Blogroll

Friday, 4 July 2014

Kisah Sehelai Daun



Menilai seseorang

Di sebatang pohon kecil, hiduplah beberapa daun yang tumbuh bersama. Diantara daun-daun tersebut terdapat sebuah daun yang sangat besar dan kuat. Daun itu diagung-agungkan karena  kekuatannya. Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lainnya dari badai, hujan, panas matahari yang terik, dan bahaya lainnya.
Suatu ketika datanglah musim kemarau yang panjang. Daun-daun di pohon kecil itu mulai layu karena tidak mendapatkan air dan makanan. Daun besar yang tadinya kuat dan besar mulai terlihat layu. Ia berusaha melindungi daun-daun lain dari matahari yang bersinar sangat terik supaya daun – daun kecil sahabatnya itu tidak kehilangan air lebih banyak lagi.
Hari berganti hari, daun besar itu sudah sampai pada puncak usahanya. Ia mulai berlobang-lobang sehingga sinar matahari mulai menembusnya. Ia mulai kehilangan kekuatannya dan daun-daun lainnya pun sudah mulai mengabaikannya karena ia tidak kuat lagi seperti dulu.
Beberapa hari kemudian daun besar itu merasa tidak kuat lagi akhirnya ia berkata kepada sahabat – sahabatnya :
“Sahabat – sahabat aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melindungi kamu, aku akan gugur. Selamat tinggal”.
Setelah berkata demikian akhirnya daun besar itu pun gugurlah. Musim kemarau terus berlanjutan, daun-daun di pohon kecil itu saling bertahan untuk hidup. Mereka sama sekali sudah melupakan daun besar yang telah berjasa melindungi mereka sehingga mereka dapat bertahan sampai sekarang.
Musim kemarau tidak juga berakhir. Daun-daun di pohon kecil itu sudah mulai kehilangan harapan. Mereka merasa sangat kelaparan, kehausan dan akan mati. Di saat mereka putus asa, tiba tiba dirasakan adanya air dan makanan dari tanah. Mereka semua berharap akan adanya keajaiban itu.
Setelah lama dicari-cari, mereka menyadarinya. Mereka melihat bahwa daun besar itu sudah mereput dan menghasilkan air dan makanan bagi mereka. Akhirnya dengan air dan makanan dari daun besar tadi, daun daun di pohon kecil itu bahagia bertahan sehingga musim hujan datang. Daun-daun di pohon kecil itu sangat menyesal karena telah melupakan daun besar itu. Padahal sampai akhir hayatnya daun besar itu tetap menjadi penyelamat untuk daun-daun lain.

"Janganlah menilai seseorang dengan penampilan dan kekuatannya.
Tuhan memberikan bantuan kepada kita melalui siapa saja
Bahkan melalui orang yang kita anggap telah jatuh dan hina.
Ingatlah rencana Tuhan itu ajaib dan tidak memilih kasih terhadap semua hambanya."

Thursday, 3 July 2014

Luasnya Hati



Kisah seorang pemuda yang sedang tertimpa berbagai masalah, sehingga menjadikannya putus asa. Seharian dia duduk termenung meratapi kesedihannya.Tidak jauh dari situ ada seorang kekek tua yang memerhatikan pemuda yang dalam kesedihan itu.
Dan kakek itu menghampiri pemuda itu dan berkata “anak muda apa yang sedang kamu pikirkan sehingga membuatkan kamu menjadi lemah dalam kesedihan?”
Pemuda itu menjawab “Apa Kakek peduli! Kakek tidak akan mungkin dapat merasakan apa yang saya alami saat ini…!”
Dengan sabar Kakek itu berkata “Nak… memang saya tidak dapat merasakan beratnya beban yang ada dalam hati dan pikiran kamu, tetapi saya hanya ingin menjemput kamu untuk minum bersama di rumah kakek… ayo  nak?”
Tanpa membantah pemuda itu pun mengikuti Kakek tersebut.
Sesampainya di rumah, orang tua itu membawakan segelas kopi panas dan diberikan kepada pemuda tadi “silakan minum..” kata orang tua itu.
Dan tanpa segan silu lagi pemuda itu  meminumnya dan setelah meminum kopi tadi pemuda itu berkata dengan marah “cuah….pahit sekali kopi ini, apa maksud kakek?!”
Orang tua itu hanya tersenyum “sekarang bawa kopi pahit yang kamu minum tadi setelah itu campurlah kopi itu dengan air danau yang ada di belakang rumah kakek ini” perkataan kakek tersebut.
Semakin tidak mengerti pemuda itu tetapi dia menuruti perintah kakek itu.
Kemudian orang tua itu berkata  “sekarang kamu minum air danau itu yang telah kamu campur kopi pahit itu”
“Masih berasa pahitkah air yang kamu minum ?” kata kakek itu lagi.
“tidak …. yang ada hanya rasa tawar” jawab pemuda
Dengan tanda tanya ” apa maksud dari semua ini” kata pemuda itu lagi.
Dengan tersenyum, Kakek itu  memberikan penjelasan:
” Jika hati kita seperti cangkir maka kita tidak akan pernah boleh menerima kenyataan dan masalah  hidup yang datang silah berganti,sebab ukuran cangkir untuk menerima sesuatu itu adalah terbatas. Kadangkala pahit dan kadangkala pula manis.
Akan tetapi kalau mempunyai hati yang luas seperti danau, kita akan selalu menerima kenyataan yang kadangkala pahit dan menyakitkan dengan berlapang dada.. Kepahitan sesuatu masalah tidak akan merusakkan hidup kita..”
Secara teori memang senang untuk menjadikan hati yang luas yang selalu menerima apa adanya tetapi dalam kehidupan yang sebenarnya sangatlah sukar. Walaupun begitu kita perlu berusaha untuk belajar agar diri kita terlatih dalam menghadapi masalah  kehidupan. Semoga kita di beri keluasan hati oleh Allah bukan hati yang sempit seperti cawan, tetapi lebih dari itu. 

