Blogroll

Friday, 8 May 2015

Jika Mau Bersabar Sedikit Saja, Bukankah Jodoh Sebenarnya Sederhana?



Semakin dewasa, akhir pekan kian terasa berbeda. Sekarang bukan lagi masanya menggulung diri di dalam selimut, mandi sekali sehari, lalu nonton serial TV seharian. Undangan pernikahan teman yang hampir tiap weekenddatang harus dihadiri sebagai tanda penghormatan.
Perasaan bahagia saat melihat teman seperjuangan bersanding dengan pasangan pilihannya sering diikuti dengan pertanyaan yang muncul tanpa diminta,
“Duh, besok bakal bersanding di pelaminan sama siapa ya?”
“Jodoh gue besok kayak gimana ya? Ketemunya masih lama nggak ya?”
Rasa cemas, insecure sebab masih sendiri di usia yang kata orang sudah matang membuat kita merasa harus segera mengikuti jejak mereka. Urusan jodoh, tanpa sadar menjadikan kita manusia yang selalu khawatir — sampai benar-benar jadi pasangan sah di depan negara dan agama.
Padahal jika mau bersabar sedikit saja– bukankah jodoh itu sebenarnya sederhana?
Selama ini kita seperti pecinta alam dan sutradara yang terlampau kreatif. Menerka dan membuka jalan, yang sebenarnya belum tentu diamini oleh semesta
Ada satu orang sahabat saya yang cuek setengah mati soal urusan cinta. Sampai ulang tahunnya yang ke-24 dia memegang trophy sebagai jomblo abadi. Isi hidupnya hanya kuliah, tetek-bengek organisasi, ikut penelitian dosen, kumpul-kumpul bersama kami, lalu belakangan ikut kursus pra nikah sesekali. Dengan statusnya yang masih sendiri.
Tapi anehnya sahabat saya ini tidak pernah merasa kekurangan. Di wajahnya selalu bisa kami temukan senyum bahagia, bahkan lebih tulus dari kami yang ditemani pacar ke mana-mana. Dia adalah orang yang berapi-api soal cita-cita. Tak harus dihadapkan pada kegalauan saat ngambek dengan pacar membuatnya bisa menghabiskan waktu untuk banyak menulis dan membaca.
Plot twist pun tiba. Saat kami masih galau soal pekerjaan pertama dan perkara membawa hubungan cinta ke arah mana — kami mendapat kabar bahwa jomblo abadi ini akan menikah dengan pria yang selama ini jadi kawan satu organisasinya. Akad akan dilakukan segera selepas lamaran, demi menghindari hal-hal yang keluar dari ajaran.
Geli rasanya. Kami yang sudah berinvestasi waktu pun perasaan dalam ikatan pacarab sekian lama justru belum berani mengikuti jejaknya. Menghadiri prosesi akadnya seperti membawa kaca ke depan muka:
Jika mau jujur sedikit saja, sebenarnya berapa banyak waktu kita yang sudah terbuang sia-sia?
Saat kami menghabiskan masa muda dengan meratapi sakit hati, dia justru bebas loncat dari satu organisasi ke lembaga kemasyarakatan yang menarik hati. Dia boleh jadi tak merasakan debaran saat bertukar rayuan manis dengan pacar, tapi justru kebebasannya langsung bisa bercumbu sepuas hati membuat kami sedikit gusar.
Ketika kami terlalu sibuk bertukar janji demi masa depan bersama, sahabat saya ini justru langsung berani menjalaninya — bersama pria pilihannya.
Berkaca dari banyak pengalaman ternyata yang dibutuhkan hanya kemantapan dan sedikit kenekatan. Membangun masa depan tak memerlukan keahlian yang dibiakkan dari pacaran
Seringkali kalkulasi manusia dan kalkulasi semesta berjalan di plaform yang berbeda. 1095 hari bersama tidak membawa kemantapan yang sudah ditunggu sekian lama. Kita masih sering memandang wajah orang yang sudah kita genggam tangannya bertahun-tahun lamanya, kemudian membayangkan apakah masa depan benar-benar layak dijalani bersamanya.
Hubungan yang sudah sempurna di mata orang-orang bisa kandas. Perasaan yang kuat ternyata bisa hilang. Bersisian sekian lama, menerka masa depan berdua ternyata tidak menjanjikan apa-apa. Jika memang tidak ada niatan baik untuk membawa hubungan ini ke arah selanjutnya.
