Blogroll

Saturday, 25 April 2015

Aku selalu ingin berterimakasih



Aku selalu ingin berterimakasih pada lelaki yang menundukkan pandangannya saat wanita lewat didepannya, tidak menatap wajah nonmahram saat bicara.
 Aku juga selalu ingin berterimakasih pada lelaki yang tidak mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan wanita yang bukan mahramnya. So touched.Aku selalu ingin berterimakasih pada lelaki yg tidak mau berada dekat-dekat dengan wanita. Membantu dirinya, pun si wanita, menjauhi fitnah. Aku selalu ingin berterimakasih pada lelaki yang tidak suka bicara banyak, terlebih pada hal tidak berfaedah, dari hal-hal yg tidak syar'i..
Aku, berterimakasih. Meski aku tidak tahu dia siapa, meski tidak pernah menemuinya. Aku berterimakasih padanya, pada keberadaannya di dunia.
Aku berterimakasih, karena tidak sedikit lelaki di zaman ini tidak malu memandang wajah wanita, memuji parasnya, menyentuh badan nonmahram.

Thursday, 23 April 2015

Tentang Sebuah Buku di Hari Buku Sedunia





Tahukah Anda buku terbaik di dunia? Jika berkenan, mohon luangkan waktu Anda untuk membaca catatan saya yang agak panjang ini.
Hari ini, 23 April, diperingati sebagai hari buku sedunia. Banyak orang tiba-tiba ramai membicarakan buku. Beberapa di antara teman-teman saya bahkan membuat daftar: Buku terbaik sepanjang masa, buku favorit yang pernah mereka baca, buku yang paling memengaruhi kehidupan mereka, dan seterusnya.
Hari ini, banyak orang membicarakan buku. Mereka mengunggah sampul buku favorit mereka dan menjadikannya gambar profil. Beberapa dari mereka menulis status berisi kutipan dari buku-buku yang pernah mereka baca, dari pengarang-pengarang terbaik yang paling mereka kagumi. Sementara beberapa yang lain membuat semacam resolusi bahwa tahun ini akan membaca lebih banyak buku dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, di tengah berbagai judul buku yang dibicarakan, ada satu buku yang tampaknya luput dari perhatian. Buku yang di antara jutaan buku-buku lainnya seringkali dibiarkan kesepian di sudut-sudut rak perpustakaan… Buku yang di beberapa rumah dibiarkan berdebu… Buku yang beberapa orang merasa malu untuk mengutip tulisan-tulisan di dalamnya… Buku yang sering dianggap sebagai ‘bukan buku’ sehingga banyak orang enggan membaca aneka pelajaran dan kisah-kisah yang terkandung di dalamnya.
Buku itu bernama Al-Quran Al-Karim.
Dengan berbagai alasan, beberapa orang enggan menyebut dan menganggapnya sebagai buku, karena katanya ia adalah ‘kitab suci’. Menurut mereka, ia berbeda dengan buku biasa, ia adalah buku yang paling istimewa! Hey, bukankah buku yang paling istimewa pun tetap merupakan sebuah buku? Allah sendiri dalam Al-Quran bahkan menyebutnya sebagai ‘buku’ (dalam bahasa Arab, ‘kitab’)… kitab yang tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya.
Khaled Abou el-Fadl dalam bukunya yang berjudul A Conference of the Books: The Search of Beauty in Islam (2005) menyebut Al-Quran sebagai buku yang paling menginspirasi lahirnya jutaan buku lain setelahnya. Bagi El-Fadl, jika saja bisa terselenggara sebuah musyawarah buku, maka Al-Quran akan selalu menjadi pembicara utama yang bisa menjawab sekaligus memberi rujukan bagi berbagai persoalan yang diajukan… Ia akan menjadi titik pusat bagi jutaan bahkan miliaran buku lain yang terus-menerus bertawaf mengelilinginya.  
