Blogroll

Friday, 9 January 2015

Belajar Dari Masa lalu Yang Menyakitkan & Melepaskannya!











Maafkanlah masa lalu. Itu sudah berakhir.

Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita kepada apa yang telah hilang daripada kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira kepada apa yang telah diberikan kepada kamu. Allah tidak suka orang yang sombong dan membangga diri.”
Surah Al-Hadid, ayat 23
Belajarlah daripada masa lalu dan lepaskan ia untuk pergi. People are constantly changing and growing. Jadi, jangan buat diri kita terikat dengan bayangan seseorang dari masa lalu.
Pernah, hati ini rasa sakitnya bagai ditikam berulang kali?
Rasa menderita terperangkap  dalam bayangan masa lalu. Dan ia selalu hadir dalam fikiran walaubagaimana cara kita cuba melupakan?
Hanya cara untuk membuatkan hati kita menerima ketenangan dan kegembiraan dalam hidup kita adalah dengan menyediakan ruang untuknya.
If your heart is filled full-up with pain and hurt, how can you be open to anything new?
Tekadkan hati untuk melepaskan ia untuk pergi. Things don’t disappear on their own.
Kita perlu membuat komitmen untuk melepaskan ia pergi. Berhentilah untuk mengingati setiap detail cerita dalam kepala kita bila kita mula terfikirkannya.
Kosongkan sedikit dalam hati kita supaya kebahagiaan yang baru dapat masuk.
Forgiveness can change your life.
Kemaafaan akan membuatkan kita tenang.
Dengan memaafkan akan membuatkan kita gembira.
It’s not easy. But you can learn to do it. Slowly.

”..Do you know why people learn history at school? They learn from it and try no to do mistake again.”
:’)
Tidak akan memberikan sesuatu itu dengan sia-sia.
What past is past. Keep moving forward. 

– komik diatas adalah dilukis dan hak milik Diaemyung.

Saturday, 27 December 2014

BUNGKUS dan ISI


Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari dan mengurus BUNGKUS-nya saja serta
mengabaikan dan mengacuhkan ISI-nya.
Apa itu “BUNGKUS”-nya dan apa itu “ISI”-nya?.
"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..
“Keluarga bahagia” itu isinya…
"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
“Sakinah, mawadah, warahmah” itu isinya…
"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
“Tidur nyenyak” itu isinya…
"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
“Hati yang bahagia” itu isinya…
"Makan enak" hanya bungkusnya..
“Gizi, energi, dan sehat” itu isinya…
"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
“Kepribadian dan hati” itu isinya…
"Bicara" itu hanya bungkusnya..
“Amal nyata” itu isinya…
"Buku" hanya bungkusnya..
“Pengetahuan” itu isinya…
"Jabatan" hanya bungkusnya..
“Pengabdian dan pelayanan” itu isinya..
"Kharisma" hanya bungkusnya..
“Ahlaqul karimah” itu isinya…
"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
“Hidup sesudah mati” itu isinya…
Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya…
Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..
Janganlah setengah mati mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati..
Ust. Dr. Amir Faishol


Wednesday, 17 December 2014

Akan Segera Tiba


Akan segera tiba hari-hari dimana seseorang dengan keimanannya dapat melembutkan hatiku. Seseorang yang dengan keteguhannya meruntuhkan tembok keegoisanku. Seorang lelaki yang ketulusnya tak dapat ku ingkari. Dimana dihari seterusnya, kekurangan dari masing-masing kami yang membuat selalu rindu. Kekurangannya indah dimataku, begitu pula yang ada padaku.
Seseorang yang aku butuhkan bukan hanya aku inginkan. Lelaki yang menbuatku jatuh cinta berkali-kali. Akulah tempatnya berkeluh kesah, berbagi air mata, tawa dan pelukan. Tidak ada yang lain.
Aku lah satu-satunya perempuan yang namanya ia sebut dalam ijab qobul sekali seumur hidupnya.
Dengannya aku merasa aman dimanapun. Sedingin apapun, aku selalu merasa hangat dalam dekapnya.
Dibalik punggungnya nanti aku beribadah dan berdoa, dan diwaktu yang sama aku menjadi bagian dalam doa-doanya. Tangannyalah yang aku kecup setelah mengamini doa kami. Dan hanya keningku yang ia kecup.
Akulah nanti yang menjadi alasannya pulang, alasannya untuk tidak sering lembur, dan aku yang selalu ia ingat sekencang apapun godaannya diluar sana.
Dari rahimku nanti, akan lahir anak-anak sholeh dan lucu kami. Aku yang menjaga ketika ia sibuk bekerja, sedang ia yang akan mengajarkan anak kami untuk sholat dan mengaji.
Via tanpapena

Ayah dan Sebuah Rindu

Ayah, jika aku rindu padamu
bagaimana cara mengungkapkannya?
Sementara selama ini kita selalu berdiam diri jarang bertegur sapa
Tidak pernah menanyakan kabar,
Ayah, jika aku jatuh cinta
Bagaimana caranya aku belajar tentang wanita kepadamu
Sementara selama ini kau selalu diam saja tidak pernah bercerita
Aku ingin bertanya bagaimana menyampaikan setangkai bunga, bertanya tentang bagaimana mengetuk pintu rumahnya.
Bertanya tentang apa kata pertama yang harus aku ucapkan ketika bertegur sapa.
Ayah, jika aku lupa hari ulang tahunmu
Tidak pernah ada pengingat apapun karena aku tidak pernah tahu,
Bila aku harus pergi, akan adakah pelukan hangat itu? Pelukan yang aku cari-cari lagi setelah pelukan terakhirku ketika aku masih bayi.
Saat aku tidak pernah mengerti bahwa sikap itu berubah seiring hari. Apa karena kita sama-sama laki-laki? Enggan menunjukkan perasaannya. Enggan mengakui kerinduannya.