Inilah kenapa kisah-kisah “bertemu-orang-yang-tepat” setelah putus dari pacaran bertahun-tahun bermunculan. Kenekatan kerap muncul setelah dikecewakan. Keinginan membangun komitmen ternyata perlu didorong oleh hati yang sudah lelah menghadapi perihnya kegagalan. Ibarat lari maraton panjang, selepas garis finish kita hanya ingin meregangkan otot yang tegang — dalam sebuah peristirahatan yang jauh dari kata menantang.
Ternyata keyakinan untuk bisa membangun masa depan bersama tidak membutuhkan training bertahun-tahun lamanya. Kita bisa mengeliminasi keharusan PDKT, ratusan kali kencan, dan episode drama yang jumlahnya melebihi jari tangan.
Dalam banyak kasus justru kemantapan itu datang setelah memantaskan diri sebagai pribadi — selepas dipertemukan dengan orang yang juga sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Jodoh toh bukan aljabar yang harus membuat kita sakit kepala. Bahkan prosesi peresmiannya berlangsung tak lebih dari hitungan menit saja
Bukankah tujuan akhir dari selalu ke mana-mana berdua adalah ucapan dalam satu hela nafas,
“Saya terima nikahnya!”
atau prosesi khidmat pemberkatan di gereja?
Lucu bukan, jika kita rela menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya demi prosesi yang berlangsung bahkan lebih singkat dari wisuda?
Semakin dewasa, setelah jadi saksi bagaimana kawan-kawan menemukan pasangan hidupnya — pandangan kita terhadap jodoh justru akan makin sederhana. Ini bukan lagi soal kencan ke mana, mematut diri dengan baju apa, sampai berapa lama sudah saling mendampingi dan memanggil sayang ke depan muka.
Jodoh ternyata tak lebih dari soal keberanian, kesiapan sebagai pribadi bertemu dengan peluang, keyakinan bahwa hidup tak lagi layak diperjuangkan sendirian. Konsep jodoh yang dengan jelas sudah disiapkan Tuhan sebenarnya tidak menuntut kita untuk galau menantikannya.
Toh dia pasti akan datang sendiri. Bukankah Tuhan tidak akan bermain-main dengan janji?
Kita-kita ini saja yang suka lebay mendramatisir suasana. Merasa paling merana jika belum menemukannya. Merasa hidup kurang sempurna jika belum bertemu pasangan yang bisa menggenapkan separuh jiwa. Padahal jika memang sudah waktunya, pintu jodoh itu akan terbuka dengan sendirinya. Mudah, sederhana, bahkan kadang tanpa banyak usaha.
Kalau memang bukan garisnya, diikat pakai batu akik pun, tak akan jadi jodoh kita seorang anak manusia. Jika memang begini hukumnya — haruskah kita galau dan bercemas diri lama-lama?
Pertunangan bisa gagal, khitbah bisa dibatalkan, pun resepsi bisa di-cancel beberapa jam sebelum perhelatan. Ikatan sebelum pernikahan (ternyata) tidak layak membuat kita merasa aman, pun bangga karena merasa sudah punya pasangan. Sebab ternyata tak ada yang bisa memberi jaminan.
Janji-janji manis yang sudah terucap sebelumya tidak akan berarti apa-apa sampai ada tanda sah di depan negara dan agama. Cincin berlian, atau bahkan batu akik yang sedang hits itu tak akan membantu apapun, jika memang jalan hidup berkata sebaliknya.
Daripada mencemaskan yang sudah tergariskan, mengapa kita tidak mengusahakan yang bisa diubah lewat usaha keras? Rejeki, pekerjaan, membuka kesempatan untuk kembali studi di luar negeri, sampai memutar otak demi membahagiakan orangtua yang sudah tak semandiri dulu lagi misalnya? Hal-hal itu lebih layak mengakuisisi ruang otak kita dibanding terus-terusan galau memikirkan pasangan yang sudah jelas dipersiapkan oleh yang Maha Kuasa.
Akan tiba masanya, ketika kita memandang orang yang tertidur dengan lelap di sisi kanan sembari mengulum senyum. Ternyata begini jalannya. Ternyata inilah jodoh kita yang telah disiapkan oleh semesta. Suatu hari, semua kecemasan yang memenuhi rongga kepala ini hanya akan jadi bahan tertawaan saja.
Bolehkah mulai sekarang kita berusaha lalu berserah saja? Sebab pada akhirnya, jodoh toh sebenarnya sederhana.
Nendra Rengganis

