Blogroll

Monday, 8 December 2014

Sepenggal Kisah dari Al-Azhar Cairo


Seorang Syekh yang alim lagi berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman.Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar:
“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”
Syekh yang alim dan bijak itu menjawab:
“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.
Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun.
Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil
mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja. Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata…uang.
Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak percaya dengan penglihatannya.
Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun. Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunyalalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah ar rozzaq : 
“Aku bersyukur kepada-Mu wahai Robbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”.
Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.
Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung.
Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran
kepada muridnya : 
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”
Sang murid menjawab:
“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku:
“Ketika kamu memberi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu mengambil”.
Sang guru melanjutkan pelajarannya.
Dan sekarang ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-macam : 
-Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas dendam adalah suatu pemberian.
-Mendo’akan temanmu di belakangnya (tanpa sepengatahuannya) itu adalah suatu pemberian.
-Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk darinya juga suatu pemberian.
-Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu di belakangnya adalah pemberian lagi.
Ini semua adalah pemberian, supaya kesempatan memberi tidak dimonopoli oleh orang-orang kaya saja.
Jadikanlah semua ini pelajaran.
Muhammad Syakur - ADK 49

Friday, 21 November 2014

Teruntuk Seorang Laki-Laki


Untukmu laki-laki yang masih sendiri dan letih dalam pencarian belahan jiwamu, dengarlah ini…
Hentikanlah pengejaranmu untuk mendapatkan wanita yang cantik menurut nafsumu.
Cobalah buka mata hatimu bagi wanita yang cantik dalam pandangan Tuhan, dan engkau akan melihat banyak wanita sederhana yang kecantikannya sejati, yaitu yang daya tariknya berpendar dari hati yang bersih dan pikiran yang baik.
Wanita yang cantik dalam kesederhanannya, adalah wanita cantik yang sesungguhnya.
Pernikahanmu dengan wanita pilihanmu itu lebih panjang daripada kemampuan melengket dari bedak dan celak apa pun.
Engkau tak membutuhkan wanita yang kecantikannya baru tampil setelah proses berhias yang panjang dan meletihkan.
Yang kau butuhkan adalah wanita jujur yang damai wajahnya saat tidur, yang matanya terbelalak bergembira menyambut wajahmu yang biasa, yang tertawa renyah menyaksikan kelucuan anak kecil, yang berusaha menyenangkanmu dengan penganan yang dicoba dimasaknya sendiri, yang menghemat uangmu, yang menyemangatimu untuk menjadi profesional atau pebisnis yang sukses, yang memelihara kehormatannya, yang mesra dan manja kepadamu, tapi tegas dan galak dalam membela nama baikmu.
Selalu ingatlah, bahwa …
Wanita yang cantik dalam kesederhanannya, adalah wanita cantik yang sesungguhnya.
Semoga Tuhan segera mengenalkanmu dengan wanita baik itu, yang akan menjadi pendamping yang membahagiakan dan memuliakanmu, yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu yang sehat, yang cerdas dan berbudi pekerti baik.
Semoga kalian dibahagiakan dalam pernikahan yang rukun, yang penuh keceriaan dan kesejahteraan, dalam usia yang panjang dan sehat.
via-Abdul Kadir

Saturday, 15 November 2014

Maka, nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan

Malas sekali rasanya akhir akhir ini datang ke kampus.Malas sekali rasanya akhir akhir ini pergi ke Perpustakaan.Malas sekali rasanya akhir akhir ini ikut bergabung bersama teman teman.Hey, Ingat kah kamu dulu?Alangkah gembira nya kamu dulu mempunyai status menjadi Mahasiswa.Alangkah bahagia nya kamu dulu bercengkrama dengan beraneka ragam buku menarik yang setiap harinya memberi warna dalam pengetahuan mu.Alangkah Riang nya kamu dulu bersenda gurau dengan teman teman, diskusi bersama ada yang gak mau kalah dan ada yang selalu ingin benar.Semua itu memunculkan euforia dalam wajah mu.Ceria, semangat, pantang menyerah dan begitu Rajin nya dirimu segede alaihim gambreng.
Lantas, knp kini berbeda?Tidak bersyukur kah engkau masih dapat diberi kesempatan menuntut ilmu. Masih bisa dengan mudah mencari buku apapun yang ingin kamu baca. Masih bisa mengadahkan tangan jika ingin membeli sesuatu.
Pernah kah kamu merasakan setiap hari nya harus membagi waktu antara mengajar, kuliah, ataupun jualan demi penghasilan tiap bulan nya digunakan untuk ongkos kuliah?

Pernahkah kamu merasakan risau saat nilai smester mu turun dan ketakutan akan beasiswa kuliah mu dicabut ?
Pernahkah kamu begitu menahan rasa menggebu ingin membeli sesuatu yang memudahkan kuliah namun tidak punya uang cukup? Hanya menelan ludah yang dirasa.
Jika tidak, bersyukurlah.

