Blogroll

Tuesday, 27 January 2015

quran bukan teman.


Pernah nggak sih sebegitu asing dengan Alquran?
Sehingga ketika ada masalah, cenderungnya kepingin cari quote-quote ucul, atau lirik-lirik lagu hipster.
Sebenarnya belum tentu salah juga konten si quote atau lirik itu. Tapi Alquran, ah, Meenn! Bukanlah ia sang sumber kebenaran dan keindahan paling jitu, agung, dan akbar?
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS: Yunus Ayat: 57)
Tuh.
Kenapa nggak coba minimal satu ayat Alquran saja direnungi? 
Kenapa nggak Alquran dulu yang diintip?
Quote yang selaras dengan ruh Ilahi— sifatnya lebih ke menopang, eh? Bukan Alquran yang mengikuti lirik lagu.
Lalu, lalu, lalu? Lebih milih makan bakso pedes, dibanding berdoa mampus-mampusan saking ingin dikasih petunjuk dari Allah SWT, hey kamu? Aarrgh.
Masa sih bergantung pada materi, ketimbang bergantung pada Yang Maha Menciptakan Materi?
Itu sih Dik Tristi saja kali ya. :(


Wednesday, 21 January 2015

Masih Berusaha Menjadi Tuhan?



Pernah dengar ungkapan "Jika kamu sedang berusaha merubah orang lain, dan gagal, sampai pada akhirnya kamu stress karena tidak bisa merubah dia seperti apa yang kamu mau, itu artinya kamu sedang berusaha menjadi Tuhan”.
Sebelum kamu berusaha merubah hatinya untuk mencintaimu, sudahkah kamu mencintai dirimu sendiri?
Pada akhirnya semua kembali pada diri sendiri, ketika kamu mengharapkan sesuatu yang lebih baik, sudahkah kamu pantas mendapatkannya? Sudahkah kamu lebih baik?
Investasi pada dirimu yang akan kamu berikan pada orang lain, menjadi tolak ukur sebesar apa yang akan kamu dapat nantinya. Jika kamu terlalu terburu-buru, maka hanya sebatas itu yang kamu dapat, dan lagi-lagi berteriak “KAMU MENYEBALKAN!!”.

Jika kamu disuruh memilih antara rumah yang bobrok, dengan rumahminimalis yang didekor dengan indah. Mana yang kamu pilih? Sudah cukup pantaskah pilihanmu dengan isi tabunganmu?
Saat kamu mengharapkan pasangan yang baik, tidakah kamu berpikir jika bukan hanya kamu satu-satunya manusia yang berharap punya pasangan yang baik?
  • Mana yang lebih dulu kamu pilih, mendapat pasangan yang baik, atau menjadi baik untuk pasangan?
  • Mana yang lebih kamu utamakan, kewajiban, atau hak?
  • Mana yang lebih dulu kamu utamakan, kebahagiaanmu, atau kebahagiaan pasanganmu?
Kita sama-sama bisa berkaca dari sikap Tuhan, selalu memberi yang terbaik lebih dulu kepada kita, baru Dia meminta yang terbaik dari kita. Pernah kalian meminta senja? Tapi Tuhan berikan.
Sebelum kamu berharap diperhatikan orang lain, kamu saja yang lebih dulu perhatikan dirimu. Sebelum kamu berharap disayangi orang lain, kamu saja yang lebih dulu sayangi dirimu.
Bagaimana dia bisa yakin denganmu, jika kamu sendiri tidak yakin dengan dirimu?
Masih berusaha menjadi Tuhan?