Saya ingat sebuah cerpen dari Jorge Luis Borges yang menceritakan seorang pustkawan buta yang menjaga sebuah labirin perpustakaan raksasa. Dikisahkan suatu hari ia didatangi seorang pemuda yang mencari buku terbaik yang ada di perpustakaan itu, buku yang jika dibaca dengan baik maka akan bisa menyelesaikan seluruh persoalan hidup manusia.
“Ya, kau benar… Konon ada sebuah buku di dalam perpustakaan ini,” kata si pustakawan buta kepada sang pemuda. “Akupun terus mencarinya. Aku sudah menghabiskan seluruh hidupku untuk membaca seluruh buku yang ada di perpustakaan ini, membaca semuanya satu persatu hingga mataku menjadi buta, tetapi sayangnya aku belum berhasil menemukan buku itu…”
Hingga akhir cerita, Borges tidak mengatakan buku apa yang disebut sebagai buku terbaik yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan umat manusia itu. Namun sang pemuda dan pustakwan buta terus mencarinya, terus mencarinya…
Ketika membaca cerpen itu, pikiran saya bertanya-tanya: Mungkinkah buku itu adalah Al-Quran?
***
Hari ini adalah hari buku sedunia. Saya merasa saya terlalu lama melupakan dan bahkan mencampakkan sebuah buku yang paling penting dan utama. Buku itu bernama Al-Quran Al-Karim.
Suatu hari saya menonton sebuah film tentang Yusuf (Joseph) yang diadaptasi dari kitab suci agama lain. Hingga film itu selesai, saya menggerutu: Film ini ngawur! Kisah Yusuf AS yang benar yang digambarkan Al-Quran bukan seperti itu! Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri: Lalu, seperti apa kisah yang benar? Seperti apa Yusuf AS yang digambarkan Al-Quran?
Kemudian saya bergegas mencari Al-Quran saya, membersihkannya dari debu-debu. Lalu membaca dengan saksama kisah Yusuf AS di dalamnya. Di sana saya menyadari betapa indah buku yang sedang saya baca itu, saya takjub betapa hebat Al-Quran dalam menceritakan sesuatu… Sayangnya, mengapa selama ini saya tak mendekati Al-Quran sebagai sebuah buku? Pernahkah saya membaca Al-Quran, misalnya edisi terjemahan Bahasa Indonesianya, dari awal hingga akhir, dan menikmatinya sebagaimana saya membaca sebuah buku?
Saya jadi berpikir, bagaimana saya bisa memahami Al-Quran jika selama ini Al-Quran dibaca sepotong-sepotong? Satu ayat, satu ‘ain, satu lembar, satu surat, satu juz, dan seterusnya. Bagaimana saya bisa memahaminya jika saya membacanya sambil terburu-buru—hanya untuk menuntaskan target khataman atau mengejar setoran bacaan? Tetapi, yang paling mengguncangkan saya adalah mengapa sulit sekali saya meluangkan waktu untuk membacanya?
Saya jadi ingat nasihat guru saya, katanya, “Para Sahabat Nabi mengkhatamkan Al-Quran sekali setiap hari. Tetapi jika kau tak sanggup, bacalah al-Quran satu juz setiap hari.”
Saya bertanya pada guru saya waktu itu, “Jika tetap tidak bisa?”
“Bacalah satu surat setiap hari.” Jawabnya.
“Jika saya tak punya waktu, Guru?”
“Bacalah satu lembar setiap hari.”
“Jika tidak sempat?”
“Bacalah satu ‘ain setiap hari.”
Saya terdiam. “Jika saya begitu sibuk dan tak bisa membaca satu ‘ain setiap hari?”
Guru saya tersenyum, “Bacalah satu ayat setiap hari.”
Saya merasa gusar, lalu mengemukakan sebuah pertanyaan, “Guru, bagaimana jika saya tak bisa membaca Al-Quran?”
Guru saya tersenyum, “Pandanglah Al-Quran itu baik-baik, lalu tanyakanlah kepadanya, ‘Wahai Al-Quran, mengapa aku tak bisa membaca engkau?’
Mengapa aku tak bisa membaca engkau?