Tersenyumlah Apapun Masalahmu



Kesulitan pasti ada menghampiri kehidupan ini karena hidup ini akan selalu teruji.  Kita semua sama, berdepan dengan dugaan yang tersendiri, cuma yang membedakan kita ialah cara kita mendepani.
Ketika hati sudah tidak tertanggung derita dan bibir masih sempat mengukir tawa, alangkah indahnya.  Dia sembunyikan segala rasa untuk dicurahkan kepada Allah satu-satunya.
Karena menampakkan kemuraman wajah di hadapan manusia tidak akan menyelesaikan apa-apa.  Mungkin kita akan memperoleh simpati tetapi selebihnya hanya Allah tahu jalan penyelesaiannya.
Ketika di timpa bencana,senyumlah karena  ujian adalah tanda kasih sayang Allah.  Tidak Allah biarkan manusia yang disayangNya terlena dalam kenikmatan yang melupakan dia untuk mengingatiNya.
Lalu di kirim sedikit ujian supaya manusia itu tersadar dari lena dan kembali padaNya.
Memang benar, coba bandingkan manusia yang dalam kegembiraan dan manusia yang dalam kesakitan/kesedihan,  berapa lama waktu mereka sempat habiskan di atas tikar sajadah?
Kebanyakan manusia terlalu mudah lupa, dan hanya tersentak apabila Allah mengetuk mereka dengan kegundahan dan masalah.
Tersenyumlah dengan setiap permasalah karena masalah adalah jalan untuk kita kembali dalam istikharah dan memohon petunjukNya.  Allah sesekali tidak zalim, senantiasa memberikan peringatan untuk hambaNya.
 Kehidupan adalah tidak bermakna sedikitpun tanpa mengingatiNya.  Kita bernyawa, berdiri, bersuara dan segalanya adalah dengan izinNya.  Bersyukurlah.