Via MasGun

“Sebenarnya Di Mana Sepi Itu Berada?”

Ketika semua telinga tak lagi mau mendengarmu, kau masih punya Tuhan yang bahkan tahu apa yang disembunyikan hatimu. Ketika semua mata mulai enggan melihatmu, kau masih punya Tuhan yang takkan lalai mengamatimu. Ketika kau terkurung dalam gelap, kau masih punya Tuhan yang Maha Bercahaya.

Lalu, apa yang kita takutkan dari sepi bila benar Tuhan itu masih hidup dalam hati. Atau sebenarnya kita sedang lupa DIA hingga kita kira sepi benar nyata?

Tuesday, 16 December 2014

[Memaafkan] Belajar Belajar Dan Belajar



Memaafkan memang bukan hal yang mudah, terlebih bila yang melukai tak menyadari salahnya (seakan dia tiada berbuat apa-apa tentang luka hati yang kian menganga).
Susah, susah, susah, begitu yang selalu kau keluhkan bila sakit itu kembali mendera. Angan tentangnya, harapan-harapan akan dirinya yang masih betah berlindung di balik tipu senyuman, semakin hari, semakin menggerogoti kenyamanan hidupmu.
Andai setiap orang piawai memaafkan, andai setiap insan mau selalu melapangkan hati, andai semua orang benar-benar percaya, bahwa tiada yang lebih luka dari lupa tujuan hidup yang sebenarnya. Bila begitu, barangkali tiada lagi yang merana bertahun-tahun meratapi luka yang sama. 

Hati ini manusiawi, otak ini manusiawi, raga ini manusiawi, dan begitulah terus mencari pembenaran untuk setiap tindakan yang tak semestinya. Ah, andai kita selalu benar-benar memeluk-Nya bila luka itu kembali menghantam. Andai kita bergegas melepas sesal dan kembali percaya hanya kepada-Nya, niscaya tiada lagi yang menghabiskan waktu terlalu lama untuk hal-hal yang tidak perlu.
Tentunya, luka hati susah sembuhnya, karena kemampuan memaafkan kita masih teramat rendah.
Susah, itu susah, aku sudah berkali mencobanya.
Coba lagi, pelan-pelan, kembalilah pada yang sebenar-benarnya benar. Tidak ada yang lebih sederhana dari pada terus menyandarkan hati pada-Nya, tapi kita justru lebih sering mencari ke mana-mana. Padahal DIA tiada sedikit pun lalai menunggu kembalinya kita.
Aku tak bisa, sulit, sangat sulit, oh, bukankah ini manusiawi? Begitu kembali desahnya menggema pada pekat gulita. Ia kembali tersungkur, terkubur semakin dalam pada sulitnya memaafkan.
Tidak ada yang lain selain terus mengupayakan. Belajar, belajar dan terus belajar, begitulah kiranya hingga hati kita piawai mendermakan maaf.
belajarlah untuk tidak mengulangi kesalahan itu kembali.
tuhan masih bersamamu.

Susah, susah, susah, begitu kembali gerutunya pada nestapa, dan sampai ajal tiba, luka itu akan tetap menganga. Selamat menikmatinya. :)

Monday, 8 December 2014

Tepat Tak Berarti Sempurna.


Aku sempat berfikir panjang saat pikiran ku mencoba memahami isi sebuah cerita tentang seorang perempuan yang menginginkan belahan jiwanya seseorang yang bisa menghargainya, menerimanya, dan serba sempurna. Sahabatnya kemudian mengingatkan, mana mungkin ada seseorang yang sesempurna itu?
Mengerti akan kesempurnaan itu hanya milik Allah, diamku terus berfikir, mencoba merangkaikan pemahaman. Sempurnanya Allah, kita harus selalu ingat sewaktu kita melakukan dosa, DIA tetap menerima kita jika kita bertaubat. Ketika kita melakukan kebaikan sekecil apapun, DIA jugalah yang akan menghargainya dan diberikanNYA kepada kita pahala yang setimpal. Dan Maha Sempurnanya Allah bisa terlihat dari segala macam hal, andai saja kita mau ‘melihat’, dan ‘memahami’ setiap darinya.
Lalu, aku pun menyimpulkan bahwa kita tak perlu mencari seseorang yang sempurna. Tapi, carilah orang yang tepat. Tepat berarti orang yang akan melengkapkan kita, dan kita juga akan melengkapkan dirinya. Intinya di sini adalah saling melengkapi. Setiap daripada kita memiliki kekurangan. Namun, selama kita mau terus memperbaiki diri kita masing-masing, itu sudah cukup memadai kan?
Tak terlupakan analogi penting ini; seperti bata-bata yang tidak semua bagus bentuk dan rupanya, namun jika disusun akan menjadi sebuah rumah yang cantik. Itu contoh saling melengkapkan antara satu sama lain.
Seperti kopi tanpa gula, pasti tak lengkap ya?
Menjadi yang tepat. Dan saling melengkapkan. Bisakah kita?
Written by : Sabrina Gazali