Jangan ngabisin waktu cuman buat nge-match dan nge-mixkerudungnya. Simple is beautiful.
4. Pakaian bisa berupa gamis atau 2 potong (atasan dan rok), asal tidak membentuk lekuk tubuh.
5. Kaki juga termasuk aurat ukhties, yuk dijaga kakinya. Pakai jaurah atau kaos kaki.
Kalau menurut saya (yang masih dangkal banget ilmunya) berhijab yang seperti dibawah ini InshaaAllah sudah memenuhi syarat secara garis besar. Kalau punya ustadz tolong ditanyain lagi ya, secara saya masih dangkal banget ilmunya. Jangan pernah takut dikatain kuno. Kita hamba Allah. Tugas kita kan ‘amar ma’ruf nahi mungkarRight?


Wait, apa sih sebenarnya tujuan kita berhijab?
Kalau tujuan kita hanya mengikuti trend saja, kalian akan rugi. Kalau tujuannya karena Allah, pasti kita tidak akan punya alasan untuk melaksanakan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya.
Bismillah, awali dengan niat yang baik. Mari sama-sama belajar cantik dimata Allah. Maafkan masih banyak yang kurang :’)

HIJAB PANJANG dan PENGAJIAN

Memberanikan menulis ini setelah banyaknya teman-teman yang menanyakan tentang hal ini, mungkin pertanyaan itu juga mewakili pemikiran orang-orang kebanyakan.
Hijabnya Panjang dan Besar, ikut aliran pengajian mana?
Jawaban ini tentang pendapat personal ya, pemikiran aku sendiri.
Allah telah mempercayakan rohku untuk menempati raga seindah ini, karena Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Dan aku perempuan, menurutku semua bagian-bagian bahkan yang terkecilpun dari kami itu indah, memang masing-masing dari kami dianugerahi ukuran yang berbeda-beda. Meskipun pemahamanku telat tentang ini, tapi aku sadar perempuan mau ditutup rapi seperti berhijab panjang dan longgarpun tetap saja beberapa bentuk kami terbaca, bukan terlihat ya Apalagi yang belum tertutup secara rapi? Karena Allah menciptakan banyaknya lekukan pada raga kami.
Dan yang tau seberapa keindahan, kemulusan, kelekukan yang indah itu yaa diri kami sendiri pemiliknya, dan mungkin keluarga terdekat seperti suami, anak, orang tua, adik, kakak, nenek saja yang tau karena tinggal serumah. Jadi tentu yang paling tahu pakaian mana yang mampu menutupi semua keindahan itu ya diri sendiri. Ada yang hanya butuh beberapa centimeter lebar dan panjangnya saja sudah mampu menutup dan ada beberapa perempuan yang butuh kain extra untuk menyembunyikan ukuran aslinya. Karena kami dilahirkan dengan masing-masing ukuran.
Jadi perempuan manapun yang merasa dirinya diberi amanah raga yang indah itu pasti sangat menyayangi, menjaga, dan merawatnya dengan baik. Salah satunya adalah kami menghijabi jasmani ini dengan hijab dan jilbab yang panjang dan longgar.
Perintahnya ada kok di Al-Quran
Terjemahan Al-Ahzab ayat 59
Wahai Nabi ! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang-orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang”.
Terjemahan An-Nur ayat 31
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka………………………………………………………….”
Jadi memakai hijab panjang menutup dada dan belakang itu bukan atas ikut-ikutan suatu pengajian, partai, organisasi, bahkan aliran mungkin. Perintah berhijab itu Allah sendiri yang bilang di Al-Quran. “Kain kerudung ke dadanya” itu kita bisa pakai khimar (segiempat)/bergo yang menutupi depan dan belakang bawah sedangkan “menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka” itu pakaian yang longgar dan panjang disebut gamis atau bisa pakai atasan baju panjang longgar dan rok yang lebar. Sami’na Waatho’na kami dengar dan kami taat, penggalan ayat tersebut ada di Al-Quran, setelah mengetahui perintah berhijab sebagai hambaNya yang ingin taat sudah pasti akan belajar mencoba berhijab. Awalnya sekedar membungkus setelah dipelajari lagi perlahan tapi pasti akan menutup secara kaffah. Bukan sami’na wa’ashoyna kami dengar dan kami mengingkari(tidak taat).
Ilmu itu luas sekali. Semakin dicari, semakin haus akan ilmu dan semakin sadar bahwa kita kurang sekali pengetahuan. Jadi ilmu itu bisa dicari di banyak pengajian, organisasi islam, pendidikan islam, dan belajar langsung dari kehidupan. Jadi tidak mentok di satu pengajian dan satu guru saja. Ilmunya dicerna dulu  tidak langsung dimakan mentah-mentahJadi mau mengaji dimana saja seharusnya pakaiannya seperti ini, karena pedoman kita sama itu Al-Quran. Setiap muslimah yang mengetahui mentadabburi dan meyakini kalam Allah diatas, tentu memantapkan diri untuk hijrah belajar berpakaian lebih tertutup lagi. Sudah tahu ya jalankan, suka gak suka dicoba dulu Allah pasti mampukan jalan-Nya. Yakinkan diri bahwa segala perintah dan larangannya adalah untuk kebaikan kita juga. Membantu kaum Adam untuk menjaga padangannya juga.
“Bagaimanapun setiap orang punya garis start perubahan yang berbeda, sehingga waktu untuk berprosesnya pun tak sama” (tweet teh @pewski on twitter).
Jadi semoga perempuan-perempuan yang belum menyadari kelalaian dalam berpakaian, Allah beri hidayahNya, karena hanya Allah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia Kehendaki. Mari sama-sama belajar dan  menjaga seindah-indahnya amanah yang Allah percayakan ini.  Wallahualam