Andika P 


Sunday, 18 January 2015

Once You Feel Disappointed



Jika kita mau, mungkin kita bisa menuliskan jutaan kekecewaan yang kita alami setiap hari terhadap orang lain, terhadap cuaca, bahkan terhadap dunia. Lalu mengunggahnya di berbagai akun media sosial, mengirimnya ke berbagai surat kabar, dalam bentuk keluhan-keluhan. Agar semua orang tahu bahwa kita kecewa.
Tapi, untuk apa? Apa itu membuat rasa kecewa tersebut hilang? Apa itu membuat kita merasa lebih baik? Mungkin ya, rasa kecewa kita hilang, dan ya, kita merasa lebih baik. Tapi, tahan berapa lama?
Yakin rasa kecewa itu tidak menumpuk dalam ‘celengan’ hati kita layaknya tabungan?
Hati yang dibiarkan penuh oleh kekecewaan adalah hati yang sakit. Dan tak seorang pun bisa bahagia jika hatinya sakit.
Mungkin kita pernah terluka, kita pernah dibuat kecewa, kita pernah mengalami pengalaman-pengalaman buruk yang membuat tidur kita tidak nyenyak, dan kita begitu membencinya. Lalu kita merasa seharusnya dunia memahami kondisi kita, bukan malah memperburuk keadaan.
But that’s life. Itulah hidup. Kita tidak bisa memesan semuanya semau kita. Kita tidak bisa menolak dipertemukan dengan orang-orang dan kejadian-kejadian yang membuat kita kecewa. Apa yang diberikan, harus diterima dan dijalani.
Kita tidak bisa mengubah dunia—sulit berharap dunia dan seisinya akan selalu menyenangkan dan memuaskan kita, ya?—but we can change the way we perceive it. Ya, kita bisa mengubah cara kita memaknai dunia.
Jika dunia ini terasa sempit, mengapa tidak kita buat agar hati kita lebih luas darinya? Sehingga apapun yang diberikannya akan bisa kita terima dengan lapang.
Jika masalah-masalah terasa sangat besar, mengapa tidak kita buat agar hati kita lebih besar darinya? Sehingga semua masalah itu akan tampak kecil dan mudah.
Jika orang-orang seringkali membuat kita kecewa, mengapa tidak kita buat agar hati kita mudah untuk memaafkan? Kan masih ada kesempatan yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya?
Once you feel disappointed, remember this :
Memelihara kecewa, benci, dan dendam itu seperti kamu meminum racun dan kamu berharap racun itu bisa membunuh musuhmu.
Pada akhirnya bukan musuhmu yang akan mati, melainkan diri kamu sendiri.
Biarkan mereka yang mengecewakan kita menyelesaikan urusannya dengan Tuhannya, dan kita, kita juga memiliki urusan lain yang lebih penting, kan?
Forgive others, learn, be happy, be grateful. And see, we have a beautiful world outside with so many dreams to catch :)
“Pain is inevitable. Suffering is optional.” 
― Haruki Murakami