Bukan Tak Ingin, Memang Belum Saatnya


Aku tidak sedang mencari, tidak pula sedang menunggu. Bila sekarang aku dipertemukan denganmu, itu di luar dugaanku. 

Aku tak bisa menolak takdir, tapi aku bisa membuat keputusan. Bohong jika aku tidak tertarik dengan semua kebaikan yang ada pada dirimu. Aku masih normal untuk jatuh hati pada ciptaan-NYA yang begitu menawan.

Aku belum berniat mencari, tapi bila sekarang kita dipertemukan, mungkin ini sebuah ujian. Aku mulai sadar akan apa yang hendak kutuju. Aku mulai paham atas apa yang ingin kulakukan. Tapi memintamu menunggu, itu di luar kuasaku. 

Aku tak suka membuatmu khawatir, sementara aku belum bisa menenangkanmu. Aku tak suka melihatmu dirundung rindu, sementara aku belum bisa membersamaimu. Bila kau benar cinta, kuharap kau paham dengan keputusanku.
Kumohon jangan katakan padaku bila kau menungguku. Aku takut tak kuat menahan nafsu. Bila kau benar cinta, kumohon hormati pula prinsipku. Bila yang lalu kau khilaf, aku menyadarinya, aku pun sering begitu.
Jika kau tak bisa menghormati pilihanku, maaf bila aku memilih menghindar. 

Mungkin kelak aku akan menyesal bila kudapati kau berlabuh dengan yang lain. Itu tak mengapa, aku percaya DIA hanya memilihkan yang tepat. Bila pun aku tak dipertemukan jodohku di dunia, mungkin jodohku ada di surga. Bukan aku tak percaya akan janjimu, tapi aku lebih suka mengejar janji-Nya
Kuharap kau cukup paham untuk tetap melebarkan senyum. Karena yang kita duga, belum tentu yang DIA suka. Mari mengejar janji-Nya saja.
Aku bisa menjanjikan banyak hal, tapi semoga takkan kulakukan. Bila aku mulai melontarkan itu, tolong tegur aku. Kau tak mau bukan hidup bergelimang bualan?

Ibadahmu Untuk Apa?

Untuk diriku dan beberapa teman:
Jangan terperdaya dengan ungkapan “Tingkatkan kapasitas untuk jadi pantas”. Ungkapan ini beberapa kali terucap/tertulis untuk hal yang berkaitan dengan jodoh.
Ketahuilah, sungguh Allah tidak butuh shalatmu, puasamu, sedekahmu, dan seluruh amal ibadahmu yang kau lakukan dengan maksud mendapatkan jodoh yang sepadan denganmu dan hal lainnya yang memiliki niat yang lain. Betapa banyak amalan yang agung menjadi rusak karena niat?Oleh karena itu, janganlah sekali pun ungkapan tersebut, atau yang sejenis, terucap dari lisanmu. Apalagi tertulis dalam hatimu. Jika ada, segera kau hilangkan. Sebelum banyak amalmu yang terhapus sia-sia saat kau berhujjah di pengadilan-Nya.
Jika kau merasa harus memperbaiki diri, dan memang harus, luruskan niatmu karena Allah Ta’ala. Hidayah yang telah menyelusup ke dalam hatimu tidaklah pantas kau sisipi dengan sesuatu yang merusak.Bersyukurlah pada Allah Ta’ala, yang hendak menjadikanmu hamba-Nya yang taat.

Monday, 27 October 2014

Hidup Adalah Tentang Terus Belajar Mencapai Keutuhan Diri


Aku tak pernah meminta pada DIA agar rasa ini ada, sama sekali tidak. Begitu pula kiranya kau yang tak pernah tahu pada siapa hatimu tertambat.
Semua berjalan pada poros kehidupan masing-masing, sekalipun kita mencoba keluar bila hari ini kita masih ditakdirkan di tepi, kita akan tetap di tepi.
ma. Setiap orang dilahirkan untuk sebuah laku yang tak bisa ditebak dengan jitu kecuali oleh waktu. Sama seperti aku yang tak pernah percaya pada akhirnya aku bisa begitu mudah tertarik, sama seperti aku yang selalu berusaha untuk menepis tapi tetap saja rasa itu ada.
Tidak ada yang salah dengan takdir, kecuali cara kita menghadapinya. Dan aku selalu muak mengikuti aliran air, aku tak suka hanyut. Ah, kenapa aku harus berhanyut-hanyut ria dalam air, sementara masih ada daratan yang bisa ditapaki. Ah, apa semua orang lupa, dunia sudah maju, kenapa pula harus terus hanyut jika aliran itu membawa masuk pada kubangan comberan? Kenapa harus tetap hanyut jika pada akhirnya aliran itu membawaku pada padang tandus, yang bahkan seekor tengu pun ogah menempatinya.
Aku tidak suka terlalu hanyut, sama sekali tidak. Sama seperti halnya aku tak ingin hanyut dalam kebohongan bahwa rasa ini telah hilang. Tidak sama sekali, ia tetap ada dalam penjagaanku, dalam kontrol diri yang terus berupaya untuk aku perbaiki.
Hidup adalah tentang proses mencapai keutuhan, dan keutuhan itu baru benar ada bila otak, bahkan hati, tak lagi turut bekerja. Keutuhan itu adalah kematian. Selama belum mati, selama itu pula semestinya kita terus berupaya mencapai keutuhan diri.
Semangat terus , tanpa kata menyerah dalam mencapai sesuatu itu :')