Thursday, 7 May 2015

Untukmu Ukhty ^^


Suatu malam kau datang membawa tangis. Mengadu hati sakit teriris. Tentang dia yang berpaling ke seorang gadis. Lupakan janji yang dulunya manis.
Saat itu aku tertawa geli. Bukan kejam tak peduli. Namun dari dulu sudah aku nasehati. Agar tak bermain dengan hati.
Lelaki sejati berani menghadap wali, bukan bergombal ria di japri-mu. Atau mengarungi cinta bermandikan nafsu, yang kalamnya semanis madu, padahal untuk nafsu yang memburu.
Jika dia berani maksiati Tuhannya, hianatimu bukanlah apa-apa. Jika dia padamu berani menggoda, pada wanita lain tentu juga bisa
Ukhti, jadilah mawar anggun nan indah. Yang berduri tak mudah disentuh. Untuk pengeran yang berani berjuang peluh. Datang dengan hati dan cinta yang utuh. Menghadap wali dengan tekad yang sungguh.
Ukhti, belajarlah dari masa lalu. Kembalilah ke jalan Tuhanmu. Menyesallah sepenuh qalbu. Dan bukalah lembaran baru.
Kemudian berjanjilah tak akan mengulangi. Bukan padaku. Tapi pada Dzat yang menciptakanmu!
***
Tapi, akhirnya kau datang lagi. Dengan perut terisi. Mengadu tentang dia yang telah pergi. Tinggalkanmu menangis sepi.
Aku pun terdiam lama, tak tahu harus jawab apa. Hanya doa terlantun lirih, agar hati tak bersedih
***
Ukhti, hidup ini ceritakan banyak kisah dan sejarah, agar hati belajar dan mengambil hikmah.
Untukmu aku susun ‪#‎eBookUkhti‬. Sebuah kumpulan suara hati, para pelaku, korban, dan pemuda kahfi. Agar kau bisa jaga diri atau obati apa yang telah terjadi
Karena, Kalau bukan kau, siapa lagi wahai ukhti? ^^
Sen@ Senyum Syukur

catatan : Pantaskah Aku?


Pantaskah hati bahagia, jika hobinya buat orang bersedih?
Pantaskah diri dipuji, padahal lisan gemar mencaci?
Pantaskah jiwa menemukan jodoh terbaik, sedang dia enggan perbaiki diri?
Kawan, semua perbuatan orang lain terhadap diri, hakikatnya adalah balasan dari tingkah laku diri pada orang lain.
Balasan tak mesti dari orang yang sama, misal;
Seorang gadis yang lukai hati ibu demi pasangan, biasanya luka itu akan berbalas degnan pasangan yang berhianat.
Karena ibu tak akan tega membalas, dan jika balasannya datang dari ibu, sakitnya tak akan sama.
Intinya, pantaskan saja diri. Jika diri pantas bahagia, dipuji, disetiai, maka perbuatan buruk orang lain tidak berpengaruh apa-apa :)
Teruslah berbuat baik, karena tidak ada perbuatan baik yang sia-sia, sekecil apapun itu.
“Dan barangsiapa berbuat kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)” (Qs. Az- Zalzalah: 8)

Via Sen @SenyumSyukur ^^

Fear


  • Kafka :Bunda, aku males jadinya ke kampus..
  • Bunda :Kok?
  • Kafka :Makin hari rasanya makin banyak aja perempuan yang auratnya kemana mana..
  • Bunda :...
  • Kafka :Risih, Bun.. Susah aku mesti jaga pandangan ke arah mana lagi.. Kiri ada, Kanan lebih dahsyat, di depan apalagi, di belakang luar biasa. Aku mesti liat kemana? Ke langit? Tar malah nabrak mereka.
  • Bunda :Kasian kamu nak..
  • Kafka :Aku pengen nyaman di kampus, Bun..
  • Bunda :Dunia ini gak akan pernah nyaman bagi orang mukmin sayang. It is okay kalo kamu merasa tidak nyaman, tandanya boleh jadi masih ada iman di hati kamu..
  • Kafka :Trus aku mesti apa? Sedih..
  • Bunda :Tiap kali kamu susah menundukkan pandangan dan pikiran, ingat : Fear Allah, and read the Quran, dear.

