Blogroll

Wednesday, 22 April 2015

Untukmu saudara muslimahku yang belum berhijab



Ketika aku memutuskan untuk berhijab
Itu bukan pertanda statusku sebagai manusia berubah menjadi malaikat
Bukan pertanda setan memutus hubungan denganku untuk tidak menggoda imanku
Aku tetaplah aku manusia biasa
Tetaplah aku hamba Allah yang tidak pernah bisa lepas dari dosa
Kenapa kamu memandangku seakan akan aku mempunya 2 sayap di punggungku?
Ketika aku melakukan satu kesalahan, seakan akan kamu ingin mengusirku dari bumi ini
Kamu mengatakan lebih baik dirimu yang tidak memakai kerudung dibandingkan aku yang memakai kerudung

Sebenci itukah dirimu ketika aku hanya melakukan satu kesalahan?
Saudaraku…..ini kerudungku yang lebar dan besar
Aku rela berbagi denganmu ketika mata lelaki memandang lekuk tubuhmu dengan penuh syahwat
Ini bahuku… kusandarakan untukmu ketika lelaki dengan mudah menyentuhmu dan meninggalkanmu begitu saja
Aku tidak pernah menganggap diriku lebih baik
Aku menjadi mulia di matamu karena ini…
Ini kerudungku yang menjadikan aku wanita yang mulia dipandanganmu
Oleh karena itu, ketika aku melakukan kesalahan, hinalah diriku saja
Katakan apa saja yang ingin kamu katakan untuk diriku
Tapi jangan pernah coba kamu menhina kerudung yang aku pakai
Semoga suara doaku untukmu dapat menembus langit ke 7
Selagi nafasku masih ada, gengamlah tanganku ini untuk berjuang bersamamu
Karena di akhirat nanti aku tidak akan lagi memperdulikanmu
Ketika nafasku berhenti, itu pertanda tugasku sudah selalu untuk selalu mengingatkanmu


-Retno Dhewandari-

Tuesday, 21 April 2015

Menundukkan Pandangan


Termasuk alasan, kenapa kamu susah khusyuk sholat, maksiat soalnya masih jalan, pandangan mata tidak terjaga. Memandang yang menimbulkan dosa.
Kamu sudah membuat bibit fitnah ketika kau pajang foto wajahmu di socmed hingga lawan jenis memujimu cantik atau hal tak terduga lainnya.
Dunia tidak sepolos yang kau pikir. Seriously. Andai mau berpikir lebih waspada sedikit, fotomu bisa saja disimpan jadi koleksi oleh nonmahram.
Wanita sholehah itu ukhti, ia tidak dipandang, pun ia juga tidak memandang. Yang ia tahu, ia merasa berdosa jika ajnabi justru memandangnya.
Karena sebaik-baiknya muslimah adl yg orang sekitarnya terhindar dari fitnah karena dirinya. Cukuplah kau jaga diri, Allah pasti menjagamu.
Sudahkah kita benar-benar takut pada dosa zina mata? Apalagi jika dosa itu ternyata berasal dari kita. Jaminkah nonmahram memandangmu tanpa syahwat?
Jihadun nafs. Berjuanglah melawan hawa nafsu, ukhti. Hal kecil yang mungkin dianggap biasa, padahal dosa juga berasal dari pandangan. #NoFoto
Celaka itu adalah, ketika kau tahu ilmu, tapi tidak diamalkan. Sampai sini, kau bisa lihat sejauh mana kesadaran rohanimu. Taat? Tutup hati?
Gadhul basar itu menundukkan pandangan. Bukan dengan jalan menunduk melihat tanah, tapi mengalihkan pandangan agar tidak dipandang juga memandang.
-Annisa-