Sunday, 26 October 2014

Dosa Semalam



Assalamualaikum.
Aku hanya mau dikenali sebagai Bintang.Cinta. Aku juga seperti gadis yang lain. Penuh dengan perasaan ingin mencintai dan dicintai. Aku dipertemukan dengan seorang lelaki yang penyayang, baik hati dan sempurna di mataku..
Dan Karena cinta, aku luka. Setelah bercinta, aku lupa akan kewajiban terhadapNya. Semakin malas aku untuk solat, semakin malas aku untuk membaca Al-Quran. Aku makin terhanyut karena cinta. Waktu yang selalu terisi  bersama si dia. Di mulutku, hanya menyebut namanya. Di hatiku, hanya ada dia. Masa bersama keluarga dan kawan-kawan semakin tiada. Begitulah kuasa cinta.

Takdir. Satu hari kami ditakdirkan putus. Katanya, perasaan cinta sudah hilang dalam dirinya. Katanya, aku tidak pandai menjaga hatinya. Katanya lagi, aku sudah tidak ada dalam hatinya.
Sungguh, menerima perkataan tersebut, aku pasrah. Aku terjatuh. Kenapa perlu ditinggalkan di saat hati masih sayang?  Aku tersakiti terpaku. Aku coba memujuknya, tapi gagal. Dia tetap nekad dengan keputusannya. 
Ya Allah. Aku pasrah. Aku redha. Di saat aku jatuh, ibu menasihatiku agar bangun, bertaubat, kembali padaNya. Hanya itu yang mampu menenangkan jiwa aku. Aku bangun, aku berwudhuk. Aku mulai solat. Solat yang sudah berapa lama aku tinggalkan. 
Selesai solat, aku berdoa. Aku menangis. Ya Allah, apakah ujian yang Kau berikan ini? Aku tak sanggup untuk melaluinya lagi. YA allah, aku malu. Sesungguhnya aku teramat malu untuk menghadapMu. Waktu aku terbuang hanya untuk menikmati cinta , aku terlupa akan perintahMu. Aku abaikan perintahMu. Aku lebih mementingkan dia. Dan kini, Kau tarik balik segala nikmat yang Kau beri hanya seketika, tanpa aku sadar, tanpa aku sangka, hampir meragut jantungku.. 
Ya Allah, aku redha dengan ketentuan yang diberikan. Aku menangis. Lagi dan lagi. Malunya aku. Allah juga yang aku cari. Kenapa dulu aku sanggup tinggalkan Allah karena cinta? Ya Allah.. 
 Di saat aku mulai membaca al-quran kembali, menetis air mataku. Aku masih mampu membacanya. Sedangkan sudah sekian lama aku tinggalkan semua tu. Ya Allah, terima kasih kerana Kau tidak menutup pintu hatiku untuk bertaubat. Aku bersyukur sekali.  
Orang sekeliling memandang hina kepadaku. Mencaciku. Tapi aku bersyukur, banyak lagi yang menasihatiku, banyak lagi yang sentiasa bersamaku. Keluarga dan kawan-kawan tidak putus-putus memberi semangat, nasihat dan motivasi. Kata mereka, ini bukan akhir dari hidup kita. Kata mereka, dia yang telah menyakiti hatiku takkan dapat lari dari semua cobaan Allah. Anggaplah ini sebagai cobaan yang telah membuka pintu hatiku untuk bertaubat. 
 Dan apa yang aku tahu… dia sedang berbahagia dengan cinta hatinya yang baru..
 Syukur. Alhamdulillah. Terima kasih karena memberi peluang untuk aku mencurahkan perasaan ini kepadaMu. Semoga taubatku diterima olehMu Ya Allah.
Ingatlah kawan-kawan, cinta yang tidak halal tidak akan pernah bahagia walaupun sekuat mana kita pertahankan, selama mana kita bersama. Yang bahagia, cinta selepas menikah. Cinta yang halal. Cinta yang penuh keberkatan. Aku sudah merasai betapa pahitnya perpisahan.
Tapi aku yakin, Allah telah mempersiapkan yang lebih baik untukku. Aku hanya mampu berserah. Dosa semalam telah mengingatkan aku bahawasanya tiada yang kekal dalam dunia ini melainkan Allah.. Aku pasrah…
.
Via Gadis Tudung