Selamat hari buku sedunia!
Melbourne, 23 April 2015
FAHD PAHDEPIE

Wednesday, 22 April 2015

Untukmu saudara muslimahku yang belum berhijab



Ketika aku memutuskan untuk berhijab
Itu bukan pertanda statusku sebagai manusia berubah menjadi malaikat
Bukan pertanda setan memutus hubungan denganku untuk tidak menggoda imanku
Aku tetaplah aku manusia biasa
Tetaplah aku hamba Allah yang tidak pernah bisa lepas dari dosa
Kenapa kamu memandangku seakan akan aku mempunya 2 sayap di punggungku?
Ketika aku melakukan satu kesalahan, seakan akan kamu ingin mengusirku dari bumi ini
Kamu mengatakan lebih baik dirimu yang tidak memakai kerudung dibandingkan aku yang memakai kerudung

Sebenci itukah dirimu ketika aku hanya melakukan satu kesalahan?
Saudaraku…..ini kerudungku yang lebar dan besar
Aku rela berbagi denganmu ketika mata lelaki memandang lekuk tubuhmu dengan penuh syahwat
Ini bahuku… kusandarakan untukmu ketika lelaki dengan mudah menyentuhmu dan meninggalkanmu begitu saja
Aku tidak pernah menganggap diriku lebih baik
Aku menjadi mulia di matamu karena ini…
Ini kerudungku yang menjadikan aku wanita yang mulia dipandanganmu
Oleh karena itu, ketika aku melakukan kesalahan, hinalah diriku saja
Katakan apa saja yang ingin kamu katakan untuk diriku
Tapi jangan pernah coba kamu menhina kerudung yang aku pakai
Semoga suara doaku untukmu dapat menembus langit ke 7
Selagi nafasku masih ada, gengamlah tanganku ini untuk berjuang bersamamu
Karena di akhirat nanti aku tidak akan lagi memperdulikanmu
Ketika nafasku berhenti, itu pertanda tugasku sudah selalu untuk selalu mengingatkanmu


-Retno Dhewandari-

Tuesday, 21 April 2015

Menundukkan Pandangan


Termasuk alasan, kenapa kamu susah khusyuk sholat, maksiat soalnya masih jalan, pandangan mata tidak terjaga. Memandang yang menimbulkan dosa.
Kamu sudah membuat bibit fitnah ketika kau pajang foto wajahmu di socmed hingga lawan jenis memujimu cantik atau hal tak terduga lainnya.
Dunia tidak sepolos yang kau pikir. Seriously. Andai mau berpikir lebih waspada sedikit, fotomu bisa saja disimpan jadi koleksi oleh nonmahram.
Wanita sholehah itu ukhti, ia tidak dipandang, pun ia juga tidak memandang. Yang ia tahu, ia merasa berdosa jika ajnabi justru memandangnya.
Karena sebaik-baiknya muslimah adl yg orang sekitarnya terhindar dari fitnah karena dirinya. Cukuplah kau jaga diri, Allah pasti menjagamu.
Sudahkah kita benar-benar takut pada dosa zina mata? Apalagi jika dosa itu ternyata berasal dari kita. Jaminkah nonmahram memandangmu tanpa syahwat?
Jihadun nafs. Berjuanglah melawan hawa nafsu, ukhti. Hal kecil yang mungkin dianggap biasa, padahal dosa juga berasal dari pandangan. #NoFoto
Celaka itu adalah, ketika kau tahu ilmu, tapi tidak diamalkan. Sampai sini, kau bisa lihat sejauh mana kesadaran rohanimu. Taat? Tutup hati?
Gadhul basar itu menundukkan pandangan. Bukan dengan jalan menunduk melihat tanah, tapi mengalihkan pandangan agar tidak dipandang juga memandang.
-Annisa-