Monday, 20 April 2015

Berilah Udzur kepada Saudaramu

Maka hari ini, nurani jernih perlu diasah ulang. Seperti nasehat yang dinukil Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya. “Temukan Tujuh puluh dalih untuk menganggap benar perilaku saudara yang tampak keliru dimatamu”. Demikian beliau tuliskan. “ Dan jika setelah tujuh puluh alasan terasa tak masuk akal juga, maka katakan pada dirimu: “Saudaraku ini punya ‘udzur yang tak kutahu”.
Dengan prasangka baik itu, sekokoh janji pada Allah untuk menjadi mukmin sejati, kita menjaga diri dalam keberjama’ahan untuk tak jatuh pada saling olok, mencari aib, dan membicarakan urusan saudara lain yang membuatnya tak suka jika mendengarnya. Karena penyakit-penyakit itulah yang melenyapkan energi kebaikan diantara kita, menyapu bersih cinta, dan menumbuhkan permusuhan.
Menyadari hakikat bahwa kita adalah sebentuk lautan dan syaithan adalah musuh semua, mudah-mudahan menguatkan ikrar kebersamaan. “Syaithan sering menggodamu” demikian ditulis oleh Dr. Mushthafa As-Siba’I dalam salah satu risalahnya, “ Untuk mengumumkan aib kawan-kawanmu dengan alasan amar ma’ruf dan nahi munkar. Ia mendukungmu untuk memecah belah jama’ah dengan mengangkatmu seakan sebagai pembela kebenaran”
“Sayang sekali, mungkin engkau lupa,” sambung beliau, “Bahwa syaithan itu tipudaya terlaknat yang tak punya kesempatan bertaubat. Sementara saudara-saudaramu dalam da’wah, betapapun bersalahnya, adalah manusia yang Allah bukakan untuk mereka kesempatan bertaubat seluas-luasnya.”.

Masih di “Dalam Dekapan Ukhuwah” –salim a fillah
Sedang merampungkan bacaan buku ini, jadi berbagi apa yang telah dibaca.
Selalu ada saat-saat dimana oranglain terlihat melakukan kesalahan dipandangan kita, inilah saatnya pikiran kita diuji untuk berpikir positif tentangnya, juga hati yang sedang diuji untuk tidak hasad tentangnya.
Keep Husnudzon !

Via Sabaritucantik

SIMPAN FOTO SAYA




Lagi dan lagi saya mengingatkan kepada diri sendiri, bahwa tidak ada kebermanfaatan yang banyak juga bermakna jika kita berbagi foto diri sendiri di internet, baik di sosial media maupun di applikasi massanger. Kemudhorotan yang tidak kita ketahui setelahnya, saya meyakini itu jauh lebih banyak. 
    Siapa yang tahu siapa saja yang telah melihat foto yang kita bagikan itu? Sosial media yang ada seperti faceebook, twitter, instagram, dan lainnya belum bisa memberitahukan siapa sajakah yang telah melihat foto kita. Lalu bagaimana jika memakai fasilitas privasi? Banyak orang yang merasa sudah sangat aman dengan memakai fasilitas ini di social media mereka. Karena percaya bahwa yang bisa melihat hanya teman-teman yang terkoneksi dengan dia. Pernah tidak berfikir kalau temen perempuan yang sejenis dengan kita itu sedang membuka social medianya disebelah suaminya, disebelah kakak kandungnya, atau ia sedang membukanya di komputer rumah yang layarnya dapat dilihat juga oleh seisi rumah yang kebetulan berada didekatnya. Who knows? right?. Dan kemudian adalah foto-foto kita yang cantik itu jadi dipandang dan tentu ada kemungkinan akan terus dipandang. Malu tidak sih kalau kita di dunia nyata ini saja sangat risih jika ada lelaki yang bukan mahram dijalan ketika turun dari angkutan umum ada yang memandang. Lalu apa bedanya dengan yang didunia maya, Semua orang bebas memandang kita tanpa terkecuali.
Ketika mengupload foto Anda di internet maka anda secara tak langsung telah “menandatangani kontrak” bahwa anda membebaskan siapapun bebas untuk memandang Anda tanpa terkecuali.~
longblackhijaab on instagram
     Dan saya juga meyakini bahwa sudah banyak orang-orang yang mumpuni atau istilahnya “jago” lah ya di bidang informasi dan teknologi (IT), Saya sedang tidak membicarakan keseluruhan pihak yang berprofesi atau yang sedang menempuh pendidikan sebagai IT yang dengan tulus mengabdikan ilmunya untuk kebermanfaatan khalayak ramai, tetapi saya sedang membicarakan mereka yang tidak amanah dengan ilmu yang mereka miliki. Atau bahkan dari seseorang yang tidak belajar dari sekolah itu namun diajari oleh temannya yang memang tahu tentang “membobol” akun orang lain di sosial media. Saya meyakini orang-orang seperti ini memang ada, karena saya sendiri mengalaminya, sampai saat ini saya tidak tahu tujuannya masuk ke akun saya secara diam-diam. Saya baru tahu kalau bisa masuk kedalam akun milik orang lain tanpa merubah kata sandi satu huruf pun, ya satu huruf pun dan tanpa meninggalkan jejak, wih canggih yah?. Tidak meninggalkan jejak maksudnya adalah tidak merubah posisi atau apapun yang ada didalamnya.
    Itupun saya dapat mengetahuinya karena akun media sosial (si facebook/fb)  memakai fitur “persetujuan masuk“ dari tahun 2010. Saya mendaftarkan setiap perangkat yang saya gunakan untuk login kemedsos ini, baik telepon genggam maupun komputer. Alhasil meskipun login dilakukan dengan No IP Address internet yang sama, si fb ini memberitahukan lewat email adanya tindakan mencurigakan (karena dibobol/ dipaksa masuk). Dan akhirnya si pelaku mengakuinya *si teman sekantor dari departemen IT ternyata. 
   Jadi mungkin ada baiknya kalau foto-foto pribadi milik kita yang penuh kenangan bersama keluarga tercinta dan orang-orang terkasih itu dicetak dan diabadikan dalam album-album yang tersimpan rapih dilemari seperti dahulu kala, yang baru dikeluarkan jika ada tamu dari sanak keluarga yang jauh atau teman lama yang sedang main kerumah. 
saya percaya bahwa mereka-mereka ini memang ada, SAVE MY PHOTO, DONT UPLOAD ON SOCIAL MEDIA AND MASSANGER APPLICATION 
~Ditulis dengan sepenuh hati sebagai pengingat diri.
Via Ratih Wulandari 

PERNAHKAH ANDA MENDENGAR KISAH: MADUNYA SI FAKIR?



Adalah Muhammad bin Sirin, beliau adalah salah satu pembesar tabi'in dan orang kayanya.
Beliau memiliki harta karun berupa madu.
���
Madunya mencapai hampir 600 birmil (tong besar).
Beliau bukan saja seorang milyoner, bahkan milyoder (apa ya bedanya kalo bhs Indo?)..
Pada suatu hari, ia mendapati di salah satu tong madunya ada seekor bangkai tikus.
���
Dan secara syar'i, jika terdapat bangkai tikus pada benda cair (spt minyak, madu, susu) maka benda cair tsb harus dibuang semuanya sewadah.
Berbeda dengan apabila tikus ditemukan di benda padat spt keju, dll, maka yang dibuang hanya titik di mana ditemukan tikus dan sekitarnya saja.
Lalu pekerja Muhammad bin Sirin mengeluarkan tikus tadi dari tong madu, namun celakanya mereka lupa tong yang manakah yang ada tikusnya tadi..
Dengan kewara'annya ibnu Sirin, maka beliau membuang semua tong madunya.
Dan itu musibah yang sangat besar Beliau bangkrut, rugi besar dari kekayaan dunia, akan tetapi karena wara’ beliau menjauhi syubhat..
Maka ada yang berkata kepada beliau: ini kerugian yang sangat besar..
Maka ibnu Sirin menjawab: Ini adalah pembalasan atas dosaku yang kutunggu selama 40 th..
Beliau ditanya lagi: Dosa apakah gerangan?
Beliau:
Suatu hari aku melihat orang telanjang, lalu aku pun manggilnya (mengejek) wahai si fakir!
Subhanallahil ‘azhim…
Muhammad bin Sirin menanti pembalasan sebuah dosanya selama 40 th, bagaimana yang bermaksiat sepanjang siang dan malam.
Suatu kaum sedikit berbuat dosa sehingga mereka tahu dari dosa manakah datangnya suatu musibah..
Seorang (merasa berdosa dengan) mengejek orang telanjang dengan “Hai si fakir!”, bagaimana dengan orang yang selalu merendahkan manusia siang malam..
Nas'alullah assalamah wal 'afiyah…
Ya Allah sibukkanlah lisan kami dengan mengingatMu dan jauhilah kami dari sibuk selain mengingatMu
✏ Oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Friday, 10 April 2015

