Blogroll

Saturday, 15 November 2014

Maka, nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan

Malas sekali rasanya akhir akhir ini datang ke kampus.Malas sekali rasanya akhir akhir ini pergi ke Perpustakaan.Malas sekali rasanya akhir akhir ini ikut bergabung bersama teman teman.Hey, Ingat kah kamu dulu?Alangkah gembira nya kamu dulu mempunyai status menjadi Mahasiswa.Alangkah bahagia nya kamu dulu bercengkrama dengan beraneka ragam buku menarik yang setiap harinya memberi warna dalam pengetahuan mu.Alangkah Riang nya kamu dulu bersenda gurau dengan teman teman, diskusi bersama ada yang gak mau kalah dan ada yang selalu ingin benar.Semua itu memunculkan euforia dalam wajah mu.Ceria, semangat, pantang menyerah dan begitu Rajin nya dirimu segede alaihim gambreng.
Lantas, knp kini berbeda?Tidak bersyukur kah engkau masih dapat diberi kesempatan menuntut ilmu. Masih bisa dengan mudah mencari buku apapun yang ingin kamu baca. Masih bisa mengadahkan tangan jika ingin membeli sesuatu.
Pernah kah kamu merasakan setiap hari nya harus membagi waktu antara mengajar, kuliah, ataupun jualan demi penghasilan tiap bulan nya digunakan untuk ongkos kuliah?

Pernahkah kamu merasakan risau saat nilai smester mu turun dan ketakutan akan beasiswa kuliah mu dicabut ?
Pernahkah kamu begitu menahan rasa menggebu ingin membeli sesuatu yang memudahkan kuliah namun tidak punya uang cukup? Hanya menelan ludah yang dirasa.
Jika tidak, bersyukurlah.

Bukan Tak Ingin, Memang Belum Saatnya


Aku tidak sedang mencari, tidak pula sedang menunggu. Bila sekarang aku dipertemukan denganmu, itu di luar dugaanku. 

Aku tak bisa menolak takdir, tapi aku bisa membuat keputusan. Bohong jika aku tidak tertarik dengan semua kebaikan yang ada pada dirimu. Aku masih normal untuk jatuh hati pada ciptaan-NYA yang begitu menawan.

Aku belum berniat mencari, tapi bila sekarang kita dipertemukan, mungkin ini sebuah ujian. Aku mulai sadar akan apa yang hendak kutuju. Aku mulai paham atas apa yang ingin kulakukan. Tapi memintamu menunggu, itu di luar kuasaku. 

Aku tak suka membuatmu khawatir, sementara aku belum bisa menenangkanmu. Aku tak suka melihatmu dirundung rindu, sementara aku belum bisa membersamaimu. Bila kau benar cinta, kuharap kau paham dengan keputusanku.
Kumohon jangan katakan padaku bila kau menungguku. Aku takut tak kuat menahan nafsu. Bila kau benar cinta, kumohon hormati pula prinsipku. Bila yang lalu kau khilaf, aku menyadarinya, aku pun sering begitu.
Jika kau tak bisa menghormati pilihanku, maaf bila aku memilih menghindar. 

Mungkin kelak aku akan menyesal bila kudapati kau berlabuh dengan yang lain. Itu tak mengapa, aku percaya DIA hanya memilihkan yang tepat. Bila pun aku tak dipertemukan jodohku di dunia, mungkin jodohku ada di surga. Bukan aku tak percaya akan janjimu, tapi aku lebih suka mengejar janji-Nya
Kuharap kau cukup paham untuk tetap melebarkan senyum. Karena yang kita duga, belum tentu yang DIA suka. Mari mengejar janji-Nya saja.
Aku bisa menjanjikan banyak hal, tapi semoga takkan kulakukan. Bila aku mulai melontarkan itu, tolong tegur aku. Kau tak mau bukan hidup bergelimang bualan?

Ibadahmu Untuk Apa?