Wednesday, 6 May 2015

Cara Pembayaran Fidyah Puasa


Para ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah sepakat bahwa fidyah dalam puasa dikenai pada orang yang tidak mampu menunaikan qodho’ puasa. Hal ini berlaku pada orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit dan sakitnya tidak kunjung sembuh. Pensyariatan fidyah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,    
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah: 184).[1]
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,
هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”.[2]
Jenis dan Kadar Fidyah
Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa kadar fidyah adalah 1 mud bagi setiap hari tidak berpuasa. Ini juga yang dipilih oleh Thowus, Sa’id bin Jubair, Ats Tsauri dan Al Auza’i. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho’ kurma, atau 1 sho’ sya’ir (gandum) atau ½ sho’ hinthoh (biji gandum). Ini dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan dan nantinya diberi makan untuk orang miskin.[3]
Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan”.[4]
Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz[5], Syaikh Sholih Al Fauzan[6] dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa Saudi Arabia)[7] mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho’ dari makanan pokok di negeri masing-masing (baik dengan kurma, beras dan lainnya). Mereka mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Ukuran 1 sho’ sama dengan 4 mud. Satu sho’ kira-kira 3 kg. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg.
Yang lebih tepat dalam masalah ini adalah dikembalikan pada ‘urf (kebiasaan yang lazim). Maka kita dianggap telah sah membayar fidyah jika telah memberi makan kepada satu orang miskin untuk satu hari yang kita tinggalkan.[8]
Fidyah Tidak Boleh Diganti Uang
Perlu diketahui bahwa tidak boleh fidyah yang diwajibkan bagi orang yang berat berpuasa diganti dengan uang yang senilai dengan makanan karena dalam ayat dengan tegas dikatakan harus dengan makanan. Allah Ta’ala berfirman,
فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.”
Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah tersebut. Kadarnya adalah setengah sho’ dari makanan pokok yang ada yang dikeluarkan bagi setiap hari yang ditinggalkan. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg. Jadi, tetap harus menyerahkan berupa makanan sebagaimana ukuran yang kami sebut. Sehingga sama sekali tidak boleh dengan uang. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.” Dalam ayat ini sangat jelas memerintah dengan makanan.”[9]
Cara Pembayaran Fidyah
Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara,
  1. Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja (dan tidak sanggup berpuasa)[10].
  2. Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk.[11]
Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari.[12] Al Mawardi mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”[13]
Waktu Pembayaran Fidyah
Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua[14].
Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadhan. Misalnya: Ada orang yang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya, kemudian ketika bulan Sya’ban telah datang, dia sudah lebih dahulu membayar fidyah. Maka yang seperti ini tidak diperbolehkan. Ia harus menunggu sampai bulan Ramadhan benar-benar telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga atau bisa ditumpuk di akhir Ramadhan.[15]
Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Diselesaikan di Panggang-GK, Senin 30 Rajab 1431 H (12/07/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Proses Kehidupan