Metamorfosa Jiwa

Kadang diri ini adalah sahabat yang baik, mengerti dan paham apa kehendak hati. Tapi kadang diri ini seperti tak bisa dikendalikan, mempunyai ego, nafsu, ambisi, dan pemikiran yang terlalu. Mungkin orang lain menyebutnya sebagai pergolakan batin. Yah, semacam itu.
Mengendalikan diri adalah hal tersulit yang pernah aku lakukan, begitupun mungkin dirimu. Kadang aku baik, kadang aku khilaf, kadang bisa menasehati, tapi kadang malah butuh dinasehati. Manusia. Ini pertanda aku dan kamu masih manusia.
<!--more-->
Aku bukanlah bidadari atau malaikat yang tak memiliki nafsu. Aku juga bukan setan yang sudah diklaim Tuhan untuk masuk neraka. Aku adalah manusia yang bisa berbuat salah dan diberi kesempatan untuk bertaubat. Indahnya menjadi manusia ketika mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri. Mau seberapa besar kesalahan dan dosa, tapi kalau berusaha keras bertaubat dan memperbaiki diri, tetap saja Tuhan memberi kesempatan untuk ke surga-Nya. Beruntung ya menjadi manusia?
Tunggu apalagi. Sekarang beranjaklah dari tempat dudukmu. Segera lakukan hal yang harus kau lakukan. Berubahlah setahap demi setahap untuk menjadi orang baru. Berusahalah sampai kau tak menyadari bahwa kau sudah terlahir “kembali” dengan jiwa yang berbeda meski ragamu sama. Berusahalah memperbaiki diri sampai kau tak menyadari bahwa kau sudah berubah menjadi orang baik.
Selamat bermetamorfosa.

CANTIK, INI DISEBUT PAKAIAN SYAR’I


Untukmu yang masih bertanya mengapa ada perempuan yang memilih mengenakan kerudung lebar. Kamu mungkin bertanya, “Mereka islam jenis apa sih? Aliran apa? Kenapa kerudungnya lebar?”
Cantik, apa kamu tahu bahwa Allah SWT memerintahkan kita menutup aurat? Aurat wanita itu seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Pilih baju yang tidak sempit agar lekuk tubuhmu tidak terlihat. Pilih baju yang tidak transparan, agar tubuhmu lebih terjaga. Ulurkan kerudungmu sampai menutup bagian dada. Semua ada dasarnya cantik, Allah SWT memerintahkan kita di dalam Alquran dan Alhadist.
Allah SWT berfirman dalam (Q.S AN-NUR: 31): Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah SWT, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Allah SWT juga berfirman dalam (Q.S. Al-Ahzab: 59): Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah SWT adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Begitulah Allah SWT karena terlalu sayang kepada kita, sampai peduli tentang urusan pakaian kita. Tentang jilbab yang menjulur di tubuhmu itu semata-mata lakukanlah karena Allah SWT, bukan karena paksaan manusia lain.
Kamu tahu yang dimaksud jilbab dan kerudung itu apa? Jilbab adalah pakaian longgar yang menjulur di tubuhmu, sedangkan kerudung adalah kain yang menutup kepalamu. Terkadang orang awam sering salah dalam pemaknaan dua kata itu.
Pakaian yang longgar, tidak membentuk lekuk tubuh, dan kerudung yang menjulur sampai ke dada, ini disebut pakaian syar'i, duhai cantik. Seandainya ada yang bertanya padamu kenapa pakaianmu longgar dan kerudungmu besar, jawablah dengan lantang bahwa kamu adalah muslimah, kamu beragama islam, dan kamu sedang berusaha menjalankan perintah Allah dengan baik.
Jangan takut berpakaian syar'i, karena dengan itu kamu malah lebih mudah dikenali sebagai muslimah, lebih terjaga, dan justru orang lain akan berpikir dua kali untuk mengganggu kamu. Kamu akan lebih dihargai sebagai seorang “perempuan” dan seorang muslimah.
Tentang cinta, dan proses menjaga diri. Jagalah dirimu agar tidak pacaran sebelum menikah. Kenapa? Karena Allah SWT tidak pernah memerintahkan kita untuk pacaran sebelum menikah. Tidak ada yang namanya pacaran islami. Jangan takut soal jodoh, karena jodoh, mati, dan rejeki semua sudah diatur oleh Allah SWT. Semut saja mendapatkan makanan dan pasangan, itu adalah salah satu bukti bahwa Allah SWT sudah menjamin rejeki dan jodoh kita. Semua sudah tertulis di Lauhl Mahfuz.
Apa kamu tahu, cinta yang menumbuhkan adalah Allah SWT, dan yang menghilangkan cinta di hati kita juga Allah SWT. Jodoh sudah diatur oleh Allah, jemputlah jodohmu dengan jalan yang baik. Jadi, jangan takut karena pakaianmu syar'i maka tidak ada lawan jenis yang tertarik padamu. Jodoh kita itu seperti cerminan diri kita, jika kamu berusaha memperbaiki diri, Insya Allah jodohmu juga sedang memperbaiki diri.
Jadi, masih takut berpakaian syar'i? Kalau aku sih enggak.. :D