Via sabaritucantik

Tuesday, 23 June 2015

Hijab Bukan Menunggu Sempurna


Banyak orang beralasan "saya belum siap" karenanya menunda berhijab, padahal hijab itu bukan penanda "aku sudah sempurna", tapi justru "aku ingin taat" dan "aku ingin dekat dengan Allah"

Hijab itu proses untuk menaati Allah, bukan tanda sudah taat. Maka bila belum siap dan masih merasa banyak dosa dan kekurangan, karena itulah harus berhijab, untuk belajar taat dan belajar jauh dari maksiat

Tidak ada yang sempurna, semua manusia pasti berbuat salah, karenanya Nabi Adam mencontohkan bagaimana sikap terbaik ketika mengetahui diri kita salah, yaitu mengakui kesalahan, menyesal atas kesalahan, memohon ampunan, dan tidak mengulanginya lagi

Bila kita terlahir sempurna, kita tak akan belajar apapun, tapi karena kita banyak maksiat, justru kita belajar taat, justru itu kita berhijab, supaya kita siap menemui Allah dalam keadaan taat

#YukBerhijab Syar'i 

HijabAlila

Sunday, 21 June 2015

Wanita Itu Membawa Surga


Wanita itu, yang sentuhannya lebih hangat dari mentari pagi. Memecah dingin bersamaan dengan kumandang adzan subuh. Disentuhnya pundakku halus, menggugahku penuh sabar, untuk menghadap Allah.
Wanita itu, yang bahunya mampu menopang seisi dunia, mengerjakan segala urusan rumah. Merapikan kamarku, membenarkan posisi koleksi bukuku, menggantung baju yang berserakan.
Wanita itu, yang batinnya lebih kuat dari sambaran guntur, meski terkena sakit, meski terkena demam. Namun cahayanya selalu setia memancar. Membuat seisi rumah, selalu dalam keadaan sakinah.
Wanita itu, yang suaranya mampu menyulam hati penuh kehangatan. Tak pernah absen memberi nasihat. Nasihat ibadah, kuliah, dan perempuan.
Wanita itu, yang memiliki kasih sayang lebih lebar dari sayapnya, selalu terjaga sepanjang malam ketika aku sakit. Tanpa mengeluh meski harus mondar-mandir ke dapur hanya untuk membawakan air putih. Tetap tersenyum ikhlas dengan tatapannya yang sebening embun.
Wanita itu, yang paling khawatir ketika jam pada dinding ruang tamu telah menunjukkan pukul sepuluh dan aku dengan tanpa kabar entah kemana. Tetap tersenyum, menungguku di ruang tamu.
Wanita itu, yang mampu membawakan angin penuh kerinduan. Membuat jarak tak lagi berarti, meski jarak memisahkanku dengannya. Pun tak pernah luput menghubungiku, ketika langit penuh bintang yang menghempaskan cahayanya, ketika bulan melepas rindu kepada bumi. Bercerita sepanjang malam suntuk, penuh warna dan tawa. Meski setelah itu, terkadang isak tangis menghiasi ingatanku padanya.
Wanita itu, yang selalu kudo'akan dalam tangis sepertiga malam, dirinya aku sisipkan dalam tahajud. Agar panjang umurnya, agar diterima ibadahnya, agar Allah mengampuni dosanya, sebagaimana ia mendidikku dan memaklumi kenakalanku sewaktu kecil.
Dan…
Wanita itu, yang telapak kakinya lebih berharga dari dunia dan seisinya.

Bogor, 12 Juni 2015 | Seto Wibowo