Kekuatan selalu ada saat kita ikhlas. Saat kita dipandang sebelah mata oleh teman dan lingkungan sekitar, saat kita merasa diasingkan, saat kita dikritik habis-habisan, saat kita ditolak oleh perusahaan atau seseorang misalnya, sesungguhnya saat itu kita sedang menjalani cara menjadi diri yang mengerti. Karena belajar itu bukan hanya dari buku-buku tetapi juga bisa dari kehidupan. Belajar sesuatu dari setiap masalah yang dihadapi, sesungguhnya setiap kali selesai disakiti itu adalah ajang terbaik untuk bertambah mengerti.
Proses pematangan diri memang tidak enak. Tetapi bila sudah matang, hidup benar-benar terasa enteng karena kebijaksanaan terbukti sangat memudahkan hidup. Orang yang bijaksana tidak akan pernah sakit hati sebab dia mengerti. Kemampuan dirimu dalam menerima kenyataan adalah satu satu indikator dari pengertianmu.
Terus, bagaimana cara kita memaknai kekecewaan ?
Jujur.. setelah dipikir-pikir, sebetulnya kita tidak pernah kecewa kepada siapa pun. Kita hanya kecewa pada harapan yang kita bangun sendiri terhadap orang itu. Kecewa adalah perasaan ketika kita belum ikhlas, belum tulus dan belum kuat menerima kenyataan yang tidak enak. Kekecewaan pada orang lain adalah ilusi karena tidak mengerti landasan orang lain melakukan hal yang kita anggap mengecewakan itu.
Bagaimana dengan penolakan ?
Saat kita ditolak ingatlah masih banyak sekali orang yang tahu betapa berharganya diri kita. Selalu ingatlah bahwa penolakan itu harus terjadi. Mengapa begitu ? karena kita tidak bisa menyalahkan orang yang menolak kita karena dia hanya dipakai Tuhan untuk menolak kita. Karena kalau tidak lewat dia atau siapapun nantinya juga akan tetap lewat orang lain. Jadi jangan sebel dan kesel ya :)
Yang perlu diperhatikan adalah tujuannya. Tujuan dari adanya penolakan tersebut. Mungkin hal tersebut datang agar kita bisa menjadi pribadi yang matang, karena mungkin juga suatu saat kita akan dipakai Tuhan untuk menolak orang lain dan untuk membentuk orang lain. So kita harus punya mindset atau pemikiran yang benar ya tentang penolakan. Semakin ditolak justru semakin bersyukur. 
Bagaimana dengan kritik ? Sakitkah ?
Sakit hati adalah ilusi dari ketidakmengertian. Sungguh, kesiapan mental untuk menerima kritik menentukan seberapa kuat kita dalam menjalani hidup ini. Tujuannya untuk menyampaikan upaya perbaikan kepada seseorang. Pada akhirnya kritik tidak boleh menyentuh kebahagiaan dan kesuksesan kita secara negatif. Kita harus punya kemampuan untuk membungkus ulang rasa “pedas” dan “sakit” menjadi suatu masukan yang membangun. Ingat, orang besar adalah orang yang sanggup berterima kasih kepada pengkritiknya. 
Bagaimana dengan hinaan ?
tenang, takdirmu Sukses, ini sudah hukum alam (menurutku). Titik kesadaran membuat semua “rasa” menjadi terevaluasi. Dulu saat kita kecewa terhadap seseorang bisa saja hari ini kita justru berterima kasih kepada orang tersebut.
Bahwa kita sedang diproses, sedang diproses atau akan diproses oleh Tuhan adalah sesuatu yang pasti. Kita tidak dapat menolak atau mengelak dari “blueprint” ini. Jangan merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang sengaja dipinjam Tuhan untuk menjadi alat atau faktor pengubah atau pemproses kehidupan kita. Bila kita membenci mereka sama saja seperti membenci proses pembentukan yang kan menyempurnakan kita.
Jadi jangan lari.. mari nikmati proses kehidupan ini :)
Via (Ikrom Islami Ardiawan)

Sunday, 26 April 2015

Tulisan: Musyawarah


Kita tak akan pernah mengetahui bagaimana takdir kita pada akhirnya di masa depan nanti. Tapi kita bisa mengusahakan segala hal yang kita harapkan, sekalipun pada akhirnya ada dalam suatu masa Tuhan belum menjawab doa serta harapan kita, sekalipun dalam suatu waktu Tuhan belum berkehendak memberikannya, bahkan mungkin sekalipun di suatu hari nanti Tuhan mengalihkan tiap harap kita dengan sesuatu hal yang bukan atas harapan kita. Percayalah, Tuhan punya skenario terindah dalam tiap lantunan langkah kaki kita.
Kita terkadang mungkin mengharapkan banyak hal, kita bahkan terkadang menerka-nerka tiap ketetapanNya. Sungguh, Tuhan Maha Mengetahui, kita tak pernah mengetahui apa pun. Terkadang kita saja yang suka sok tahu.
Musyawarah…
Dalam setiap zona perjalanan, kita akan menemukan musyawarah. Dimana kita akan disudutkan pada suatu keputusan antara keinginan, harapan, takdir Tuhan, pun segala sesuatu yang tanpa ketidaktahuan kita.
Musyawarah adalah sesuatu yang terpenting dalam kehidupan kita, sebab Tuhan telah menciptakan manusia dengan segala indra. Bukan hanya indra pengecap bernama lidah, bukan hanya indra pendengar bernama telinga, bukan hanya indra pencium bernama hidung, dan bukan hanya indra perasa bernama kulit. Namun kita diberikanNya hati dan otak. Sebuah organ yang sangat penting yang berada dalam tubuh kita. Organ yang mengendalikan setiap langkah kaki kita.
Jika nanti kita menemukan kesulitan untuk melangkahkan keputusan kita, maka bermusyawarahlah. Bermusyawarah, bermusyawarah dengan ibu dan ayah kita misalnya. Namun, tidak hanya bermusyawah dengan manusia saja, tetapi juga dengan Tuhan kita. Bukalah hati dan yakinkan bahwa segala ketetapan Tuhan adalah ketetapan yang terbaik bagi kita. Ikuti kemana hati kecil kita berbisik, ikuti dimana keberkahan itu berada, ikuti kemana langkah hati kita merasakan ketenangan…
Dan kita akan menemukan jawaban itu, jawaban keputusan akan kehidupan kita dimasa depan…
Fikratus Sofa Muzakkiya