Tuesday, 13 January 2015

Senyum Dalam Tangisan, Jangan Bersedih Lagi


Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dalam kehidupan, pasti akan ada yang berubah maupun yang bertambah. Entah tambahan itu apakah suatu hal yang menyenangkan ataukah hal yang menyedihkan. Banyak hal yang terjadi menjadi sebuah penyesalan bahkan awal dari alasan sebuah kesedihan yang tiada akhir.
Namun ketika kita tidak berusaha mencari alasan-alasan yang baik dari sebuah penderitaan yang kita alami, seakan-akan kesedihan yang kita alami menjadikan kita sebagai orang yang terburuk keadaannya. Sudahkah kita belajar untuk melihat ke bawah?
Ya benar.
Melihat ke bawah.
***
Ternyata ada saja yang masih harus kita syukuri dari banyaknya kesedihan yang kita alami. Terkadang sulit untuk kita mencari jawaban mengapa suatu musibah justru terjadi pada diri kita sendiri.
Kenapa bukan orang lain?
Kenapa bukan orang yang bergembira itu?
Kenapa bukan orang yang selalu bahagia itu?
Tapi tidakkah kita sadari bahwa kita hanya melihat dari sudut pandang mata kita. Bagaimana dengan Allah yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana.
***
Tidak kita sadari semua, bahwa sudut pandang kita begitu sempit dan sangat sempit. Allah melihat dari segala sudut yang tidak akan pernah dapat dijangkau oleh manusia. Bukankah kitapun manusia, milik Dia Yang Maha Kuasa.
Berhakkah sebenarnya kita protes?
Padahal kita adalah milik-Nya.
***
Sebuah pertanyaan yang tentu kita tau jawabannya.
Berusahalah merenung dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Berusahalah untuk mencari jawaban positif dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Suatu ketika, ada seorang melaporkan kepada Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Abu Darda’ radliallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Fakir itu lebih aku cintai dari pada kaya dan sakit lebih aku sukai dari pada sehat.” Setelah mendengar laporan ini, Hasan mengatakan, “Semoga Allah mengampuni Abu Darda’, adapun yang benar, saya katakan:
من اتكل على حسن اختيار الله له لم يتمن غير الحالة التي اختار الله له
“Barangsiapa yang bersandar kepada pilihan terbaik yang Allah berikan untuknya, dia tidak akan berangan-angan selain keadaan yang pilihkan untuknya.” (Kanzul Ummal, Ali bin Hisamuddin al-Hindi)
Entahlah, seakan-akan manusia terus berusaha melawan kodratnya. Hingga ia tenggelam dengan permasalahanya sendiri yang tiada habisnya.
Lalu lupakah kita tentang hakikat sebenarnya kita diciptakan?
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون
” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adzariyat :56)
Jadi ketika pena diangkat dan catatan takdir telah kering, haruskah kita protes?
Menjalani dengan penuh tawakal dan berusaha menunaikan kewajiban, mungkin adalah obatnya. Daripada berkubang dengan kesedihan yang kita masih belum tau apakah hikmahnya.
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
” Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah:112)
***
Jika Engkau seorang yang bertauhid, untuk apa bersedih, untuk apa mengeluh, untuk sesuatu yang sebenarnya akan engkau jalani.
Percayalah, bukankah Allah tidak akan membebani seseorang diluar kesanggupannya?
Pertanyaan ini adalah hal yang harus engkau renungi. Agar engkau yakin, semua pasti bisa engkau lewati dengan baik. Karena percayalah selalu,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
” Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5 – 6)
***
Jadi, untuk apa engkau bersedih lagi.
Tersenyumlah untuk dunia yang akan engakau jalani.
Itulah satu cara untuk mengurangi kesedihanmu, yang insya Allah akan berlalu dan akan diselingi kebahagiaan kembali.
Percayalah Allah sayang pada hamba-hambaNya yang sabar.
Wallahu a’lam
***
* Untuk di jadikan amalan kita bersama ~
Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang kekal bagi orang yang mengajarnya, meski hanya 1 ayat,dan meskipun kita sudah meninggal dunia…
Dari sahabat untuk sahabat

Via -Anisaa Nurul Khasanah

Jika Perpisahan Itu adalah Lebih Baik

When someone comes into your life, Allah sends them for a reason. Either to learn from them or be with them till jannah..

Perpisahan.Clash. Break up. Putus.

Pernahkah anda semua mengalami situasi ini?
Mungkin inilah perkataan yang sangat menyiksa jiwa kebanyakkan daripada kita. Kita merasakan ini adalah satu “musibah” yang sangat besar, yang sangat menyesakkan dada, yang mudah sekali untuk menjatuhkan butiran air mata.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat-saat indah bersamanya, yang senantiasa terbayang di benak hati kita.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemui yang seperti dia lagi dan kita merasakan hanya boleh bahagia dengannya sahaja.
Kita takut, apabila berpisah dengannya, kita tidak akan ada siapapun lagi.
Ada juga diantara kita yang terpaksa memutuskan hubungan atas dasar keluarga yang tidak merestui. Tidak sama taraf, perbedaan agama, faktor jarak dan berbagai lagi alasan yang kita tidak mampu jaga.
Dan yang paling baik dan terpuji bagi saya, adalah mereka yang memutuskan sebuah hubungan cinta karena ingin menjaga agama dan maruah diri dari fitnah dan dosa cinta.
Namun saya pasti, setiap terjadinya “putus hubungan” ini, pasti diiringi dengan air mata, kesedihan, kemurungan dan rasa kecewa. Kalau tak banyak, mesti apa juga secuil perasaan ini.
Tapi ia tak peduli pun, normal. Tiada manusia yang tidak sedih dengan sebuah kehilangan.  Mana ada manusia yang mahu kebahagiaannya hilang.
Tetapi mengapa kita perlu bersedih berlebih – lebihan?
Apakah alasan utama yang kita untuk terlalu sedih untuk sesuatu yang masih tiada hitam putih, yang masih ghaib. Lagianpun orang yang sudah nikah bisa boleh bercerai.
Kenangan? Karena terlalu banyak saat indah bersamanya? Hidup ini bagaikan putaran roda, jangan menyandarkan hidup kita hanya kepada kenangan.
Mungkin pada waktu lalu kita gembira bersama dia, tetapi sekarang adakah kita masih gembira? Dan apa yang pasti, masa depan belum tentu menjanjikan rasa bahagia seperti masa lalu.
Dan kesedihan yang sedang kita lalui ini, tidak selamanya akan begini. Percayalah, kita akan temui bahagia setelah diuji untuk bersabar. Setiap kehilangan ada pembelajaran yang membuat jiwa makin dewasa.
Atau mungkin menjadi sebuah proses untuk melepaskan sebuah ego dalam diri. Di saat kehilangan, kita jadi meringkuk seperti bayi yang tak punya kuasa.
Kita harus melepaskan seseorang karna kita tahu jika Allah mengambil sesuatu, Dia telah siap memberi yang lebih baik.
Kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Kita sadar kita tak pernah memiliki apa-apa pun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ketika kita kehilangan?
Takut untuk Memutuskan cinta.
Ini lagi satu masalah yang menghantui kebanyakkan orang. Takut untuk meminta kata putus. Memang susah untuk memutuskan cinta dengan seseorang apatah lagi jika dia pernah dekat dengan kamu. Tidak mau menyakiti dan tidak mahu orang yang mendendami.
Sebelum itu, apa yang menyebabkan kita patut memutuskan hubungan? Putuslah jika orang yang kamu suka itu seorang yang fasik, tidak melakukan solat, mengajak kamu melakukan maksiat, tidak memberatkan agama.
Juga putuslah jika cinta ini melalaikan kamu dari Allah, pelajaran, ibu bapa.
Jangan teruskan hubungan dengan orang yang tidak serius dengan sebuah perkahwinan. Suruhlah dia datang jumpa ibu bapa, Jika dia betul – betul dengan anda. Janji mulut saja tak cukup, karna tunjukan usahanya. Percayalah, cinta sesudah nikah itu lebih indah.
Saya ulang sekali lagi, cinta sesudah nikah itu lebih indah.
Memutuskan. Perkara sukar tetapi sebenarnya mudah, kesulitannya hanya karna kita enggan menyakiti seseorang. kalau hubungan itu menjurus ke arah dosa dan kelalaian, maka putus sahaja.
Jangan takut menyakiti hatinya, karna dia hanya mengajak kita kearah kemaksiatan. Yang mana kita pilih, samada menyakiti dia ataupun menyakiti Allah?
Suatu hari nanti kita akan rasa betapa penurutnya diri kita. Kita akan sadar betapa beruntungnya Kita diuji sebegitu. Cuma saya karna bangun dan teruskan hidup terlebih dahulu,- penulisbuta
Takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku redha dengannya.. amin..

Sunday, 11 January 2015

⚠Ikhwan Lebay dan Akhawat Narsis⚠



Narsis, kata yang sebenarnya bermakna buruk tapi seolah menjadi gelar mulia. Betapa tidak? Wanita maupun lelaki berlomba-lomba menyabet gelar tersebut lewat foto-foto dengan gaya yang ‘ehem, sedikit over’.
Biasanya sang “Putri atau Pangeran Narsis” ini menimpa anak-anak ALAY tapi kini merambah remaja-remaja yang ‘Paham Agama’.