Untuk diriku dan beberapa teman:
Jangan terperdaya dengan ungkapan “Tingkatkan kapasitas untuk jadi pantas”. Ungkapan ini beberapa kali terucap/tertulis untuk hal yang berkaitan dengan jodoh.
Ketahuilah, sungguh Allah tidak butuh shalatmu, puasamu, sedekahmu, dan seluruh amal ibadahmu yang kau lakukan dengan maksud mendapatkan jodoh yang sepadan denganmu dan hal lainnya yang memiliki niat yang lain. Betapa banyak amalan yang agung menjadi rusak karena niat?Oleh karena itu, janganlah sekali pun ungkapan tersebut, atau yang sejenis, terucap dari lisanmu. Apalagi tertulis dalam hatimu. Jika ada, segera kau hilangkan. Sebelum banyak amalmu yang terhapus sia-sia saat kau berhujjah di pengadilan-Nya.
Jika kau merasa harus memperbaiki diri, dan memang harus, luruskan niatmu karena Allah Ta’ala. Hidayah yang telah menyelusup ke dalam hatimu tidaklah pantas kau sisipi dengan sesuatu yang merusak.Bersyukurlah pada Allah Ta’ala, yang hendak menjadikanmu hamba-Nya yang taat.

Monday, 27 October 2014

Hidup Adalah Tentang Terus Belajar Mencapai Keutuhan Diri


Aku tak pernah meminta pada DIA agar rasa ini ada, sama sekali tidak. Begitu pula kiranya kau yang tak pernah tahu pada siapa hatimu tertambat.
Semua berjalan pada poros kehidupan masing-masing, sekalipun kita mencoba keluar bila hari ini kita masih ditakdirkan di tepi, kita akan tetap di tepi.
ma. Setiap orang dilahirkan untuk sebuah laku yang tak bisa ditebak dengan jitu kecuali oleh waktu. Sama seperti aku yang tak pernah percaya pada akhirnya aku bisa begitu mudah tertarik, sama seperti aku yang selalu berusaha untuk menepis tapi tetap saja rasa itu ada.
Tidak ada yang salah dengan takdir, kecuali cara kita menghadapinya. Dan aku selalu muak mengikuti aliran air, aku tak suka hanyut. Ah, kenapa aku harus berhanyut-hanyut ria dalam air, sementara masih ada daratan yang bisa ditapaki. Ah, apa semua orang lupa, dunia sudah maju, kenapa pula harus terus hanyut jika aliran itu membawa masuk pada kubangan comberan? Kenapa harus tetap hanyut jika pada akhirnya aliran itu membawaku pada padang tandus, yang bahkan seekor tengu pun ogah menempatinya.
Aku tidak suka terlalu hanyut, sama sekali tidak. Sama seperti halnya aku tak ingin hanyut dalam kebohongan bahwa rasa ini telah hilang. Tidak sama sekali, ia tetap ada dalam penjagaanku, dalam kontrol diri yang terus berupaya untuk aku perbaiki.
Hidup adalah tentang proses mencapai keutuhan, dan keutuhan itu baru benar ada bila otak, bahkan hati, tak lagi turut bekerja. Keutuhan itu adalah kematian. Selama belum mati, selama itu pula semestinya kita terus berupaya mencapai keutuhan diri.
Semangat terus , tanpa kata menyerah dalam mencapai sesuatu itu :')

Sunday, 26 October 2014

Dosa Semalam



Assalamualaikum.
Aku hanya mau dikenali sebagai Bintang.Cinta. Aku juga seperti gadis yang lain. Penuh dengan perasaan ingin mencintai dan dicintai. Aku dipertemukan dengan seorang lelaki yang penyayang, baik hati dan sempurna di mataku..
Dan Karena cinta, aku luka. Setelah bercinta, aku lupa akan kewajiban terhadapNya. Semakin malas aku untuk solat, semakin malas aku untuk membaca Al-Quran. Aku makin terhanyut karena cinta. Waktu yang selalu terisi  bersama si dia. Di mulutku, hanya menyebut namanya. Di hatiku, hanya ada dia. Masa bersama keluarga dan kawan-kawan semakin tiada. Begitulah kuasa cinta.