Tersenyum dan bersyukurlah,

maka kau tidak akan pernah berasa untuk menuturkan “jikalaulah aku dulu…….”, sadar atau tidak bahwasanya kehidupan ini telah berjalan seiring kehendakNya.
Jika kita berkeluh kesah menyaksikan ujian demi ujian yang sedang merapat, kita akan mudah tersungkur dan meratap.
Karena kita tidak pernah redha dengan apa yang Allah tetapkan sebagai jalan kehidupan yang perlu kita redai.  Maka bersabar dan berserahlah hidup matimu dan  suka dukamu hanya pada Dia yang maha mengetahui.
Tersenyumlah karena kita masih bernyawa dan di beri kesempatan untuk meneruskan perjuangan di jalanNya.  Kita masih ada waktu untuk menyelesaikan segala hutang dan pinjaman yang telah kita lakukan.
Kita masih ada masa untuk bertaubat di setiap kesilapan.
Kita masih mampu bersyukur dengan setiap pemberian.  Bandingkan kita dengan mereka yang telah terbaring kaku jasadnya di tanah, mereka sudah tidak mampu berbuat apa-apa.
Apakah  kita masih tidak mengambil iktibar? Kita masih boleh lagi menambah amalan dan ketaqwaan kepada Allah dan menyempurnakan bekalan kita di alam sana.  Tatkala roh dipanggil dan diangkat pergi, menyesal ketika itu sudah tidak berarti!
Dan paling penting, anda terlalu bertuah maka tersenyumlah karena kita terpilih sebagai seorang MUSLIM.  Kita ada Allah yang senantiasa bersama di setiap langkah kita.  Di setiap hari, kita kan berjumpa-Nya dalam solat.  Allah izinkan kita meminta pada-Nya setiap apa yang kita perlu.
Allah mendamaikan hati kita yang keresahan apabila kita bersama-Nya.  Allah maha mengampunkan segala dosa yang telah kita perbuat apabila kita bertaubat.
Allah menjanjikan kita nikmat-nikmat yang tidak terhitung apabila kita bertaqwa.  Allah sediakan ganjaran bagi mereka yang sabar.  Allah mengaturkan kehidupan kita dengan sempurna dan segala yang ditetapkan adalah untuk kebaikan hamba-Nya.
Ya Allah, terlalu beruntungnya kami.
Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata , “ Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku.”
Tersenyumlah sentiasa, ia tidak menyakitkan malah ia pengobat hati yang sakit.  Bukannya berarti senyum itu karena dia tidak punya masalah dalam kehidupannya, tetapi menunjukkan hatinya reda dengan setiap takdirnya.
Wallahualam. ~Hanya Allah mengetahui segala sesuatu kejadian~

MASALAH ITU MANIS

Ketika kita ditimpa sebuah kesusahan, berarti Allah mau kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini. Ketika kita ditimpa musibah, berarti Allah ingin agar kita mendekat kepadanya.
Ketika kita ditimpa kesusahan, berarti Allah telah menyediakan untuk kita kemudahan.
Karena sesungguhnya dibalik permasalahan ada proses pendewasaan, dibalik musibah ada hikmah, dibalik kesusahan ada kemudahan.
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”( QS. al-Insyirah: 5-6)

Ketika permasalahan datang menghampiri

Jangan mengeluh dihadapan sang pencipta, jangan memberontak akan keputusannya apalagi dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil.
Namun, mintalah agar kita diberi kesabaran serta ketabahan dalam menghadapinya, diberikan penyelesaian  yang terbaik bagi kita, dan selalu mengharap dia memberikan ganjaran pahala untuk kita.
Tanpa malam, bulan purnama takkan indah. Tanpa lapar, nikmat makanan takkan terasa. Tanpa dahaga sejuknya air takkan memberi banyak makna.
Begitu juga kemenangan atau kemudahan takkan banyak memberi arti tanpa didahului rintangan dan kesusahan. Setelah mendung terbitlah cerah.
Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnah-Nya. Yang kita perlukan hanya dada yang lapang dalam menghadapinya.
Jika ketabahan yang kita bina, nikmat akan terasa. Jika keluhan yang senantiasa kita bina sengsara akan selalu bertambah.
Permasalahan datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci atau dimaki. Musibah adalah medium dalam proses pendewasaan. Tanpa permasalahan kita takkan pernah dewasa.
Tanpa kesusahan kita takkan menjadi orang yang luar biasa.
”Jalan yang lurus dan rata takkan pernah menghasilkan pemandu yang hebat. Laut yang tenang takkan pernah menghasilkan pelaut yang cekap. Langit yang cerah takkan pernah menghasilkan juru terbang yang handal.”
Di saat kita mencari solusi dalam suatu permasalahan, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan bermula.
Maka, senyumlah mereka yang memiliki masalah dan mampu mengatasi permasalahan tersebut dengan bijak, yaitu dengan tetap selalu bergantung kepada keputusan Allah yang maha adil setelah tawakal dilakukan.

Mari bersama kita menakluki masalah!

BERSIHKAN Hati Bermula dari Ramadhan ini


Mulianya seseorang tidak dilihat dari penampilan luarannya, melainkan dari hatinya. ‘‘Sesungguhnya, Allah tidak melihat rupa dan harta-harta kamu, tetapi melihat hati dan perbuatanmu.” (HR Muslim).
Dalam riwayat lain, Ali bin Abi Thalib r a menceritakan bahwa Rasulullah bersabda,”Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, kerana hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awan itu berlalu, ia pun kembali bersinar.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bersih hati
Hadis ini memberikan gambaran yang sangat indah. Hati manusia sebenarnya bersih atau bersinar, namun kerap ditutupi oleh awan kemaksiatan hingga sinarnya menjadi tidak nampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita.
Bersempena dengan Ramadhan kali ini, marilah kita ambil peluang untuk membersihkan hati kita.
Bagaimana caranya?