Biasanya kita lihat remaja berlabel “Ikhwan” adalah mereka yang berjenggot dan bercelana cingkrang dengan pandangan yang dijaga, kini tak sedikit “Ikhwan” yang pandangan matanya liar, lisannya merambah setiap foto-foto remaja putri berlabel “Akhawat”.
Maka, yang harusnya seorang “Akhawat” itu menjaga dirinya, jaga auratnya, malunya sebagai pelindung, tapi pemandangan berkebalikan justru wara-wiri di media sosial, sebut saja FB, Twitter, Instagram, Path, BBM, dll.
Foto-foto narsis “Akhawat” pun seolah tanpa henti membungakan taman sosial dengan senyum manis, mata misterius di balik cadar, jemari lentik menutup wajah, siluet punggung, potongan badan bagian bawah, foto wajah dengan sunset atau sunrise kemudian elok rupa diblur, entah untuk apa semua ini?
Ikhwan dan Akhawat adalah istilah yang merebak di Indonesia dengan pergeseran makna, jika Ikhwan yang dari bahasa Arab bermakna laki-laki dan Akhawat bermakna perempuan, maka di Indonesia istilah ini dipinjam untuk membedakan mana lelaki dan wanita yang semangat ngaji dengan yang bukan.
Ikhwan dan Akhawat adalah mereka yang berupaya mengikuti jejak nabi dan generasi terbaik umat islam, menjadikannya sebagai ‘the way of life’ baik dalan prilaku maupun penampilan.
Namun apa daya, mereka hanyalah manusia biasa yang tidak kebal virus duniawi, di antaranya narsis dan lebay.
Memang tak ada jaminan bahwa seorang ikhwan atau akhawat lebih baik dari yang belum menjadi ikhwan atau akhawat, tapi apakah layak seseorang yang mengaku dirinya ikhwan dan akhawat doyan narsis dan lebay?
Narsis tak pernah lepas dari keinginan ‘be the center of attention’ alias ingin jadi pusat perhatian, ingin dikenal, dapat pujian, tebar pesona atau bahkan ingin jadi artis dunia maya(?)
Walaupun dia tak mengakui demikian tujuannya, tapi jika ia mau jujur ia akan membenarkan.

Narsis? Mikir!!!❗

Coba deh kita berfikir kembali, sebenarnya apa tujuan foto-foto narsis kita di sosmed (sosial media)?
Pamer kecantikan? Dilirik banyak lelaki? Biar dianggap bunga sekolah/kampus? Biar dapat banyak ‘jempol/like’? Cepat dapat ikhwan keren?
Please throw away the silly mind!
Tolong, buang jauh-jauh pikiran itu!
Kalau ada ‘ikhwan lebay’ yang komen ‘duch cantiknya bidadari dunia ne’ atau gombalan alay lainnya, apa sih efeknya buat kamu?
Yang ada kamu justru lupa diri dan berakhir tragis dengan takabbur, riya’ dan sombong.
"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi…"
(HR. Muslim, no.91)
Bukankah elok parasmu hanya layak dipamerkan kepada suamimu kelak? Apa gunanya diobral kepada lelaki-lelaki yang belum pasti jodohmu?
Ambil pelajaran juga dari mereka yang menjadi korban editan foto. Atasnya berpakaian syar’i tapi bawahnya syur. Ngeri kan???
Ada pepatah, “Mencegah lebih baik dari pada mengobati”.
So, tunggu apalagi? Yuk hapus pose-posemu di media sosial.
Dakwah itu nggak perlu pakai pamer foto dirimu apalagi foto orang.
❔Siapa Salah?❓
Sebabnya foto narsis si Akhawat mengakibatkan feed back lebay si ikhwan. Selanjutnya terjadilah komunikasi-komunikasi yang melanggar ketentuan syariat islam.
Jika begini, siapa salah?
Ikhwan lebay yang tak bisa jaga pandangan?
Atau Akhawat narsis yang tak bisa menjaga diri?
Kedua-duanya salah!
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…"
(QS. An Nuur : 30)
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya…"
(QS. An Nuur : 31)

Kita sadar bahwa kita bukanlah ikhwan yang sempurna, masih sering tergoda paras cantik akhawat dunia maya.
Begitupun akhawat, kini kita sadar bahwa kita bukanlah akhawat yang suci, karena dengan mudah ternodai, terprovokasi gombalan pata ikhwan.
So, stop narsis dan lebay!!!
Rasanya tak perlulah narsis untuk eksis, lihatlah para ulama terdahulu, mereka tak pernah ingin dikenal namanya tapi sampai sekarang nama merela harum dengan karya mereka yang fenomenal!
Jadilah ikhwan dan akhawat yang produktif, tanpa narsis sekalipun engkau eksis everywhere.
♻Eksis itu yang tak absen ikuti kajian.
♻Eksis itu yang tak kelolosan hafalan qur’annya.
♻Eksis itu yang woles hafal hadits.
Allaahua’lam
Semoga Bermanfaat.