Monday, 20 April 2015

Berilah Udzur kepada Saudaramu

Maka hari ini, nurani jernih perlu diasah ulang. Seperti nasehat yang dinukil Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya. “Temukan Tujuh puluh dalih untuk menganggap benar perilaku saudara yang tampak keliru dimatamu”. Demikian beliau tuliskan. “ Dan jika setelah tujuh puluh alasan terasa tak masuk akal juga, maka katakan pada dirimu: “Saudaraku ini punya ‘udzur yang tak kutahu”.
Dengan prasangka baik itu, sekokoh janji pada Allah untuk menjadi mukmin sejati, kita menjaga diri dalam keberjama’ahan untuk tak jatuh pada saling olok, mencari aib, dan membicarakan urusan saudara lain yang membuatnya tak suka jika mendengarnya. Karena penyakit-penyakit itulah yang melenyapkan energi kebaikan diantara kita, menyapu bersih cinta, dan menumbuhkan permusuhan.
Menyadari hakikat bahwa kita adalah sebentuk lautan dan syaithan adalah musuh semua, mudah-mudahan menguatkan ikrar kebersamaan. “Syaithan sering menggodamu” demikian ditulis oleh Dr. Mushthafa As-Siba’I dalam salah satu risalahnya, “ Untuk mengumumkan aib kawan-kawanmu dengan alasan amar ma’ruf dan nahi munkar. Ia mendukungmu untuk memecah belah jama’ah dengan mengangkatmu seakan sebagai pembela kebenaran”
“Sayang sekali, mungkin engkau lupa,” sambung beliau, “Bahwa syaithan itu tipudaya terlaknat yang tak punya kesempatan bertaubat. Sementara saudara-saudaramu dalam da’wah, betapapun bersalahnya, adalah manusia yang Allah bukakan untuk mereka kesempatan bertaubat seluas-luasnya.”.

Masih di “Dalam Dekapan Ukhuwah” –salim a fillah
Sedang merampungkan bacaan buku ini, jadi berbagi apa yang telah dibaca.
Selalu ada saat-saat dimana oranglain terlihat melakukan kesalahan dipandangan kita, inilah saatnya pikiran kita diuji untuk berpikir positif tentangnya, juga hati yang sedang diuji untuk tidak hasad tentangnya.
Keep Husnudzon !

Via Sabaritucantik

SIMPAN FOTO SAYA




Lagi dan lagi saya mengingatkan kepada diri sendiri, bahwa tidak ada kebermanfaatan yang banyak juga bermakna jika kita berbagi foto diri sendiri di internet, baik di sosial media maupun di applikasi massanger. Kemudhorotan yang tidak kita ketahui setelahnya, saya meyakini itu jauh lebih banyak. 
    Siapa yang tahu siapa saja yang telah melihat foto yang kita bagikan itu? Sosial media yang ada seperti faceebook, twitter, instagram, dan lainnya belum bisa memberitahukan siapa sajakah yang telah melihat foto kita. Lalu bagaimana jika memakai fasilitas privasi? Banyak orang yang merasa sudah sangat aman dengan memakai fasilitas ini di social media mereka. Karena percaya bahwa yang bisa melihat hanya teman-teman yang terkoneksi dengan dia. Pernah tidak berfikir kalau temen perempuan yang sejenis dengan kita itu sedang membuka social medianya disebelah suaminya, disebelah kakak kandungnya, atau ia sedang membukanya di komputer rumah yang layarnya dapat dilihat juga oleh seisi rumah yang kebetulan berada didekatnya. Who knows? right?. Dan kemudian adalah foto-foto kita yang cantik itu jadi dipandang dan tentu ada kemungkinan akan terus dipandang. Malu tidak sih kalau kita di dunia nyata ini saja sangat risih jika ada lelaki yang bukan mahram dijalan ketika turun dari angkutan umum ada yang memandang. Lalu apa bedanya dengan yang didunia maya, Semua orang bebas memandang kita tanpa terkecuali.
Ketika mengupload foto Anda di internet maka anda secara tak langsung telah “menandatangani kontrak” bahwa anda membebaskan siapapun bebas untuk memandang Anda tanpa terkecuali.~
longblackhijaab on instagram
     Dan saya juga meyakini bahwa sudah banyak orang-orang yang mumpuni atau istilahnya “jago” lah ya di bidang informasi dan teknologi (IT), Saya sedang tidak membicarakan keseluruhan pihak yang berprofesi atau yang sedang menempuh pendidikan sebagai IT yang dengan tulus mengabdikan ilmunya untuk kebermanfaatan khalayak ramai, tetapi saya sedang membicarakan mereka yang tidak amanah dengan ilmu yang mereka miliki. Atau bahkan dari seseorang yang tidak belajar dari sekolah itu namun diajari oleh temannya yang memang tahu tentang “membobol” akun orang lain di sosial media. Saya meyakini orang-orang seperti ini memang ada, karena saya sendiri mengalaminya, sampai saat ini saya tidak tahu tujuannya masuk ke akun saya secara diam-diam. Saya baru tahu kalau bisa masuk kedalam akun milik orang lain tanpa merubah kata sandi satu huruf pun, ya satu huruf pun dan tanpa meninggalkan jejak, wih canggih yah?. Tidak meninggalkan jejak maksudnya adalah tidak merubah posisi atau apapun yang ada didalamnya.
    Itupun saya dapat mengetahuinya karena akun media sosial (si facebook/fb)  memakai fitur “persetujuan masuk“ dari tahun 2010. Saya mendaftarkan setiap perangkat yang saya gunakan untuk login kemedsos ini, baik telepon genggam maupun komputer. Alhasil meskipun login dilakukan dengan No IP Address internet yang sama, si fb ini memberitahukan lewat email adanya tindakan mencurigakan (karena dibobol/ dipaksa masuk). Dan akhirnya si pelaku mengakuinya *si teman sekantor dari departemen IT ternyata. 
   Jadi mungkin ada baiknya kalau foto-foto pribadi milik kita yang penuh kenangan bersama keluarga tercinta dan orang-orang terkasih itu dicetak dan diabadikan dalam album-album yang tersimpan rapih dilemari seperti dahulu kala, yang baru dikeluarkan jika ada tamu dari sanak keluarga yang jauh atau teman lama yang sedang main kerumah. 
saya percaya bahwa mereka-mereka ini memang ada, SAVE MY PHOTO, DONT UPLOAD ON SOCIAL MEDIA AND MASSANGER APPLICATION 
~Ditulis dengan sepenuh hati sebagai pengingat diri.
Via Ratih Wulandari 