Takdir. Satu hari kami ditakdirkan putus. Katanya, perasaan cinta sudah hilang dalam dirinya. Katanya, aku tidak pandai menjaga hatinya. Katanya lagi, aku sudah tidak ada dalam hatinya.
Sungguh, menerima perkataan tersebut, aku pasrah. Aku terjatuh. Kenapa perlu ditinggalkan di saat hati masih sayang?  Aku tersakiti terpaku. Aku coba memujuknya, tapi gagal. Dia tetap nekad dengan keputusannya. 
Ya Allah. Aku pasrah. Aku redha. Di saat aku jatuh, ibu menasihatiku agar bangun, bertaubat, kembali padaNya. Hanya itu yang mampu menenangkan jiwa aku. Aku bangun, aku berwudhuk. Aku mulai solat. Solat yang sudah berapa lama aku tinggalkan. 
Selesai solat, aku berdoa. Aku menangis. Ya Allah, apakah ujian yang Kau berikan ini? Aku tak sanggup untuk melaluinya lagi. YA allah, aku malu. Sesungguhnya aku teramat malu untuk menghadapMu. Waktu aku terbuang hanya untuk menikmati cinta , aku terlupa akan perintahMu. Aku abaikan perintahMu. Aku lebih mementingkan dia. Dan kini, Kau tarik balik segala nikmat yang Kau beri hanya seketika, tanpa aku sadar, tanpa aku sangka, hampir meragut jantungku.. 
Ya Allah, aku redha dengan ketentuan yang diberikan. Aku menangis. Lagi dan lagi. Malunya aku. Allah juga yang aku cari. Kenapa dulu aku sanggup tinggalkan Allah karena cinta? Ya Allah.. 
 Di saat aku mulai membaca al-quran kembali, menetis air mataku. Aku masih mampu membacanya. Sedangkan sudah sekian lama aku tinggalkan semua tu. Ya Allah, terima kasih kerana Kau tidak menutup pintu hatiku untuk bertaubat. Aku bersyukur sekali.  
Orang sekeliling memandang hina kepadaku. Mencaciku. Tapi aku bersyukur, banyak lagi yang menasihatiku, banyak lagi yang sentiasa bersamaku. Keluarga dan kawan-kawan tidak putus-putus memberi semangat, nasihat dan motivasi. Kata mereka, ini bukan akhir dari hidup kita. Kata mereka, dia yang telah menyakiti hatiku takkan dapat lari dari semua cobaan Allah. Anggaplah ini sebagai cobaan yang telah membuka pintu hatiku untuk bertaubat. 
 Dan apa yang aku tahu… dia sedang berbahagia dengan cinta hatinya yang baru..
 Syukur. Alhamdulillah. Terima kasih karena memberi peluang untuk aku mencurahkan perasaan ini kepadaMu. Semoga taubatku diterima olehMu Ya Allah.
Ingatlah kawan-kawan, cinta yang tidak halal tidak akan pernah bahagia walaupun sekuat mana kita pertahankan, selama mana kita bersama. Yang bahagia, cinta selepas menikah. Cinta yang halal. Cinta yang penuh keberkatan. Aku sudah merasai betapa pahitnya perpisahan.
Tapi aku yakin, Allah telah mempersiapkan yang lebih baik untukku. Aku hanya mampu berserah. Dosa semalam telah mengingatkan aku bahawasanya tiada yang kekal dalam dunia ini melainkan Allah.. Aku pasrah…
.
Via Gadis Tudung


Sunday, 7 September 2014

Cinta Dalam Islam. Adakah Kaum Muda Memahami?




Bercinta dan perasaan cinta mungkin sesuatu yang sukar dielakkan pada zaman ini. Dengan kemudahan teknologi perhubungan, hampir mustahil pemuda dizaman ini tidak bercinta, walaupun sekurang – kurangnya hanya dengan ber-sms.
Kali ini tajuk yang ingin dibincangkan adalah mengenai cinta di dalam Islam. Adakah kita, kaum muda memahami cinta yang dianjurkan di dalam Islam?

Cinta Dalam Islam

Cinta harus diungkapkan dengan baik dan benar sesuai dengan ukurannya. Jika tidak, boleh merosakan.
Aturan cinta dan kasih sayang ini perlu dipelihara, sehingga boleh terpelihara dan keindahannya selalu terjaga serta menjadi benteng yang kokoh.
Contohnya, lihat pada pasangan suami-isteri. Cinta dan kasih sayang boleh menjadi benteng yang sangat kuat untuk menghadapi cubaan dan ujian dari Allah.
Bila kita mampu menjaga kehadiran rasa sayang dan cinta, kita akan memiliki perlindungan yang terbaik untuk menghadapi tentangan besar dan badai kehidupan.
Namun, seringkali manusia tidak mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik sebuah cobaan dan ujian. Lebih lagi apabila seorang manusia telah menggunakan egonya.
Biasanya mereka akan kalah dan cenderung mempesoalkan tentang ujian dan cobaan yang menimpanya.
Contohnya ketika seseorang menyatakan perasaannya kepada orang yang disukainya. Kemudian mereka yakin bahwa hubungan mereka akan bahagia ke jenjang pelamin.
Namun, mereka putus di tengah jalan.
Fenomena ini biasa terjadi dalam masyarakat, tetapi kita seringkali sukar menghadapinya. Bila tidak berhati-hati, boleh menyebabkan kekecewaan dan mempengaruhi hingga ke sendi-sendi kehidupan seseorang.
Sering kalahnya manusia dalam ujian percintaan merupakan kas yang biasa mendera kaum muda.
Padahal, generasi muda sangat diharapkan oleh masyarakat sebagai agen perubahan. Sangat sayang apabila mereka  hilang dalam perjuangan zaman, hanya karena urusan cinta dan kasih sayang.
Kegagalan menjaga rasa cinta. Mereka hanya tidak mampu menguruskan fitrah yang sangat mendasar ketika menghadapi ujian kehidupan.
Ketika kaum muda putus cinta, seolah-olah putus segala harapan untuk  mendapatkan kasih sayang. Padahal tidak. Kesempatan mereka untuk mendapatkan kasih sayang dalam koridor yang sebenar masih terbuka lebar.
Meskipun begitu, sebaiknya kita mengharapkan cinta dan kasih sayang dari Allah. Cinta dan kasih sayang tertinggi dan terbaik dibandingkan cinta dan kasih sayang dari manapun.
Kita  seharusnya selalu berprasangka positif terhadap Allah. Sehingga mampu menjadikan kita menerima kenyataan apabila ungkapan cinta dan kasih sayang terhadap sesama kita putus di tengah jalan.
Kita juga jangan sampai kehilangan pegangan hidup, yaitu Islam. Bagaimana pun, sesuatu yang kita peroleh adalah hasil terbaik yang diberikan Allah.
Meskipun pada awalnya kita tidak memahami dan merasa sakit, tetapi apabila kita percaya bahawa hal tersebut merupakan yang terbaik, kita akan ikhlas menerimanya.
Bagaimana memelihara dan mengelola perasaan cinta dan kasih sayang yang baik terhadap pasangan?
Biasanya, sebelum berumah tangga, para pemuda & pemudi selalu mendesak dan seakan terdesak untuk segera menikah. Tetapi, setelah berumah tangga, akan terasa hambar karena semuanya sudah diketahui dan terbuka.
Impian yang pernah dicita-citakan sebelum bernikah dahulu, seringkali kandas dalam pertikaian, kekerasan dalam rumah tangga, dan penceraian.
Dalam hal ini, ada kegagalan dalam menjaga cinta dan kasih sayang.

Bagaimana Rasulullah mengajar cinta dalam Islam?

Rasul sendiri selalu memberikan kehangatan kepada isteri-isterinya, terutama Aisyah. Beliau selalu bermain serta memuji Aisyah. Sederhana dan mudah dipraktikkan untuk memelihara kehangatan.
Contohnya dengan mengamalkan untuk mencium isteri 3 kali dalam sehari. Tidak perlu sembunyi-sembunyi. Kalau boleh, dihadapan anak-anak agar mereka boleh melihat ibubapanya yang bahagia.
Rasul juga selalu mencontohkan untuk menyampaikan kata-kata yang baik kepada isteri setiap hari seperti, Kamu cantik sekali hari ini.
Rasul mencontohkannya dengan selalu memanggil Aisyah dengan jolokan si “pipi merah”.
Ekspresi seperti ini, walaupun nampak mengada-ngada, tetapi ia merupakan doa yang terungkap dari dalam hati.
Tidak perlu membelikan alat-alat kecantikan yang mahal agar isteri menjadi semakin cantik dari hari ke hari. Cukup dengan memujinya setiap hari, maka isteri akan kelihatan lebih cantik, meskipun semakin tua dari hari ke hari.
Karena kecantikan isteri ada di dalam hatinya.
Amalan baik ini akan selalu dilihat oleh Allah. Allah berjanji apabila ada hambanya yang melakukan kebaikan dengan berusaha memelihara kasih sayang dan menjaga cinta sebagai seorang suami kerana Allah, Allah akan semakin mendekatinya.
Bila hambanya mendekati dengan berjalan, Allah akan menjemputnya dengan berlari. Janji ini sepatutnya dijadikan motivasi bagi kita untuk selalu menjaga keluarga kita sebaik-baiknya.
“jangan menghabiskan cinta dan kasih sayang pada masa sebelum menikah.Masih ada perjalanan panjang dalam rumah tangga nanti”.

Aurat: Menjawab Alasan Mereka Yang Tak ingin Menutup Aurat

 akhir-akhir ini, saya sering mendapat pertanyaan yang sama tentang masalah aurat. Bagaimana menjawab Pertayaan mereka yang  ingin menutup aurat? 

Bagaimana hidup mereka memakai jilbab? 

Bagaimana cara memberi pemahaman kepada mereka tentang aurat? 


Di sini saya berusaha mengumpulkan alasan-alasan dan argumen kritik buat si pelaku bedah aurat. Terima kasih kepada sumber tersebut, bisa menjadi untuk jawaban lengkap. 

Dan artikel ini tidak hanya berfokus pada isu bertudung, bahkan juga buat muslimah yang berjilbab pendek, memakai sendat serta kaum muslimin sendiri yang intens aurat.

Insyaallah semoga bermanfaat buat mereka yang mencari-cari jawaban tentang masalah ini. 


1. Meskipun  aurat, diri masih menjaga martabat dan tidak melakukan hal tak senonoh? 

"Janganlah nilai orang dari luarnya. Do not judge a book by its cover! "

"Meskipun tidak pakai jilbab, saya tetap masih jaga shalat dan menjaga perilaku" 

Jawaban: 

Apakah Anda mengklaim diri Anda memiliki hati yang suci, iman yang tinggi dan seharusnya itu.

udah cukup menjamin martabat diri tanpa harus menutup aurat? 

Tapi apakah Anda berani menjamin bahwa semua pria ajnabi yang melihat aurat Anda memiliki hati sesuci dan iman setinggi Anda juga? 

Langsungkah mereka tidak mempengaruhi dan tidak membangkitkan nafsu serakah mereka yang berada di depan Anda? 

Jadi, perlu diberi pemahaman bahwa kewajiban wanita menutup aurat bukanlah semata-mata untuk menjaga maslahat dan martabat pihak wanita itu sendiri, tetapi maslahat yang lebih besar adalah menjaga masyarakat yang berada di sekelilingnya agar tidak terfitnah disebabkan budaya
mengungkapkan aurat. 

Betapa banyak kasus-kasus kejahatan perkosaan dan cabul bersumber dari wanita sendiri yang memamerkan tubuhnya yang telanjang di hadapan khalayak pria. 

Maka tutuplah aurat bukan sekadar untuk Anda, tetapi juga demi kemaslahatan orang lain di sekitar. 



2. Perempuan yang bertudung lebih buruk dari tak berJilbab? 

"Ala ... perempuan pakai jilbab pun berperangai buruk!" 

"Ada juga teman saya yang benar-benar menutup aurat tapi perangai dan perilaku mereka lebih buruk dari perempuan yang tidak memakai Jilbab!" 

"Ada seorang kakak tu pakai Jilbab, tapi perangai buruk, mengumpat sana mengumpat sini" 

"Siapa kata orang tak pakai Jilbab semua jahat?" 

Jawaban: 

Ungkapan Anda ini tampaknya sedang memperlekehkan insan yang sedang berusaha mentaati perintah Allah (dalam bab tutup Aurat). 

Apakah Anda melihat bahwa Anda sudah lebih baik dibandingkan insan yang menutup aurat tersebut ketika Anda berani mengucapkan ungkapan seperti itu, sedangkan Anda sendiri membiarkan aurat Anda terbuka? 

Salah sama sekali dalam urusan agama, untuk kita membandingkan diri kita dengan mereka yang lebih buruk agama dan akhlak. Ini adalah teknik Setan untuk menghentikan seseorang dari melakukan upaya pemulihan diri kepada yang lebih baik.

Nabi bersabda: Dua hal yang siapapun dapat perolehinya akan ditulis dirinya sebagai hamba yang bersyukur dan sabar, orang yang gagal dalamnya, tidak akan ditulis sebagai orang bersyukur dan sabar. Yaitu siapa yang melihat tentang agamanya kepada mereka yang jauh lebih baik darinya, lalu dia berusaha mengikutinya, dan dalam hal keduniaan mereka melihat kepada orang-orang yang kurang darinya sehingga ia memuji Allah atas nikmat yang diperolehnya. (HR At-Tirmidzi) 



3. Tidak ingin hipokrit bila bertudung? 

"Bertudung ini membutuhkan keikhlasan ..." 

"Saya ingin berubah karena saya sendiri yang ingin berubah. Saya ingin melakukannya dengan ikhlas, bukan karena disuruh. "

"Buat apa pakai Jilbab kalau hati tak benar" 

Jawaban: 

Allah swt dan Rasul-Nya telah memerintahkan seluruh wanita muslimah WAJIB untuk menutup aurat tidak peduli apakah seseorang itu ikhlas atau tidak, suka atau tidak, disuruh oleh orang lain atau terbit dari hatinya sendiri. 

Sama seperti mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan dan semua perintah serta larangan Islam yang lain, apakah seseorang itu ikhlas atau tidak, terpaksa atau tidak. 

Jika ikhlas dijadikan alasan maka, banyak diluar sana tidak perlu shalat 5 waktu karena sulit mencapai tingkat keikhlasan yang ingin dicapai. 

Perlu dicatat, jika seseorang menutup aurat secara ikhlas atau parsial ikhlas, maka dia akan mendapat imbalan sekadar keikhlasannya. Namun tanggung jawab fisik yang diwajibkan oleh agama dianggap sudah terlaksana secara lahiriah. 

ATAU kata lainnya, tatkala itu dia hanya BERDOSA SEKALI yaitu karena tidak melaksanakannya secara ikhlas, tetapi dia terhindar dari dosa tidak mengerjakan yang wajib atasnya secara zahir. 

Namun jika dia degil dan tidak menutup aurat, atas alasan TIDAK IKHLAS, TIDAK MAHU HIPOKRIT dan sebagainya, tindakannya itu menjadikannya BERDOSA di sisi Allah secara fisik dan juga spiritual, atau dalam kata lainnya, dia berdosa DUA KALI. 

Dosa di level pertama dan kedua sekaligus, bahkan lebih hancur ketika dosa level pertama itu sangat mudah tumbuh ketika menular kepada orang lain, seperti ketika hanya ada mata pria bukan mahram yang melihat, ketika itu dosa bukan hanya dua kali tetapi sebanyak mata pria yang melihat . 

Adapun bagi mereka yang tidak ikhlas tadi, at least dia sudah selamat dari cambahan dosa dari mata pria. 

4 Menunggu seru untuk berjilbab? 

"Biarlah itu datang dari saya sendiri, bukan dipaksa siapapun. Bila tiba waktu, Insyaallah saya bertudung "

"Saya tahu hari itu akan tiba tapi bukan sekarang" 

"Insyaallah, bila sudah menikah barulah saya bersedia" 

Jawaban: 

Jika bukan sekarang, maka apakah ketika Melihat orangmati baru ingin berubah? Sadarilah wahai diri, bahwa kematian akan datang secara tiba-tiba dan tidak ada jaminan umur masih panjang beberapa minggu lagi. 



"Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang bisa nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, putera-putera pria mereka , atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang 'aurat wanita. Dan jangalah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka.Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. "- Surah an-Nur ayat 31