Pertama, Muhasabah diri.
Muhasabah diri dalam bahasa Arab disebut muhasabatun nafsi, artinya mengenal pasti apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.
”Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Alhasyr [59]: 18).
Kedua, perbaiki diri atau  bertaubat.
Ini merupakan tindakan lanjut dari muhasabah diri. ”Hai, orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar- benarnya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ….” (QS Attahrim [66]: 8).
Ketiga, Taddabur Al Quran.
Menelaah isi Al-Quran lalu menghayati dan mengamalkannya. ”Maka, apakah mereka tidak memerhatikan AlQuran ataukah hati mereka terkunci?” (QS Muhammad [47]: 24).
Keempat, menjaga kelangsungan amal soleh.
Amal soleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diredhai Allah SWT.  Amalan walaupun sedikit tetapi berterusan, adalah lebih disukai oleh Allah
Kelima, berzikir 
Sentiasa mengisi waktu dengan berzikir. Mulut yang sentiasa basah dengan zikir kepada Allah. Rasulullah SAW telah bersabda: pada hari kiamat orang yang paling beruntung mendapat syafaatku ialah orang yang banyak membaca kalimah ‘Laailaha illallah’dengan hatinya dan jiwanya iaitu dengan hati yang ikhlas.
Tuntunan Islam, jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, akan menghadirkan hatiyang tenteram, bersih, serta bersinar terang.
Ibnu Abbas r a menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah Sallallhu ‘alaihi Wasallam, ia pernah mendengar beliau mengucapkan doa berikut : ”Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (HR Muslim).
Itu adalah perkara-perkara basic. Asas dalam menjaga kesihatan jiwa dan menghidupkan hati. Dalam apa jua peringkat umur, perkara-perkara inilah yang perlu diperhati. Semoga amalan ini berpanjangan, walaupun selepas bulan Ramadhan

AIR MATA UNTUK TUHAN




Ketika Tuhan berharap untuk menolong
Dia membiarkan kita bersimbah air mata:
Namun air mata untuk-Nya membawa kebahagiaan,
dan menghasilkan tawa.
Siapa yang mengharapkannya adalah hamba Tuhan.
Kemanapun air mengalir,
kehidupan menghijau:
Kemana air mata jatuh,
keagungan Ilahi dipersaksikan.

Arti Sebuah Kehidupan

Awan sedikit mendung, ketika kaki  kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalan melalui kawasan berlampu merah. Baju merahnya yang labuh melambai-lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang eskrim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk digigit, sementara tangan kirinya memegang tangan ayahnya.
Yani dan ayahnya memasuki kawasan perkuburan, belok ke kanan & kemudian duduk Di depan sebuah nisan.“Yani, ini kubur nenek yani. Mari kita berdo’a untuk nenek”Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Dia mendengar ayahnya berdoa untuk neneknya…
Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.” Ayahnya mengangguk sambil tersenyum, sambil memandang pusara Ibu-nya.
“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah….” Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya mengiru.
“Ya, nenek yani sudah di dalam kubur 42 tahun … “
Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak lagi kubur disekitar itu .. Disebelah kubur neneknya, ada kubur tua berlumut “1882 : 1910″
“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya.
Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya mengusap kepala satu-satunya anaknya itu.
“Hmm.. kenapa sayang?” kata ayah sambil menatap  mata anaknya.
“Hmmm, ayah kan semalam ngomong kalau kita mati, nanti di kubur dan kita banyak dosa, kita akan disiksa” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya.
“betul kan yah?
 Ayahnya tersenyum, “A’ah.. tapi kenapa?”
“hmm … Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun kan ayah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur …. betul tak yah?” mata Yani bersinar karena dapat menjelaskan kepada ayahnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, nampak seperti cemas ….. “Ya nak, bijak betul yani,” kata ayahnya ringkas.

Pulang dari kubur, ayah Yani nampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa.. atau bahagia dikubur ….
Dia menunduk … Menetiskan air mata…
Kalau dia meninggal dan banyak dosanya, dan kiamat masih 1000 tahun lagi berarti dia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un ….
Air matanya semakin banyak menetis, sanggupkah dia selama itu disiksa?   kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu dia akan disiksa di kubur. Dan setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah?  
Ya Allah… Dia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri janggutnya
Allahumma as aluka khusnul khootimah..
berulang kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak … Dan dia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.
 Dihampirinya Yani yang tertidur di atas sofa. Dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang ayah sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan… Dan apa yang akan datang di depannya…
“Ya Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”