PERNAHKAH ANDA MENDENGAR KISAH: MADUNYA SI FAKIR?



Adalah Muhammad bin Sirin, beliau adalah salah satu pembesar tabi'in dan orang kayanya.
Beliau memiliki harta karun berupa madu.
���
Madunya mencapai hampir 600 birmil (tong besar).
Beliau bukan saja seorang milyoner, bahkan milyoder (apa ya bedanya kalo bhs Indo?)..
Pada suatu hari, ia mendapati di salah satu tong madunya ada seekor bangkai tikus.
���
Dan secara syar'i, jika terdapat bangkai tikus pada benda cair (spt minyak, madu, susu) maka benda cair tsb harus dibuang semuanya sewadah.
Berbeda dengan apabila tikus ditemukan di benda padat spt keju, dll, maka yang dibuang hanya titik di mana ditemukan tikus dan sekitarnya saja.
Lalu pekerja Muhammad bin Sirin mengeluarkan tikus tadi dari tong madu, namun celakanya mereka lupa tong yang manakah yang ada tikusnya tadi..
Dengan kewara'annya ibnu Sirin, maka beliau membuang semua tong madunya.
Dan itu musibah yang sangat besar Beliau bangkrut, rugi besar dari kekayaan dunia, akan tetapi karena wara’ beliau menjauhi syubhat..
Maka ada yang berkata kepada beliau: ini kerugian yang sangat besar..
Maka ibnu Sirin menjawab: Ini adalah pembalasan atas dosaku yang kutunggu selama 40 th..
Beliau ditanya lagi: Dosa apakah gerangan?
Beliau:
Suatu hari aku melihat orang telanjang, lalu aku pun manggilnya (mengejek) wahai si fakir!
Subhanallahil ‘azhim…
Muhammad bin Sirin menanti pembalasan sebuah dosanya selama 40 th, bagaimana yang bermaksiat sepanjang siang dan malam.
Suatu kaum sedikit berbuat dosa sehingga mereka tahu dari dosa manakah datangnya suatu musibah..
Seorang (merasa berdosa dengan) mengejek orang telanjang dengan “Hai si fakir!”, bagaimana dengan orang yang selalu merendahkan manusia siang malam..
Nas'alullah assalamah wal 'afiyah…
Ya Allah sibukkanlah lisan kami dengan mengingatMu dan jauhilah kami dari sibuk selain mengingatMu
✏ Oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى